- Puasa Senin dan Kamis
Apakah yang Dimaksud dengan Puasa Sunnah? Amalan Paling Dianjurkan

Puasa sunnah adalah ibadah puasa yang dianjurkan dalam Islam, namun tidak bersifat wajib. Dilakukan sebagai bentuk ketaatan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Jenis-jenis puasa sunnah antara lain Puasa Senin Kamis, Ayyamul Bidh, Puasa Enam Hari di Bulan Syawal, Puasa Arafah, dan Puasa Tasu’a dan Asyura.
Manfaat dari menjalankan puasa sunnah antara lain melatih kesabaran, mendekatkan diri kepada Allah SWT, menumbuhkan rasa empati terhadap sesama, menjaga keseimbangan mental dan emosi, serta membantu menjaga kesehatan tubuh.
Puasa identik dengan bulan Ramadhan. Namun, tahukah Mama bahwa dalam Islam ada juga puasa yang dilakukan di luar Ramadhan dan bersifat sunnah? Puasa sunnah sering kali menjadi amalan tambahan yang memiliki keutamaan tersendiri bagi umat Islam.
Meski tidak wajib, puasa sunnah banyak dikerjakan karena pahalanya besar dan manfaatnya tidak hanya dirasakan secara spiritual, tetapi juga secara emosional. Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan puasa sunnah?
Yuk, Mama simak penjelasan lengkapnya dari Popmama.com berikut ini!
Table of Content
Apa Itu Puasa Sunnah?

Puasa sunnah adalah ibadah puasa yang dianjurkan dalam Islam, namun tidak bersifat wajib. Mama akan mendapatkan pahala jika menjalankannya, namun tidak berdosa jika meninggalkannya.
Ibadah ini dilakukan secara sukarela sebagai bentuk ketaatan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena tidak diwajibkan, puasa sunnah mencerminkan keikhlasan dalam beribadah.
Puasa sunnah juga merupakan amalan yang sering dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dengan menjalankannya, Mama tidak hanya menambah pahala, tetapi juga meneladani kebiasaan beliau dalam memperbanyak ibadah.
Jenis-Jenis Puasa Sunnah yang Bisa Diamalkan dan Dalilnya

Puasa Senin Kamis adalah ibadah sunnah yang dilakukan dengan cara berpuasa setiap hari Senin dan Kamis, sesuai dengan anjuran dan kebiasaan Rasulullah SAW.
"Amal-amal dilaporkan pada hari Senin dan Kamis, Dan aku ingin amalku dilaporkan ketika aku tengah berpuasa." (Dari Abu Hurairah, HR Tirmidzi).
Niat Puasa hari Senin:
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ ٱلإِثْنَيْنِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma yaumal itsnaini sunnatan lillahi ta‘ala.
Artinya: "Saya berniat puasa hari Senin, sunnah karena Allah Ta’ala."
Niat Puasa hari Kamis:
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ ٱلْخَمِيسِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma yaumal khamiisi sunnatan lillahi ta‘ala.
Artinya: "Saya berniat puasa hari Kamis, sunnah karena Allah Ta’ala.”
- Puasa Ayyamul Bidh
Setiap pertengahan bulan Hijriah, tepatnya pada tanggal 13, 14, dan 15, umat Islam dianjurkan berpuasa. Tiga hari ini disebut Ayyamul Bidh atau “hari-hari putih” karena bertepatan dengan purnama.
"Wahai Abu Dzar, jika engkau hendak berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriah).” (HR. Tirmidzi).
Niat Puasa Ayyamul Bidh:
نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ ٱلْبِيضِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ayyamil bidh sunnatan lillahi ta‘ala.
Artinya: "Saya niat puasa Ayyamul Bidh (hari-hari yang malamnya cerah), karena Allah Ta'ala.”
- Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Setelah Ramadan berakhir, umat Islam dianjurkan melanjutkan dengan enam hari puasa di bulan Syawal. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Barangsiapa berpuasa Ramadan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim).
Niat Puasa Enam Hari di Bulan Syawal:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ للهِ تعالى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adai sittatin min syawwal lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat puasa besok dari enam hari di bulan Syawal, sunnah karena Allah Ta'ala.”
- Puasa Arafah
Bagi Mama yang tidak sedang berhaji, puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah kesempatan emas. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim).
Niat Puasa Arafah:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Arafah esok hari karena Allah SWT.”
- Puasa Tasu’a dan Asyura
Di bulan Muharram, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari ke-9 (Tasu’a) dan hari ke-10 (Asyura). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab:
“Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim, No: 1977).
Niat Puasa Tasu'a:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnatit Tasu‘a lillahi ta‘ala
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Tasu‘a esok hari karena Allah SWT."
Hikmah dan Manfaat Menjalankan Puasa Sunnah

Menjalankan puasa sunnah bukan sekadar menahan lapar dan haus. Di balik ibadah yang tampak sederhana ini, tersimpan banyak hikmah dan manfaat yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara spiritual maupun emosional.
Berikut beberapa hikmah dan manfaat menjalankan puasa sunnah:
- Melatih kesabaran dan pengendalian diri
Salah satu hikmah utama puasa sunnah adalah melatih kesabaran. Dengan menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, seseorang belajar mengendalikan emosi serta sikap dalam berbagai situasi.
Kebiasaan ini perlahan membentuk pribadi yang lebih tenang, tidak mudah terpancing amarah, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.
- Mendekatkan diri kepada Allah SWT
Puasa sunnah menjadi sarana untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Saat berpuasa, seseorang cenderung lebih menjaga perilaku, ucapan, dan perbuatan agar tetap bernilai ibadah.
Amalan ini juga membantu meningkatkan keikhlasan karena dilakukan tanpa kewajiban, semata-mata karena ingin mencari rida Allah SWT.
- Menumbuhkan rasa empati terhadap sesama
Dengan merasakan lapar dan haus, puasa sunnah membantu menumbuhkan empati kepada mereka yang kurang beruntung. Dari sini muncul rasa syukur atas nikmat yang sering kali dianggap biasa.
Empati ini mendorong seseorang untuk lebih peduli, gemar berbagi, dan ringan tangan dalam membantu sesama.
- Menjaga Keseimbangan Mental dan Emosi
Puasa sunnah juga berdampak positif bagi kesehatan mental. Pola makan yang lebih teratur dan fokus ibadah membantu pikiran menjadi lebih tenang serta mengurangi stres.
Banyak Mama yang merasa lebih fokus dan emosinya lebih stabil setelah menjalankan puasa sunnah secara rutin.
- Membantu menjaga kesehatan tubuh
Selain manfaat spiritual, puasa sunnah memberi waktu bagi tubuh untuk beristirahat dari proses pencernaan. Hal ini dapat membantu menjaga metabolisme dan membuat tubuh terasa lebih ringan.
Jika dilakukan dengan pola makan yang seimbang saat sahur dan berbuka, puasa sunnah bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat.
Nah, itulah penjelasan singkat mengenai apa itu puasa sunnah. Semoga bermanfaat, ya, Ma!
FAQ Seputar Puasa Sunnah
| Apakah niat puasa sunnah harus dilakukan malam hari? | Niat puasa sunnah tidak wajib dilakukan pada malam hari. Berbeda dengan puasa wajib, niat puasa sunnah diperbolehkan di pagi atau siang hari (sebelum masuk waktu Dzuhur/tergelincir matahari) asalkan belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar. |
| Bolehkah menggabungkan niat puasa sunnah dengan puasa qadha Ramadan? | Boleh menurut sebagian ulama, dan tetap mendapatkan pahala puasa sunnah. Namun, sebagian ulama menganjurkan memisahkannya agar pahala lebih sempurna. |
| Apakah ada waktu yang dilarang untuk melakukan puasa sunnah? | Ya, dilarang berpuasa pada hari Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah), kecuali dalam kondisi tertentu. |


















