Jessica Iskandar Ungkap Pentingnya Safe Space untuk Kesehatan Mama

- Jessica Iskandar berbagi pengalaman pribadi tentang masa sulit dan pentingnya memahami sensitivitas sebagai bagian dari proses pemulihan diri bagi para mama.
- Ia menekankan bahwa safe space dibutuhkan agar mama bisa jujur terhadap perasaan tanpa takut dihakimi, serta menemukan dukungan emosional yang menenangkan.
- Jessica mengingatkan pentingnya memberi waktu untuk diri sendiri agar mama dapat menjaga keseimbangan emosi dan kembali menjalani peran dengan lebih tenang.
Dalam acara Aveeno bertema Strength of Sensitivity yang digelar pada 17 April 2026, Jessica Iskandar hadir membagikan kisah yang hangat, jujur, dan dekat dengan kehidupan para mama.
Bukan sekadar cerita inspiratif, tapi pengalaman nyata tentang bagaimana menghadapi masa sulit, rasa kehilangan arah, dan proses bangkit yang tidak instan.
Saat itu, Jessica mengungkap bahwa di balik kehidupan yang terlihat bahagia di media sosial, ia pernah berada di titik paling gelap.
Ia merasa kehilangan arah, bahkan kehilangan harapan. Tekanan dari luar, penilaian orang lain, hingga rasa bersalah pada diri sendiri menjadi bagian dari perjalanan yang harus ia hadapi.
Di tengah sesi tersebut, ia mengajak para mama untuk mulai melihat sensitivitas dengan cara yang berbeda.
Menurutnya, perasaan sedih, lelah, atau overthinking bukanlah tanda kelemahan. Justru itu adalah sinyal penting dari diri sendiri bahwa kita butuh berhenti sejenak, memahami diri, dan memberi ruang untuk pulih.
Kini, Jessica percaya bahwa memiliki safe space adalah kebutuhan penting, terutama bagi mama yang sering memikul banyak peran sekaligus. Safe space menjadi tempat untuk jujur tanpa takut dihakimi, tempat untuk menangis tanpa harus merasa lemah.
Berikut Popmama.com bagikan pentingnya safe space untuk kesehatan mental mama sesuai dengan yang disampaikan dalam sesi tersebut.
Table of Content
1. Berani mengakui perasaan sendiri

Banyak mama terbiasa menahan perasaan karena merasa harus selalu kuat untuk keluarga. Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa membuat emosi menumpuk dan akhirnya berubah jadi stres, overthinking, bahkan kelelahan mental.
Mengakui perasaan bukan berarti menyerah, tapi justru langkah awal untuk memahami diri sendiri. Saat mama berani berkata, “aku lagi capek” atau “aku lagi sedih”, itu adalah bentuk keberanian sekaligus kepedulian terhadap diri sendiri.
Dengan mengenali emosi, mama jadi lebih peka terhadap kebutuhan diri. Apakah butuh istirahat, butuh ditemani, atau sekadar butuh waktu untuk diam sejenak. Dari sini, mama bisa belajar merespons perasaan dengan lebih sehat, bukan memendamnya.
2. Mencari safe space yang tepat

Safe space bukan hanya soal tempat, tapi soal rasa aman. Tempat di mana mama bisa jadi diri sendiri tanpa harus memakai “topeng kuat” setiap saat. Di sinilah mama bisa jujur, menangis, bahkan diam tanpa harus menjelaskan semuanya.
Setiap mama punya safe space yang berbeda. Ada yang menemukannya dalam obrolan dengan pasangan, curhat ke sahabat, waktu berkualitas dengan keluarga, atau sesi dengan psikolog. Tidak ada yang benar atau salah yang penting mama merasa diterima dan didengarkan.
Ketika mama berada di lingkungan yang suportif, perasaan yang tadinya berat bisa terasa lebih ringan. Mama juga jadi sadar bahwa apa yang dirasakan itu valid, dan ada orang lain yang peduli. Dari sinilah proses pemulihan bisa mulai berjalan, pelan tapi pasti.
3. Memberi waktu untuk diri sendiri

Di tengah kesibukan mengurus anak dan keluarga, mama sering menempatkan diri di urutan terakhir. Semua kebutuhan orang lain diprioritaskan, sementara kebutuhan diri sendiri sering diabaikan.
Padahal, me time bukanlah kemewahan itu kebutuhan. Mama juga butuh waktu untuk recharge agar bisa tetap stabil secara emosional. Tanpa itu, mama bisa merasa cepat lelah, mudah marah, atau kehilangan energi.
Tidak perlu sesuatu yang besar. Hal sederhana seperti duduk tenang, minum kopi atau teh hangat, scrolling santai, atau melakukan hobi kecil sudah cukup membantu. Dari waktu singkat ini, mama bisa mengembalikan energi dan kembali menjalani peran dengan lebih tenang dan penuh kesadaran.



















