Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Apa Itu Sleep Maxxing? Tren Gaya Hidup Baru Atasi Masalah Tidur

Apa Itu Sleep Maxxing? Tren Gaya Hidup Baru Atasi Masalah Tidur
Pexels/Jasmine Pang
Intinya Sih
  • Sleep maxxing adalah tren viral yang fokus memaksimalkan kualitas dan kuantitas tidur melalui rutinitas, alat pelacak, serta lingkungan kamar yang ideal untuk istirahat total.
  • Secara ilmiah, beberapa praktik sleep maxxing belum terbukti efektif dan bisa berisiko jika dilakukan ekstrem, seperti penggunaan plester mulut atau obsesi terhadap skor tidur digital.
  • Dilakukan dengan wajar, sleep maxxing dapat meningkatkan fungsi otak, menjaga kesehatan mental, memperkuat imun tubuh, serta menyeimbangkan metabolisme melalui kebiasaan tidur sehat alami.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernahkah kamu terbangun di pagi hari, tapi tubuh masih terasa lelah, padahal rasanya sudah tidur cukup lama? Jika iya, kamu sama sekali tidak sendirian. 

Belakangan ini, media sosial seperti TikTok sedang ramai memperbincangkan sebuah fenomena yang diklaim bisa menjadi solusi mutakhir atas masalah tersebut. Nama tren yang sedang viral ini adalah sleep maxxing.

Lantas, apa sebenarnya tren ini? Berikut Popmama.com membahas apa itu sleep maxxing? Tren gaya hidup baru. Yuk, simak sampai habis!

Table of Content

Pengertian Sleep Maxxing

Pengertian Sleep Maxxing

Apa Itu Sleep Maxxing_ Tren Gaya Hidup Baru 2.jpg
Pexels/Kampus Production

Secara sederhana, sleep maxxing adalah tren kesehatan yang berfokus penuh untuk memaksimalkan kualitas maupun kuantitas tidur. 

Mengutip ulasan dari Grape Tree, tren ini umumnya dipopulerkan oleh para kreator konten atau influencer yang membagikan rutinitas sebelum tidur mereka secara mendetail dan estetis. 

Mereka sering kali menyarankan berbagai cara spesifik, mulai dari penggunaan gawai pelacak tidur canggih, selimut tebal, hingga mengonsumsi suplemen tertentu sebelum naik ke ranjang.

Pada dasarnya, banyak ide dari tren sleep maxxing yang berakar pada konsep kebersihan tidur (sleep hygiene), yakni serangkaian kebiasaan yang mendukung pola tidur sehat. Bedanya, gaya hidup ini membawa konsep tersebut ke level yang lebih ekstrem. 

Tidak sedikit orang yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi menciptakan zona tidur yang sempurna. Misalnya, dengan mengatur suhu kamar sekedingin mungkin, memakai plester mulut (mouth-tape), hingga mematikan seluruh sumber cahaya agar kamar benar-benar gelap gulita.

Singkatnya, tren ini adalah upaya total agar tubuh bisa beristirahat total tanpa sedikit pun gangguan.

Apakah Tren Ini Berhasil? Fakta Ilmiah di Baliknya

Apa Itu Sleep Maxxing_ Tren Gaya Hidup Baru 3.jpg
Pexels/cottonbro studio

Melihat popularitasnya yang melejit dan banyaknya orang yang ikut mencoba, pertanyaan terbesarnya tentu saja: apakah tren ini benar-benar berhasil? Jika dilihat dari kacamata medis dan sains, jawabannya bisa iya dan tidak, tergantung pada metode mana yang kamu terapkan.

Mengutip tulisan dr. Eric Zhou dari Harvard Health, istilah sleep maxxing sendiri sebenarnya belum pernah dipelajari secara resmi sebagai sebuah konsep ilmiah yang utuh. Banyak metode yang diagungkan oleh tren ini justru masih kekurangan bukti sains. 

Sebagai contoh, praktik memplester mulut yang konon bisa mengurangi dengkuran. Menurut tinjauan dari departemen otolaringologi di George Washington University, sebagian besar klaim plester mulut di TikTok nyatanya tidak didukung oleh riset yang kuat. 

Bahkan, dr. Ari Laliotis dari Sharp Rees-Stealy Medical Group, seperti yang dilansir Sharp HealthCare, mengingatkan bahwa pemakaian plester mulut atau alat pelebar lubang hidung bisa berbahaya bagi sebagian orang. 

Praktik ini berisiko menunda penanganan medis yang tepat, terutama jika orang tersebut memiliki gangguan tidur bawaan yang kompleks.

Lalu, bagaimana dengan anjuran mengonsumsi suplemen seperti melatonin atau magnesium? Merujuk pada penjelasan Sharp HealthCare, magnesium memang terbukti penting untuk mengatur fungsi otot dan saraf, sehingga tubuh terasa lebih relaks. 

Hal ini secara tidak langsung ikut membantu memproduksi melatonin alami dalam tubuh. Namun, dr. Laliotis menegaskan bahwa konsumsi suplemen sebaiknya hanya digunakan dalam jangka pendek dan atas anjuran dokter agar tidak berinteraksi negatif dengan obat-obatan lain yang mungkin sedang dikonsumsi.

Di sisi lain, obsesi yang berlebihan untuk selalu mendapatkan skor tidur sempurna melalui jam tangan pintar atau cincin pelacak malah bisa memicu kondisi psikologis yang disebut orthosomnia

Alih-alih terlelap dengan rileks, kamu justru bisa merasa cemas, stres, dan terus-terusan memikirkan data tidurmu. Kesimpulannya, jangan sekadar termakan hype

Kunci utamanya bukanlah mengikuti semua anjuran viral tersebut, melainkan mengambil kebiasaan yang benar-benar terbukti aman dan sesuai dengan kebutuhan tubuhmu.

Manfaat Menerapkan Sleep Maxxing

Apa Itu Sleep Maxxing_ Tren Gaya Hidup Baru 4.jpg
Pexels/cottonbro studio

Meski beberapa peretasannya sering dinilai terlalu berlebihan, inti dari tren sleep maxxing tetap memberikan dampak yang sangat positif jika dilakukan dengan wajar.

Berikut adalah deretan manfaat yang bisa kamu rasakan ketika berhasil memaksimalkan waktu istirahat malammu:

  1. Meningkatkan fungsi otak dan fokus: Tidur yang cukup dan nyenyak sangat membantu otak dalam memproses informasi, memperkuat daya ingat, serta menjaga tingkat konsentrasi saat bekerja di keesokan harinya.
  2. Menjaga kesehatan mental: Istirahat yang berkualitas sangat ampuh dalam menstabilkan suasana hati (mood). Kamu akan menjadi tidak mudah marah, lebih kebal terhadap tekanan stres, dan risiko mengalami kecemasan pun menurun drastis.
  3. Memperkuat sistem kekebalan tubuh: Saat kamu terlelap, tubuh secara alami sibuk memproduksi protein bernama sitokin yang berfungsi untuk melawan peradangan maupun ancaman infeksi penyakit.
  4. Mendukung metabolisme yang seimbang: Kurang tidur kerap dikaitkan dengan peningkatan hormon lapar. Dengan pola tidur yang teratur, metabolisme tubuh menjadi lebih seimbang sehingga nafsu makan lebih mudah dikontrol, yang berdampak baik pada kestabilan berat badan.

Tips dan Trik Mendapatkan Tidur Berkualitas Secara Alami

Apa Itu Sleep Maxxing_ Tren Gaya Hidup Baru 5.jpg
Pexels/dong ma

Melansir dari Grape Tree dan Harvard Health, ada beberapa trik sleep maxxing sederhana nan alami yang sudah terbukti secara ilmiah bisa kamu coba terapkan malam ini:

  1. Konsisten dengan jadwal tidur: Cobalah untuk pergi tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, bahkan saat akhir pekan sekalipun. Kebiasaan ini akan melatih ritme sirkadian (jam alami tubuh) agar lebih teratur, sehingga kamu akan otomatis mengantuk pada jam yang sama.
  2. Konsumsi camilan kaya magnesium: Sebagai alternatif suplemen kimia, cobalah mengonsumsi bahan alami seperti biji labu, kacang almond, atau kenari. Kacang-kacangan ini kaya akan magnesium yang secara alami membantu menenangkan sistem saraf sebelum tidur.
  3. Mandi air hangat: Ritual mandi atau sekadar berendam air hangat sekitar satu jam sebelum tidur dipercaya ampuh merilekskan otot yang tegang. Saat suhu tubuhmu perlahan menurun setelah mandi, otak akan menangkap sinyal bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk beristirahat.
  4. Kurangi paparan cahaya biru: Hindari kebiasaan scrolling ponsel pintar atau menonton televisi setidaknya satu jam sebelum tidur. Cahaya biru dari layar sangat ampuh menghambat produksi hormon melatonin yang bertugas membuat matamu terlelap.
  5. Ciptakan suasana kamar yang ideal: Buatlah kamarmu menjadi tempat peristirahatan yang tenang, gelap, dan bersuhu sejuk. Jika lingkungan di sekitar rumahmu cukup berisik, memutar suara white noise (seperti suara rintik hujan atau desiran ombak) terbukti ampuh menyamarkan kebisingan.
  6. Minum teh kamomil: Menyeruput secangkir teh kamomil hangat yang bebas kafein sebelum tidur bisa memberikan efek menenangkan saraf. Ini juga menjadi ritual pengganti yang jauh lebih sehat dibandingkan dengan mengonsumsi minuman manis di malam hari.

Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu sleep maxxing? Tren gaya hidup baru. Semoga bermanfaat!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias

Related Articles

See More