Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Kulit Sensitif Bisa Muncul Akibat Skincare dan Treatment Berlebih

Kulit Sensitif Bisa Muncul Akibat Skincare dan Treatment Berlebih
ilustrasi perawatan kulit (pexels.com/Antoni Shkraba)
Intinya Sih
  • dr. Hafiza menjelaskan bahwa kulit sensitif bisa muncul akibat penggunaan skincare dan treatment berlebihan yang merusak skin barrier, bukan hanya karena faktor bawaan.
  • Saat kulit menjadi sensitif, fokus utama perawatan adalah menenangkan dan memperbaiki skin barrier sebelum kembali menggunakan produk aktif agar fungsi pelindung kulit pulih optimal.
  • Over treatment seperti laser berlebihan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, sehingga penting memilih perawatan sesuai kebutuhan dan menghindari tren instan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Kulit sensitif ternyata tidak selalu bawaan lahir, lho. Menurut dr. Hafiza Fikri Fadel, kondisi kulit sensitif bisa muncul karena berbagai faktor, mulai dari skincare yang terlalu keras hingga treatment berlebihan.

“Jadi artinya bisa menjadi sensitif, kulit aslinya bukan jenis kulit sensitif,” jelasnya saat wawancara.

Belakangan, tren layering skincare dan treatment instan memang makin populer.

Namun jika tidak dilakukan dengan tepat, hal ini justru bisa merusak skin barrier dan membuat kulit lebih rentan iritasi. Berikut Popmama.com ulas beberapa hal penting yang perlu kamu perhatikan.

Table of Content

1. Over layering skincare bisa merusak skin barrier

1. Over layering skincare bisa merusak skin barrier

20260528_165204_0000.png
Popmama.com/Onic Metheany

Menurut dr. Hafiza, salah satu penyebab kulit tiba-tiba sensitif adalah penggunaan skincare dan treatment yang terlalu agresif. Banyak orang tergoda mencoba berbagai produk sekaligus demi hasil instan, padahal kulit punya batas toleransi.

Ia mencontohkan kondisi ketika seseorang melakukan treatment berbeda di beberapa klinik dalam waktu berdekatan. Alih-alih sehat, kulit justru mengalami kerusakan skin barrier dan menjadi lebih sensitif.

“Karena skincare yang kita beli satu-satuan itu punya bahan aktif. Ketika masuk ke kulit yang lagi sensitif, hasilnya justru iritasi,” jelasnya.

2. Fokus utama saat kulit sensitif adalah memperbaiki skin barrier

Perawatan kulit di klinik kecantikan.
ilustrasi perawatan kulit di klinik kecantikan (pexels.com/Gustavo Fring)

Saat kulit sudah masuk tahap sensitif, dr. Hafiza mengatakan dokter biasanya akan lebih dulu mencari penyebab utamanya. Setelah itu, perawatan difokuskan pada soothing treatment dan pemulihan skin barrier.

Kulit perlu dikembalikan ke kondisi normal terlebih dahulu sebelum mencoba produk aktif lainnya. Sebab, fungsi utama kulit adalah sebagai pertahanan terluar tubuh.

“Yang penting adalah mengembalikan skin barrier dulu,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa proses pemulihan setiap orang berbeda-beda. Ada yang membaik dalam hitungan hari, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu hingga beberapa bulan tergantung tingkat kerusakannya.

3. Kerusakan kulit akibat treatment berlebihan bisa permanen

Produk skincare dasar seperti facial wash, moisturizer, dan sunscreen
Tiga produk skincare dasar yaitu facial wash, moisturizer dan sunscreen pendekatan perawatan kulit yang sederhana dan efektif. source:unsplash

Dalam beberapa kasus, over treatment ternyata dapat menyebabkan kerusakan permanen pada kulit. Salah satunya jika prosedur laser dilakukan dengan parameter terlalu tinggi hingga merusak sel pigmen kulit.

Akibatnya, muncul bercak putih seperti panu karena melanosit tidak lagi bekerja dengan baik. Kondisi ini disebut sangat sulit untuk dipulihkan sepenuhnya.

“Itu mengembalikannya hampir mustahil, ibaratnya panjang sekali prosesnya,” kata dr. Hafiza.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya memilih treatment yang sesuai kebutuhan kulit dan tidak mudah tergoda tren instan.

4. Kulit sensitif juga bisa dipicu kondisi tubuh tertentu

ilustrasi perawatan kulit pria (freepik.com/freepik)
ilustrasi perawatan kulit pria (freepik.com/freepik)

Bukan hanya skincare, kondisi tubuh tertentu juga dapat membuat kulit menjadi lebih sensitif. dr. Hafiza menjelaskan bahwa pasien eksim, psoriasis, hingga kulit aging cenderung memiliki skin barrier yang lebih lemah.

Pada pasien eksim misalnya, kulit memang secara genetik memiliki kekurangan natural moisturizing factor sehingga lebih mudah kering dan iritasi.

Bahkan hal sederhana seperti gigitan serangga juga bisa mengganggu keseimbangan kulit. Sayangnya, banyak orang justru menambahkan bahan-bahan yang mengiritasi seperti odol atau minyak tertentu pada area tersebut.

“Sebenernya udah kulit sensitif, terus dikasih irritating agent, tambah rusak kulitnya,” jelasnya.

5. Hindari exfoliator berlebihan saat kulit sedang bermasalah

ilustrasi perawatan kulit (pexels.com/ Mikhail Nilov)
ilustrasi perawatan kulit (pexels.com/ Mikhail Nilov)

Untuk pemilik kulit sensitif, dr. Hafiza menyarankan memilih skincare yang lebih gentle, terutama moisturizer tanpa parfum dan alkohol berlebih.

Ia juga mengingatkan agar penggunaan exfoliator seperti AHA dan BHA disesuaikan dengan kondisi kulit. Sebab, eksfoliasi berlebihan dapat membuat lapisan kulit mengelupas terlalu cepat dan memperparah sensitivitas.

Menurutnya, regenerasi kulit normalnya terjadi sekitar 28 hari. Jika proses itu dipercepat secara berlebihan, kulit justru berada dalam kondisi sensitif terus-menerus.

Karena itu, penting untuk lebih bijak saat memakai skincare dan mendengarkan kebutuhan kulit sendiri, bukan sekadar mengikuti tren.

Share Article
Topics
Editorial Team
Onic Metheany
EditorOnic Metheany

Related Articles

See More