- Nangis kalau ditinggal.
- Gigit, pukul, lempar barang.
- Maunya nempel terus.
- Tantrum karena hal sepele.
Bukan Berlebihan, Ini Perilaku Normal Anak Berdasarkan Usianya

- Banyak perilaku anak menandakan perkembangan yang normal sesuai tahap usia.
- Memahami alasan di balik perilaku anak membantu orang tua merespons dengan lebih tenang.
- Peran orang tua menemani dengan batas yang sehat dan kehadiran yang konsisten.
Sebelum Mama berpikir si Kecil terlalu berlebihan, terlalu manja, terlalu melawan, atau terlalu sulit diatur, ada satu hal penting yang perlu diingat, banyak perilaku anak sebenarnya adalah perilaku normal sesuai usianya.
Memahami perilaku anak berdasarkan usia bisa membantu kita lebih tenang, lebih empatik, dan tidak buru-buru memberi label negatif. Jadi, bukan berlebihan, ini perilaku normal anak berdasarkan usianya yang Popmama.com bagikan selengkapnya!
1. Usia 0-2 tahun

Biasanya terjadi:
Hal-hal tersebut wajar terjadi karena mereka sedang belum memiliki kemampuan mengatur emosi. Maka, hal yang bisa dilakukan adalah menangis dan berteriak.
Orangtua bisa membantu dengan tetap tenang, dekat, dan konsisten. Bantu ia melabeli emosinya serta bantu penuhi kebutuhannya.
2. Usia 3-5 tahun

Biasanya terjadi:
- Semua dijawab "nggak".
- Drama kalau rutinitas berubah.
- Mulai bossy.
- Reaksi besar buat hal kecil.
Pada fase ini, mereka sedang belajar tentang kontrol diri dan identitas diri, sementara imajinasi mereka berkembang lebih cepat dibanding kemampuan mengatur emosi.
Orangtua bisa memvalidasi perasaan mereka sebelum memberi arahan, memberi pilihan terbatas agar mereka merasa punya kendali, dan menjaga rutinitas agar anak merasa aman.
3. Usia 6-9 Tahun

Biasanya terjadi:
- Mulai suka membantah
- Emosi yang naik-turun
- Suka pamer dan cari perhatian
- Sensitif soal keadilan
Di umur ini, mereka sedang belajar aturan sosial, pertemanan, dan konsep adil atau tidak adil. otak mereka butuh rasa diterima, meski belum sepenuhnya bisa memahami situasi dengan matang.
Maka, beri contoh sikap yang baik, menggunakan humor, tetap empatik, mengakui perasaan mereka, dan membantu mereka belajar menyelesaikan masalah secara perlahan.
4. Usia 10-12 Tahun

Biasanya terjadi:
- Memutar mata, menentang, bertanya balik
- Butuh privasi
- Cepat malu
- Mood naik turun
Perilaku ini wajar karena perubahan hormon mulai terjadi, peran teman semakin penting, dan mereka sedang mencari jati diri. ini bukan tanda menolak orang tua, melainkan proses menuju kemandirian.
Hormati privasi mereka sambil tetap hadir, mengajak ngobrol dengan santai, dan menghindari reaksi yang terlalu meledak-ledak.
5. Usia 13–16 tahun

Biasanya terjadi:
- Remaja mulai mengetes batasan diri
- Ingin serba sendiri dan menyimpan banyak rahasia
- Lebih memprioritaskan teman, dan sering mempertanyakan atau menentang aturan.
Bagi remaja, ini wajar karena otak mereka sedang mengalami banyak perubahan. mereka butuh tantangan, rasa bebas, dan sedang belajar mengambil keputusan sendiri.
Maka yang bisa Mama dan Papalakukan adalah memberi batas yang jelas namun tetap hangat, memperbanyak mendengarkan dibanding ceramah, dan menjaga komunikasi tetap terbuka.
6. Usia 17-20 tahun

Biasanya terjadi:
- Anak ingin mandiri
- Terkadang impulsif
- Sulit menerima nasihat, dan
- Masih belajar bertanggung jawab.
Hini wajar karena mereka berada di fase setengah anak, setengah dewasa. bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan belum sepenuhnya matang.
Maka yang bisa dilakukan adalah menjadi teman diskusi, bukan pengendali, mendukung proses mereka, dan memberi nasihat saat diminta.
7. Usia 20–25 tahun

Biasanya terjadi:
- Anak mulai membuat batas dengan keluarga
- Mengambil pilihan hidup sendiri
- Terkadang butuh jarak, dan dinamika hubungan keluarga mulai berubah.
Mereka sedang membangun identitas dan kehidupan sendiri. bukan berarti menjauh dari cinta, melainkan memperluasnya. Hormati pilihan mereka, tetap terbuka, tidak posesif, dan menjadi rumah yang selalu bisa mereka datangi.
Pada akhirnya, memahami tahap perkembangan anak bukan untuk membenarkan semua perilaku, tapi untuk membantu kita merespons dengan lebih bijak. Jadi, bukan berlebihan, ini perilaku normal anak berdasarkan usianya


















