Niatnya Mengajarkan Anak untuk Kuat, Tapi Anak Malah Kurang Ajar?

Didikan untuk melawan siapa pun, membalas berlebihan, atau tampil paling kuat dapat membuat anak agresif, defensif, membangkang, hingga mengintimidasi teman.
Anak perlu memahami bahwa keberanian berarti membela diri secara sopan, mengendalikan emosi, serta menggunakan kekuatan untuk melindungi, bukan mendominasi atau menyakiti.
Orangtua dianjurkan mengajarkan anak meminta maaf dan menerima teguran dengan tenang agar tumbuh tangguh, empatik, bertanggung jawab, serta tetap menghormati orang lain.
Mama dan Papa yang punya si Kecil maupun si Anak terkadang merasa bingung gak sih mengajarkan mereka untuk kuat dalam menghadapi sesuatu?
Setiap orangtua pasti punya impian besar agar si Kecil tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tangguh, dan tidak mudah diintimidasi oleh orang lain di luar sana.
Namun, pernahkah Mama dan Papa berpikir apakah ajaran yang diberikan selama ini sudah ditangkap dengan benar oleh mereka?
Terkadang si Kecil justru menyalah artikan perilaku membela dirinya dengan sikap yang tidak sopan.
Alih-alih memiliki anak yang mandiri dan berani, kita justru mendapati si Kecil tumbuh menjadi anak yang cenderung agresif, menentang, dan bersikap kasar kepada orang lain.
Ma, sikap tidak sopan anak tidak muncul begitu saja, lho. Anak adalah pencermin lihai atas sikap dan perilaku di sekitarnya.
Jadi, yuk kenali lebih dekat apa saja kebiasaan atau didikan yang keliru, padahal niatnya mengajarkan anak untuk kuat, tapi anak malah kurang ajar.
Simak penjelasan dan tipsnya di Popmama.com ya Ma, Pa! Agar si Kecil tumbuh jadi pribadi yang kuat tetapi sopan.
1. Kesalahan dalam mengajarkan anak untuk melawan kepada siapapun

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Ma, jika anak diajarkan untuk melawan kepada siapapun, ia akan memiliki sikap tidak sopan dan kurang ajar ke orang-orang di sekitarnya, bahkan ke orangtuanya.
Kalimat atau pesan ini sering disalahartikan oleh anak untuk menjadi penentang secara frontal.
Misalnya saat guru meminta mereka duduk di tempat, anak justru merespons dengan ketus, "Ibu guru kan bukan Mamaku!"
Ketika si Kecil dibebaskan untuk melawan siapa saja, mereka kehilangan batas etika dasar dalam menghormati guru atau orang dewasa di sekitarnya.
Akibatnya, anak bukannya menjadi berani, ia justru membangkang.
Mama atau Papa bisa memberikan kalimat pengertian seperti, “Mama ingin adik berani jujur, membela diri, dan melawan jika ada yang berbuat salah, tapi tetap dengan cara yang sopan dan santun ya!”
2. Kesalahan dalam menanamkan prinsip untuk membalas orang 2 kali lipat

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Kalimat atau pesan "Membalas orang lain 2 kali lipat" justru membuat anak memiliki rasa ‘dendam’ kepada siapapun yang berbeda pendapat atau melawannya.
Ketika anak diajarkan untuk tidak mau kalah secara verbal, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang defensif, Ma.
Contohnya ketika ditegur temannya karena ia mudah marah, si Kecil malah menyerang balik dengan kalimat, “Yah, kamu sendiri sih nyebelin!”
Dorongan untuk selalu menang dalam argumen verbal membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang defensif dan sinis.
Anak akan mengira setiap interaksi adalah arena pertempuran yang harus dimenangkan dengan kata-kata tajam.
Mama dan Papa bisa memberikan pesan atau kalimat seperti ini, "Kalau ada teman yang berkata tidak baik atau menasehati kamu, maka kamu tidak perlu membalas dengan ejekan atau marah ya. Cukup dengarkan perkataan dari teman kamu, ya. Kalau kamu bingung apa artinya, kamu bisa cerita ke Mama atau Papa, orang dewasa yang kamu percaya.”
3. Kesalahan dalam meminta anak untuk menunjukkan dirinya paling kuat

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Didikan yang berfokus pada dominasi fisik atau kuasa sering membuat anak mengintimidasi sesama temannya, Ma.
Misalnya saat berebut mainan, mereka tak segan mendorong atau berteriak, “Pindah! Ini tempatku!”
Didikan yang terlalu mengedepankan kekuatan fisik dan dominasi membuat si Kecil rentan menjadi pelaku bullying di sekolahnya.
Mereka akan mengira bahwa menyakiti atau mendominasi fisik orang lain adalah bukti dari ketangguhan diri.
Mama dan Papa dapat memberikan kalimat pengertian seperti, “Kekuatan sejati itu ada pada kemampuan kita untuk mengendalikan emosi dan melindungi teman yang lemah, bukan dengan bersikap kasar atau sok berkuasa.”
4. Kesalahan karena tidak mengajarkan anak untuk meminta maaf

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Mengajarkan anak agar tidak merasa rendah diri terkadang justru membuat anak memiliki sikap egois.
Misalnya, saat si Kecil memecahkan mainan temannya, ia justru cuek dan berkata, “Yasudah, kan bisa beli yang baru.”
Rasa gengsi yang dipelihara sejak dini membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang egois dan anti-kritik, Ma.
si Kecil akan merasa jika ia meminta maaf adalah bentuk kelemahan, padahal itu adalah wujud tanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat.
Mama dan Papa dapat memberikan pengertian dengan kalimat, “Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf dengan tulus adalah tanda bahwa kamu adalah anak yang hebat, dewasa, dan berjiwa besar, lho!”
5. Kesalahan mengajarkan anak untuk kesal jika ada yang membicarakannya

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Pemahaman yang salah membuat anak menganggap setiap komentar atau masukan biasa sebagai sebuah serangan pribadi, lho.
Akibatnya, si Kecil selalu merespons setiap teguran dengan kemarahan dan agresi yang berlebihan.
Ketika anak dibesarkan dengan pemikiran bahwa diri mereka tidak boleh di kritik sedikit pun, mental mereka justru menjadi sangat rapuh.
Anak tidak akan menjadi pribadi yang tangguh, mereka justru mudah merasa terancam dan menganggap setiap masukan sebagai bentuk permusuhan yang harus dilawan.
Untuk mengatasinya, Mama dan Papa dapat memberikan pengertian menggunakan kalimat berikut, “Mama paham kalau teguran atau komentar orang lain terkadang terasa menyebalkan dan menyentuh hati, tapi yuk kita dengarkan dulu dengan tenang. Kalau itu masukan yang baik untuk kebaikan kamu, mari kita coba ambil sisi positifnya bersama-sama ya.”
Menyadari hal ini tentu membuat orangtua harus lebih berhati-hati dalam memilih kata dan cara mendidik si Kecil di rumah.
Karena kebiasaan atau didikan yang keliru, justru merubah niatnya mengajarkan anak untuk kuat, tapi anak malah kurang ajar.
Ketegasan dan kekuatan mental pada anak bisa diajarkan dengan cara yang tetap santun, penuh empati, serta dilandasi oleh kecerdasan emosional yang baik dari Mama dan Papa.
Dengan komunikasi yang hangat dan tepat, si Kecil pasti bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tangguh, namun tetap memiliki hati yang lembut serta menjunjung tinggi sopan santun kepada sesama.






















