Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Penyebab Kenapa Anak Susah Tidur Siang?
Pexels/cottonbro studio
  • Pentingnya tidur siang bagi anak untuk memulihkan energi, mendukung perkembangan otak, dan menjaga suasana hati tetap stabil selama masa tumbuh kembang.

  • Ada tujuh penyebab utama anak sulit tidur siang meliputi jadwal tidur tidak konsisten, aktivitas berlebihan sebelum tidur, lingkungan kurang nyaman, fase perkembangan, hingga faktor kesehatan tertentu.

  • Menekankan pentingnya rutinitas tidur yang konsisten, suasana kamar tenang dan nyaman, serta perhatian pada kondisi fisik dan emosional anak agar kualitas tidurnya tetap optimal.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tidur siang merupakan salah satu kebutuhan penting bagi anak, terutama pada usia 1-3 tahun. Waktu istirahat di siang hari membantu tubuh memulihkan energi, mendukung perkembangan otak, memperkuat daya ingat, serta menjaga suasana hati anak tetap stabil.

Tak heran jika banyak orangtua berusaha membiasakan anak tidur siang secara rutin.

Namun, tidak semua anak mudah diajak tidur siang. Ada yang justru memilih terus bermain meski terlihat lelah, ada pula yang baru terlelap setelah waktu tidur siang hampir berakhir. Kondisi ini sering membuat Mama bertanya-tanya, apakah anak memang tidak membutuhkan tidur siang lagi atau ada penyebab lain yang membuatnya sulit beristirahat.

Sebenarnya, anak susah tidur siang bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari jadwal tidur yang kurang teratur, lingkungan yang kurang nyaman, hingga fase perkembangan yang sedang dialami. Dalam beberapa kasus, kondisi kesehatan tertentu juga dapat membuat anak lebih sulit tertidur.

Memahami penyebabnya dapat membantu Mama menentukan cara yang tepat untuk mengatasinya. Dengan begitu, anak tetap bisa mendapatkan waktu istirahat yang cukup sesuai dengan kebutuhannya.

Yuk, pahami penyebab kenapa anak susah tidur siang dan ini dia beberapa penyebab yang telah dirangkum Popmama.com!

1. Jadwal tidur yang tidak konsisten

Pexels/Mikhail Nilov

Salah satu penyebab paling umum anak susah tidur siang adalah jadwal tidur yang berubah-ubah setiap hari. Misalnya, anak tidur siang pukul 12.00 pada hari Senin, tetapi baru tidur pukul 15.00 keesokan harinya. Ketidakteraturan ini membuat jam biologis atau ritme sirkadian anak menjadi sulit mengenali kapan waktunya beristirahat.

Studi pada Sleep Medicine (2023) menunjukkan bahwa rutinitas tidur yang tidak teratur dapat membuat pola tidur anak menjadi lebih tidak stabil, termasuk kesulitan untuk tidur siang di jam yang sama.

Selain waktu tidur siang, jadwal tidur malam juga berpengaruh. Anak yang tidur terlalu larut atau bangun terlalu siang biasanya akan mengalami perubahan pola tidur pada siang hari. Hal ini membuat waktu tidur siangnya semakin sulit diprediksi.

Mama dapat membantu membentuk kebiasaan tidur dengan menetapkan jam tidur dan bangun yang sama setiap hari, termasuk saat akhir pekan.

Rutinitas sederhana seperti membaca buku, mematikan lampu kamar, atau memeluk anak sebelum tidur juga dapat menjadi sinyal bahwa sudah waktunya beristirahat. Jika dilakukan secara konsisten, tubuh anak akan lebih mudah mengenali waktu tidur sehingga proses tidur siang pun menjadi lebih lancar.

2. Anak terlalu aktif sebelum waktu tidur

Pexels/Mohammad Umair

Banyak orangtua mengira anak yang sangat lelah akan lebih mudah tertidur. Padahal, anak yang terlalu aktif menjelang waktu tidur justru bisa mengalami kesulitan untuk mengantuk. Aktivitas seperti berlari, melompat, bermain kejar-kejaran, atau menonton video dengan suara keras membuat otak tetap berada dalam kondisi siaga.

Stimulasi berlebihan ini membuat sistem saraf tetap berada dalam kondisi siaga, sehingga tubuh belum siap beralih ke mode istirahat. Dampaknya, meskipun sudah waktunya tidur, anak masih merasa ingin bermain.

Penelitian dalam Sleep Health Journal (2016) juga menegaskan bahwa aktivitas yang terlalu menstimulasi sebelum tidur dapat menurunkan kemampuan anak untuk masuk ke fase relaksasi.

Penggunaan gadget sebelum tidur juga dapat memperburuk keadaan. Cahaya biru dari layar dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berperan dalam menimbulkan rasa kantuk. Selain itu, permainan atau tayangan yang menarik membuat anak semakin sulit melepaskan perhatian dari layar.

Agar anak lebih mudah tidur siang, cobalah mengurangi aktivitas yang terlalu menstimulasi si Kecil, sekitar 30 hingga 60 menit sebelum waktu tidur.

Mama bisa menggantinya dengan kegiatan yang lebih tenang, seperti membaca buku cerita, mendengarkan musik lembut, atau mengajak anak ngobrol santai. Suasana yang tenang akan membantu tubuh dan pikiran anak bertransisi menuju waktu istirahat.

3. Lingkungan tidur kurang nyaman

Pexels/RDNE Stock project

Lingkungan tidur memiliki pengaruh besar terhadap kualitas tidur anak. Meski terlihat sepele, kamar yang terlalu terang, bising, atau terasa panas dapat membuat anak sulit tertidur di siang hari. Berbeda dengan malam hari, tidur siang memang memiliki lebih banyak gangguan dari lingkungan sekitar.

Misalnya, suara kendaraan di luar rumah, televisi yang masih menyala, atau anggota keluarga yang sedang beraktivitas dapat mengalihkan perhatian anak. Begitu pula dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela.

Paparan cahaya yang terlalu terang memberi sinyal kepada otak bahwa hari masih berlangsung sehingga tubuh tidak merasa perlu untuk beristirahat.

Suhu ruangan juga tidak kalah penting. Kamar yang terlalu panas atau terlalu dingin dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan sering terbangun. Selain itu, pakaian yang terlalu tebal atau selimut yang kurang sesuai juga bisa mengganggu kualitas tidurnya.

Mama dapat menciptakan suasana tidur yang lebih nyaman dengan meredupkan lampu atau menutup tirai agar cahaya tidak terlalu masuk. Usahakan ruangan tetap tenang dan memiliki suhu yang sejuk.

Jika memungkinkan, gunakan suara lembut seperti musik instrumental yang menenangkan. Lingkungan tidur yang nyaman akan membantu anak lebih cepat terlelap sekaligus membuat waktu tidurnya menjadi lebih berkualitas.

4. Anak sedang mengalami fase perkembangan

Pexels/kaboompics.com

Tidak sedikit orangtua yang merasa bingung ketika anak yang sebelumnya mudah tidur siang tiba-tiba menjadi sulit diajak beristirahat. Salah satu penyebabnya adalah anak sedang memasuki fase perkembangan atau developmental milestone. Pada masa ini, otak anak berkembang sangat pesat sehingga ia lebih tertarik mengeksplorasi kemampuan barunya daripada tidur.

Misalnya, saat anak baru belajar berjalan, berbicara, memanjat, atau menyusun kalimat sederhana, rasa ingin tahunya akan meningkat. Ia cenderung ingin terus mencoba keterampilan tersebut sepanjang hari. Akibatnya, waktu tidur siang sering dianggap mengganggu aktivitas yang sedang membuatnya bersemangat. Selain perkembangan fisik dan kognitif, perubahan emosi juga dapat memengaruhi pola tidur.

Perubahan perkembangan kognitif dan emosional memang dapat memengaruhi pola tidur anak secara sementara, termasuk menurunkan kebutuhan tidur siang (Sleep Medicine, 2023).

Fase ini sebenarnya merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang. Yang terpenting, Mama tetap mempertahankan rutinitas tidur yang konsisten tanpa memaksa anak.

Berikan waktu bagi anak untuk menenangkan diri sebelum tidur dan pastikan ia tetap mendapatkan waktu istirahat yang cukup dalam satu hari. Seiring berjalannya waktu, pola tidurnya biasanya akan kembali lebih teratur setelah fase perkembangan tersebut berlalu.

5. Anak sudah tidak terlalu membutuhkan tidur siang

Pexels/Tanya Gorelova

Jika saat masih bayi anak membutuhkan beberapa kali tidur siang dalam sehari, memasuki usia balita hingga prasekolah durasi dan frekuensinya mulai berkurang. Bahkan, sebagian anak berusia sekitar 3–5 tahun perlahan mulai tidak lagi membutuhkan tidur siang setiap hari.

Kondisi ini sering membuat orang tua mengira ada masalah pada pola tidur anak. Padahal, bisa saja anak memang sedang berada dalam tahap perkembangan yang normal.

Selama kebutuhan tidur totalnya dalam 24 jam tetap terpenuhi, anak tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Meski begitu, Mama juga perlu memperhatikan tanda apakah anak benar-benar sudah siap melewati waktu tidur siang. Jika anak tetap ceria, aktif, mudah berkonsentrasi, dan tidak mudah rewel hingga malam hari, kemungkinan ia memang tidak lagi membutuhkan tidur siang.

Namun, apabila anak terlihat mengantuk di sore hari, mudah marah, atau tertidur di perjalanan pulang, bisa jadi ia masih memerlukan waktu istirahat di siang hari. Perubahan ini berkaitan dengan pematangan sistem tidur dan otak anak yang terus berkembang (Sleep Medicine Reviews, 2019).

Daripada memaksa anak untuk tidur, Mama dapat mengganti waktu tidur siang dengan quiet time atau waktu tenang. Ajak anak membaca buku, mendengarkan dongeng, menggambar, atau bermain dengan aktivitas yang tidak terlalu menguras energi.

Setiap anak memiliki kebutuhan tidur yang berbeda. Oleh karena itu, penting bagi Mama untuk memperhatikan pola tidur dan kondisi anak secara keseluruhan, bukan hanya berpatokan pada usia.

6. Anak terlalu lapar atau justru kekenyangan

Pexels/Werner Pfennig

Asupan makanan juga dapat memengaruhi kualitas tidur siang anak. Perut yang terlalu lapar maupun terlalu kenyang sama-sama dapat membuat anak sulit beristirahat. Sayangnya, kondisi ini sering kali tidak disadari oleh orangtua.

Saat anak merasa lapar, tubuh akan memberikan sinyal agar ia tetap terjaga untuk mencari makanan. Akibatnya, anak menjadi gelisah, lebih mudah rewel, dan sulit memejamkan mata. Jika anak baru saja mengonsumsi makanan dalam jumlah besar, perut yang terasa penuh bisa membuatnya tidak nyaman ketika berbaring. Proses pencernaan yang sedang bekerja juga dapat membuat tubuh terasa kurang rileks.

Selain itu, makanan tinggi gula dapat memberikan lonjakan energi sementara yang membuat anak jadi lebih aktif sebelum tidur (Sleep Health Journal, 2016).

Mama sebaiknya mengatur jadwal makan dan camilan agar tidak terlalu dekat dengan waktu tidur siang. Berikan makanan bergizi dengan porsi yang sesuai, kemudian beri jeda sekitar 30 hingga 60 menit sebelum anak tidur.

Dengan pola makan yang lebih teratur, tubuh anak akan lebih nyaman sehingga proses tidur siang pun menjadi lebih mudah dan berkualitas.

7. Ada kondisi kesehatan yang mengganggu tidur

Pexels/MART PRODUCTION

Jika berbagai cara sudah dilakukan tetapi anak tetap sulit tidur siang dalam waktu yang cukup lama, Mama perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya kondisi kesehatan tertentu. Beberapa gangguan kesehatan dapat membuat anak kesulitan untuk tidur, meski sebenarnya tubuhnya sudah merasa lelah.

Misalnya, hidung tersumbat akibat flu atau alergi dapat membuat anak sulit bernapas saat berbaring. Kondisi seperti infeksi telinga, tumbuh gigi, sakit perut, atau sembelit juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga anak menjadi lebih rewel ketika hendak tidur.

Dalam beberapa kasus, kondisi kesehatan tertentu dapat mengganggu ritme tidur dan menurunkan kualitas tidur anak secara signifikan (Scientific Reports, 2016).

Selain keluhan fisik, kondisi emosional juga bisa menjadi penyebab. Anak yang sedang merasa cemas, takut, atau mengalami perubahan besar dalam kehidupannya, seperti mulai sekolah atau memiliki adik baru, mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menenangkan diri sebelum tidur.

Mama sebaiknya memperhatikan apakah anak menunjukkan gejala lain, seperti:

  • mendengkur keras setiap malam,

  • sering terbangun,

  • sulit bernapas saat tidur,

  • mengalami penurunan nafsu makan,

  • tampak sangat mengantuk pada siang hari.

Jika keluhan tersebut berlangsung terus-menerus atau mengganggu aktivitas, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak.

Hal terpenting adalah mengenali penyebabnya terlebih dahulu sebelum mencari solusi. Hindari memaksa anak untuk tidur karena hal tersebut justru dapat membuatnya semakin sulit beristirahat.

Itulah rangkuman mengenai penyebab kenapa anak susah tidur siang. Semoga membantu ya, Ma!

Editorial Team

Related Article