Cegah 4 Penyakit Ini untuk Turunkan Risiko Stunting pada Anak

- Sebuah studi tahun 2025 menunjukkan penyakit infeksi berulang seperti ISPA, diare, pneumonia, dan cacingan memiliki hubungan signifikan dengan meningkatnya risiko stunting pada anak di Indonesia.
- dr. Citra menjelaskan bahwa infeksi membuat energi tubuh anak habis untuk melawan penyakit sehingga penyerapan gizi terganggu dan pertumbuhan terhambat meski asupan makanan sudah cukup.
- Pencegahan dilakukan melalui ASI eksklusif, vaksinasi lengkap termasuk Rotavirus dan PCV, menjaga kebersihan makanan serta tangan, pemberian obat cacing rutin, dan deteksi dini ke tenaga kesehatan.
"Kenapa ya berat badan si Kecil susah naik, padahal makannya lahap?" Mungkin pertanyaan ini pernah terlintas di benak Mama. Ternyata, jawabannya tidak selalu soal kurang makan, lho.
Menurut dr. Citra, SpA, IBCLC, MKes, seorang dokter spesialis anak yang kerap berbagi edukasi kepada orangtua melalui Instagram pribadinya, bisa jadi karena energinya habis dipakai tubuh untuk melawan infeksi yang datang berulang kali.
Penyakit seperti diare atau ISPA bukan cuma bikin si Kecil lemas, tapi juga menghambat tumbuh kembangnya dalam jangka panjang, alias stunting.
Melansir dari unggahan beliau, sebuah studi cross-sectional tahun 2025 dengan sampel lebih dari 90 ribu balita menunjukkan bahwa penyakit infeksi memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan angka stunting di Indonesia.
Artinya, anak yang sering sakit punya risiko lebih besar mengalami stunting.
Lalu, penyakit infeksi apa saja yang paling berpengaruh?
Dan yang terpenting, bagaimana cara mencegahnya agar si Kecil tidak berisiko stunting? Melansir dari penjelasan yang dibagikan dr. Citra, berikut Popmama.com rangkumkan ulasan selengkapnya.
1. ISPA yang sering disepelekan

ISPA atau infeksi saluran pernapasan, menyerang hidung, tenggorokan, hingga sinus anak. Penyebab utamanya adalah virus, dan penyakit ini mudah menular lewat udara atau percikan air liur.
Anak yang sering batuk-pilek akan mengalami gangguan penyerapan zat gizi karena nafsu makannya turun dan tubuhnya lebih fokus melawan infeksi.
Pencegahan yang perlu Mama lakukan adalah memastikan anak mendapat ASI eksklusif, vaksinasi lengkap termasuk influenza dan campak, serta biasakan cuci tangan pakai sabun.
Jika anak mulai sakit, istirahatkan di rumah agar cepat pulih dan tidak menularkan ke orang lain.
2. Diare, penyebab bocornya nutrisi penting

Tak hanya kita orang dewasa, anak yang terkena diare juga membuatnya merasa tak nyaman dalam beraktivitas, Ma.
Diare membuat anak buang air besar terus-menerus dengan tinja encer. Sekitar 60-70 persen kasus diare pada balita disebabkan oleh virus Rotavirus.
Saat anak kita alami diare, makanan tidak sempat diserap dengan baik, bahkan zat gizi yang sudah masuk pun ikut terbuang. Akibatnya, anak kekurangan energi dan protein dalam waktu lama.
dr. Citra menjelaskan bahwa pencegahannya adalah dengan memberikan ASI eksklusif, menjaga kebersihan makanan dan minuman yang matang dan higienis, serta melengkapi vaksin Rotavirus.
Yang tak kalah penting, jadikan cuci tangan setelah buang air dan sebelum makan sebagai kebiasaan keluarga.
3. 3. Pneumonia, radang paru yang mengganggu penyerapan nutrisi

Pneumonia adalah radang akut di jaringan paru, umumnya disebabkan bakteri pneumokokus. Penyakit ini membuat anak kesulitan bernapas sehingga asupan oksigen dan distribusi nutrisi ke seluruh tubuh terganggu.
Anak dengan pneumonia berat juga cenderung malas makan dan minum, kondisi inilah yang akhirnya membuat anak semakin kehilangan nutrisi dan memperburuk status gizinya.
Jadi, ketika anak muncul gejala sesak napas, napas cepat, hidung kembang kempis, tarikan dinding dada, atau wajah membiru, segera bawa ke dokter ya, Ma.
Selain pemeriksaan dokter, pastikan juga Mama telah melengkapi vaksin PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) sesuai jadwal untuk melindungi anak dari pneumonia akibat pneumokokus.
4. Cacingan, pencuri zat gizi dalam tubuh anak

Cacingan terjadi karena infeksi cacing parasit yang hidup terutama di usus anak. Penularannya bisa melalui makanan atau minuman yang tercemar telur cacing, maupun melalui tanah.
Cacing-cacing ini kemudian "mencuri" zat gizi dari makanan yang dikonsumsi anak, sehingga pertumbuhannya terhambat meskipun porsi makannya sudah cukup.
Sebagai pencegahan, Mama bisa memberikan obat cacing sesuai anjuran dokter saat anak usia 1-2 tahun, dan ulangi secara berkala.
Selain itu, pastikan juga anak tidak bermain di tanah kotor tanpa alas kaki, selalu cuci tangan sebelum makan, serta konsumsi makanan dan minuman yang higienis dan matang sempurna.
Sebagai salah satu masalah kesehatan yang masih cukup tinggi di kalangan anak, pencegahan stunting tentu perlu mendapat perhatian lebih dari kita para orangtua, Ma.
Bukan hanya soal memberi banyak makan, tapi juga melindungi anak dari penyakit infeksi berulang seperti ISPA, diare, pneumonia, dan cacingan sebagai pencegahan stunting pada anak.
Ditambahkan oleh dr. Citra, dengan melengkapi vaksinasi, menjaga kebersihan , serta mendeteksi dini ke tenaga kesehatan, risiko stunting bisa ditekan secara signifikan.
Yuk, mulai dari langkah kecil hari ini untuk masa depan anak yang lebih sehat.


















