Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Cara Melatih Critical Thinking Anak Tanpa Membuatnya Tertekan

5 Cara Melatih Critical Thinking Anak Tanpa Membuatnya Tertekan
Pexels/Ketut Subiyanto
Intinya Sih
  • Melatih critical thinking anak sebaiknya dilakukan lewat diskusi santai dan pengalaman sehari-hari agar mereka memahami alasan di balik tindakan tanpa merasa ditekan.
  • Orangtua disarankan membuka ruang dialog, memperhatikan perubahan perilaku, serta menggunakan permainan atau boneka untuk membantu anak mengekspresikan perasaan dan pendapatnya.
  • Membangun rasa aman menjadi kunci agar anak berani bercerita, memahami batasan diri, serta tumbuh dengan kemampuan berpikir kritis yang alami dan percaya diri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Melatih kemampuan berpikir kritis pada anak ternyata tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku atau terasa seperti interogasi. Justru, anak akan lebih mudah belajar ketika orangtua mengajaknya berdiskusi secara santai dan dekat dengan pengalaman sehari-hari mereka.

Kemampuan critical thinking penting diasah sejak dini agar anak terbiasa memahami alasan di balik suatu tindakan, berani mengungkapkan pendapat, hingga mampu mengenali situasi yang membuatnya tidak nyaman. 

Dengan komunikasi yang hangat, anak pun akan merasa aman untuk bercerita kepada orangtua. Berikut Popmama.com siap membahas lebih lanjut mengenai cara melatih critical thinking anak tanpa membuatnya tertekan berdasarkan penjelasan Psikolog Klinis. 

Table of Content

1. Ajak anak di bawah 7 tahun untuk memahami sesuatu lewat pengalaman pribadinya

1. Ajak anak di bawah 7 tahun untuk memahami sesuatu lewat pengalaman pribadinya

Popmama.com/David Andrew
Popmama.com/David Andrew

Pada usia di bawah 7 tahun, anak umumnya masih belajar melalui pengalaman konkret yang mereka alami sendiri. Karena itu, orangtua bisa mulai mengajak anak berpikir dari hal-hal sederhana yang dekat dengan keseharian mereka.

Misalnya saat mengajak anak tidur siang, hindari langsung memerintah tanpa penjelasan. Cobalah bertanya tentang perasaannya setelah bangun tidur siang, apakah tubuhnya terasa lebih segar atau mood-nya menjadi lebih baik. 

Dari situ, anak akan belajar memahami manfaat suatu kebiasaan melalui pengalaman yang ia rasakan sendiri. Lewat pengalaman pribadi yang dialaminya sendiri, anak akan lebih merasa relate

“Kalau usianya masih mungkin di bawah 7 tahun, itu kan anak-anak masih lebih banyak belajar secara konkret. Jadi dia harus ngalamin dulu. Nah, di situ memang peran kita untuk ngasih tahu, dibalikin ke pengalaman pribadi mereka. Kenapa sih harus tidur siang misalnya? Coba deh, kalau kamu tidur siang, perasaan kamu pas bangun tidur gimana? Kita lihat dulu nih sudut pandang mereka,” kata Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt, Psikolog Klinis, saat diwawancarai dalam sesi Popmama Talk Mei 2026

“Nah, tujuannya kamu tidur siang kan untuk istirahat. Pada saat kamu seger, artinya apa? Jadi kita buka sebuah diskusi gitu, supaya mereka juga menyadari secara tidak langsung bahwa apa yang mau kita ajar kan tuh muncul di pikiran mereka sendiri jawabannya gitu,” lanjutnya. 

2. Bangun diskusi untuk anak yang lebih besar mengenai pendapatnya

Popmama.com/David Andrew
Popmama.com/David Andrew

Melatih critical thinking tidak selalu harus dengan memberi tahu semua jawaban kepada anak. Sebaliknya, orangtua bisa membuka ruang diskusi agar anak belajar memikirkan alasan di balik suatu hal.

Dengan pertanyaan sederhana seperti “Menurut kamu kenapa bisa begitu?” anak akan terdorong untuk menyusun pendapat dan mencari hubungan sebab-akibat. Cara ini membantu anak belajar berpikir mandiri tanpa merasa digurui.

“Kalau usianya sudah lebih besar dan kita tahu wawasan mereka sudah lebih luas. Kalau anak di atas usia 3 SD, kita boleh tanyakan pendapatnya. Menurutmu kenapa? Kalau dari sudut pandang kamu atau dari penilaian kamu, kenapa itu bisa terjadi? Jadi dibalikannya seperti itu tanpa harus dikasih tahu lebih detail seperti ketika dia masih lebih kecil,” ujar Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt. 

3. Perhatikan perubahan perilaku anak sebagai bentuk komunikasi

Pexels/cottonbro studio
Pexels/cottonbro studio

Kemampuan berpikir kritis juga berkaitan dengan keberanian anak dalam menyampaikan apa yang ia rasakan, terutama saat berada di lingkungan luar rumah seperti daycare atau sekolah.

Karena itu, orangtua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Misalnya anak tiba-tiba terlihat murung, lebih sensitif, atau mulai menunjukkan penolakan ekstrem saat akan pergi ke daycare

Meski tidak selalu menjadi tanda pasti adanya masalah, perubahan sikap yang terus berulang tetap perlu diperhatikan dengan serius. Jangan sepelekan apa yang berusaha diungkapkan anak lewat bahasa tubuhnya. 

“Kita bisa bantu anak kita untuk mengungkapkan apa yang mereka tidak suka dengan permainan. Pertama-tama memang kita perlu lihat juga apakah anak ini terlihat lebih murung, moodnya berubah, atau ketika mau dibawa masuk ke daycare-nya, udah mulai ada penolakan atau tidak,” jelas Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt. 

“Walaupun memang tidak bisa menjadi indikator utama ya karena banyak anak-anak yang memang nggak mau sekolah atau nggak mau masuk ke daycare gitu. Tapi kalau makin dia ekstrim penolakannya dan setiap kali pulang dari daycare juga kelihatan murung, itu tanda-tanda yang harus diperhatikan,” sambungnya.

4. Gunakan permainan untuk membantu anak bercerita

Pexels/Antoni Shkraba Studio
Pexels/Antoni Shkraba Studio

Bermain bisa menjadi cara efektif untuk melatih komunikasi sekaligus membantu anak mengungkapkan perasaannya. Orangtua dapat menggunakan boneka, gambar, atau membuat denah sederhana tentang sekolah maupun daycare anak.

Lewat permainan tersebut, anak biasanya akan lebih mudah menunjukkan pengalaman yang ia alami. Dari sana, orangtua bisa belajar memahami kondisi anak tanpa harus memaksanya bercerita secara langsung.

“Kemudian, kita bisa pakai gambar-gambar. Kita gambar lokasi, denah daycare-nya, kita sebutin nama temen-temennya, mungkin bisa pakai boneka-boneka, lalu lihat apa yang terjadi, bagaimana dia akan memainkan bonekanya,” jelasnya. 

“Mungkin si A sama si B waktu kejadian di sekolah lagi main pukul-pukulan, di situ dia akan main pukul-pukulan antara boneka yang mewakili si A dan si B. Lalu kalau ada kejadian nggak enak, misalnya sih anak ini juga pasti akan bilang, aku tiduran di sini, nggak bisa bangun misalnya seperti itu,” lanjutnya. 

5. Orangtua perlu lebih peka terhadap emosi anak yang belum lancar bicara

Pexels/Arina Krasnikova
Pexels/Arina Krasnikova

Untuk anak usia di bawah dua tahun yang belum mampu berbicara dengan jelas, orangtua memang perlu bekerja lebih ekstra dalam memahami kondisi mereka. Sebab, anak belum bisa menyampaikan apa yang dirasakan lewat kata-kata.

Karena itu, penting untuk memperhatikan perubahan emosi maupun kebiasaan sehari-hari anak. Misalnya anak menjadi lebih mudah menangis, sulit tidur, atau tampak takut pada situasi tertentu. Respons kecil seperti ini bisa menjadi bentuk komunikasi yang perlu dipahami orangtua.

“Cuma kalau memang anaknya belum bisa berbicara seperti usia dua tahun kebawah, memang jauh lebih sulit, kita harus lebih peka sama emosi dan perubahan dia,” peringat Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt.

6. Ajarkan apa yang boleh dan tidak boleh lewat boneka kesukaan anak

Pexels/cottonbro studio
Pexels/cottonbro studio

Anak cenderung lebih mudah memahami sesuatu melalui media visual dan permainan yang terasa menyenangkan bagi mereka.

Karena itu, orangtua bisa memanfaatkan boneka kesukaan anak untuk mengajarkan berbagai hal penting, termasuk tentang batasan tubuh dan keamanan diri.

Melalui boneka, orangtua dapat menjelaskan bagian tubuh mana yang boleh terlihat, mana yang bersifat pribadi, hingga bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain.

Cara ini biasanya terasa lebih ringan dan tidak membuat anak takut atau bingung saat menerima penjelasan.

Selain membantu anak memahami batasan diri, metode ini juga melatih mereka agar lebih berani mengungkapkan jika ada situasi yang membuatnya tidak nyaman.

“Sebenarnya mengajarkan anak bisa pakai boneka. Pake boneka kita tunjukkan apa yang boleh, misalnya dari pertama, apa yang boleh dilihat orang, bagian tubuh mana yang boleh dilihat, bagian tubuh mana yang tidak boleh dilihat, bagian tubuh mana yang boleh disentuh, bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh,” jelas Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt.

7. Bangun rasa aman agar anak tidak takut bercerita

Pexels/Pavel Danilyuk
Pexels/Pavel Danilyuk

Selain melatih kemampuan berpikir kritis, orangtua juga perlu membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk terbuka.

Anak perlu tahu bahwa Mama dan Papa akan selalu menjadi tempat paling nyaman untuk bercerita, termasuk ketika mereka mengalami hal yang tidak menyenangkan.

Orangtua bisa menanamkan kalimat sederhana yang menenangkan, seperti meyakinkan anak bahwa mereka akan dilindungi apa pun yang terjadi.

Bahkan ketika ada seseorang yang meminta anak merahasiakan sesuatu dari orangtua, anak perlu diajarkan bahwa hal tersebut justru harus segera diceritakan. 

Dengan membangun suasana yang hangat dan penuh dukungan, anak akan melihat orangtuanya sebagai safe space yang selalu siap mendengarkan dan melindungi mereka.

“Jadi timbulkan perasaan aman bahwa apapun kamu boleh cerita. Apalagi kalau misalnya diberikan kalimat-kalimat seperti ‘jangan ngomong mama’. Kalau ada orang bilang ‘jangan ngomong mama, nanti kamu aku marahin’, itu berarti tandanya kamu harus ngomong mama. Karena mama akan jadi jagoan untuk bisa lindungi kamu. Dibikin sesuatu yang menarik biar dia melihat mamanya itu benar-benar safe space buat dia,” pungkasnya. 

Itu dia cara melatih critical thinking anak tanpa membuatnya tertekan. Yang terpenting, bangun hubungan yang membuat anak merasa aman dan didengar.

Saat anak melihat orangtuanya sebagai tempat paling nyaman untuk berbagi cerita, kemampuan berpikir kritis dan keberaniannya untuk menyampaikan perasaan pun akan tumbuh dengan lebih alami. 

POPMAMA TALK Mei 2026 - Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt

Psikolog Klinis

Senior Editor - Novy Agrina

Host - Novy Agrina  

Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias  

Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana   

Script - Sania Chandra Nurfitriana   

Social Media - Mayang Ulfah 

Photographer - David Andrew

Videographer - Bellinna Putri, David Andrew & Albertus Olav

Video Editor - David Andrew

Design - Aristika Medinasari

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias
Follow Us

Related Articles

See More