Ilmu kesehatan terus berkembang dari waktu ke waktu, terbaru ada ahli biologi asal China bernama Hongmei Wang. Ia tengah meneliti dan menguji untuk bisa memperlama masa subur perempuan.
Ilmuwan China Teliti Perlama Masa Subur Perempuan, Haid 3 Bulan Sekali

- Hongmei Wang, ahli biologi reproduksi China, meneliti cara memperpanjang masa subur perempuan dengan menunda menopause dan mengatur pelepasan sel telur untuk menghadapi krisis demografi global.
- Tim Wang berhasil menggunakan terapi sel punca untuk memulihkan fungsi ovarium, menghasilkan kelahiran bayi sehat pada primata dan empat perempuan yang sebelumnya mengalami kegagalan ovarium dini.
- Wang juga menguji ide siklus menstruasi tiga bulanan guna menghemat cadangan sel telur, serta meneliti fase embrio awal dan plasenta buatan untuk meningkatkan keberhasilan kehamilan di masa depan.
Ini bisa jadi penelitian paling dinanti di tengah dunia yang menghadapi salah satu tantangan terbesar abad ini: krisis demografi.
Sebagai peneliti di laboratorium sel punca di Beijing, ia fokus mempelajari tahap awal perkembangan manusia untuk menemukan cara memperpanjang masa reproduksi.
Penelitiannya menjadi semakin penting di tengah penurunan angka kelahiran yang drastis, tidak hanya di China tetapi juga di banyak negara lain.
Hongmei Wang, perempuan berusia 52 tahun hampir menemukan solusi itu. Ia merupakan ahli biologi reproduksi dari Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences, bertujuan untuk memberikan solusi bagi tantangan penuaan populasi dan penurunan angka kelahiran.
Seperti apa penelitian Hongmei Wang? Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.
1. Menunda menopause demi memperpanjang masa subur

Secara biologis, perempuan lahir dengan jumlah sel telur yang terbatas yakni sekitar 400 sel telur fungsional yang akan dilepaskan dari masa pubertas hingga menopause.
Fokus utama Wang adalah mencari cara untuk menghambat kecepatan pelepasan sel telur ini agar masa subur seorang perempuan dapat bertahan lebih lama dari biasanya.
Jika menopause bisa ditunda meski hanya satu tahun, dampaknya terhadap peluang kehamilan di usia matang akan sangat besar secara sosial.
Namun, Wang memberikan catatan kritis bahwa intervensi ini tidaklah sederhana. Menunda menopause melalui penghambatan ovulasi dapat mengganggu keseimbangan hormon alami tubuh.
Rendahnya produksi estrogen akibat manipulasi tersebut justru berisiko mengganggu kesehatan perempuan secara keseluruhan, mengingat estrogen berperan penting bagi kekuatan tulang dan kesehatan jantung.
"Jika kita menghambat ovulasi, kita bisa menghemat sel telur yang tersedia, tetapi di saat yang sama kita menghambat produksi estrogen, yang merupakan molekul sangat penting bagi kesehatan,” jelas Wang dikutip dari website El Pais.
2. Terapi sel punca untuk mengatasi kemandulan

Tim yang dipimpin Wang telah mencatat keberhasilan luar biasa dalam menggunakan sel punca manusia untuk memulihkan fungsi reproduksi.
Dalam eksperimen pada primata, mereka menyuntikkan sel punca ke indung telur kera yang mandul, yang secara ajaib menghasilkan kelahiran bayi monyet yang sehat.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa sel punca memiliki potensi besar untuk meregenerasi jaringan reproduksi yang sudah tidak berfungsi.
Lebih jauh lagi, Wang telah melakukan uji klinis pada 63 perempuan yang menderita kegagalan ovarium dini sebuah kondisi di mana perempuan kehilangan kesuburan jauh sebelum usia menopause normal.
Hasilnya sangat menjanjikan, di mana empat dari perempuan tersebut berhasil hamil dan melahirkan bayi yang sehat setelah menjalani transplantasi sel punca. Metode ini pun kini telah dipatenkan untuk dikembangkan secara komersial.
3. Eksperimen siklus menstruasi tiga bulanan

Salah satu gagasan paling radikal yang sedang dieksplorasi Wang adalah mengubah siklus menstruasi bulanan menjadi per kuartal atau tiga bulan sekali.
Dasar pemikirannya adalah efisiensi biologis karena dengan mengurangi frekuensi ovulasi dalam setahun, cadangan sel telur yang berkualitas tinggi dapat disimpan lebih lama untuk digunakan saat perempuan tersebut benar-benar siap secara mental dan finansial untuk memiliki anak.
Saat ini, ide tersebut masih dalam tahap pengujian intensif pada model tikus di laboratorium. Wang ingin memastikan apakah pengurangan frekuensi menstruasi ini aman bagi rahim dan tidak menimbulkan efek samping jangka panjang.
Jika berhasil, ini bisa menjadi pilihan gaya hidup medis bagi perempuan modern yang ingin menyeimbangkan karier dan keinginan membangun keluarga tanpa harus terburu-buru oleh faktor usia.
4. Menyingkap misteri "sastrulasi" (hari ke-14 embrio)

Dalam biologi perkembangan, terdapat masa kritis yang disebut gastrulasi, yaitu saat sel-sel embrio mulai mengatur diri menjadi struktur tiga dimensi yang akan menjadi cikal bakal organ tubuh.
Wang menjelaskan bahwa banyak kehamilan gagal di fase ini karena proses "tarian" sel yang sangat rumit tidak berjalan semestinya.
Sayangnya, karena keterbatasan hukum yang melarang penelitian embrio di atas 14 hari, periode ini masih menjadi kotak hitam bagi para ilmuwan.
Wang secara aktif mendorong perubahan regulasi agar penelitian embrio dapat diperpanjang hingga 20 atau 28 hari. Dengan menyingkap apa yang terjadi di minggu ketiga dan keempat kehamilan, para peneliti dapat memahami alasan medis di balik keguguran dini yang sering tidak terdeteksi.
Pemahaman ini sangat krusial untuk meningkatkan angka keberhasilan program bayi tabung (IVF) di masa depan.
5. Fokus pada keajaiban plasenta

Bagi Wang, plasenta adalah organ paling luar biasa namun paling kurang dihargai dalam dunia medis. Selama masa kehamilan, plasenta tumbuh menjadi struktur yang sangat luas dan kompleks untuk memastikan janin mendapatkan nutrisi yang cukup.
Wang menyoroti bahwa banyak masalah perkembangan janin sebenarnya berakar pada malfungsi plasenta, bukan pada janin itu sendiri.
Melalui kerja sama internasional, Wang kini mengembangkan model organoid atau "plasenta buatan" untuk mempelajari interaksi antara ibu dan janin tanpa melanggar batasan etika.
Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang paling optimal bagi pertumbuhan embrio sejak hari pertama, guna memastikan setiap kehamilan yang diinginkan dapat berjalan lancar hingga hari persalinan.
"Tepat sebelum kelahiran, plasenta mengandung sekitar 58.000 inti sel dan berukuran 16 meter persegi. Tidak ada struktur lain di tubuh yang berukuran sebesar itu yang menjadi bagian dari sebuah organ,” jelasnya dalam artikel itu.
Meskipun teknologi ini menawarkan harapan bagi krisis demografi, Wang tetap menekankan bahwa sains hanyalah alat. Keputusan akhir untuk memanfaatkan teknologi reproduksi ini tetap berada di tangan masyarakat dan individu yang menjalaninya.
Itulah tadi informasi mengenai ilmuwan China teliti perlama masa subur perempuan, salah satunya dengan haid 3 bulan sekali. Wah, semakin penasaran dengan kelanjutan risetnya.


















