Mengenal HIPEC dan CRS, Teknologi Canggih Lawan Kanker Area Perut

- Kombinasi CRS dan HIPEC menjadi terobosan baru dalam pengobatan kanker peritoneal stadium lanjut, menargetkan sel kanker hingga tingkat mikroskopis untuk menekan risiko kekambuhan.
- Suhu panas pada terapi HIPEC meningkatkan efektivitas kemoterapi, terbukti mampu memperpanjang harapan hidup pasien hampir dua kali lipat dibanding metode konvensional.
- Layanan CRS dan HIPEC kini tersedia di Indonesia melalui Primaya Hospital Kelapa Gading, menghadirkan standar internasional dengan dukungan tim medis multidisiplin.
Penanganan kanker masih menjadi tantangan besar, terutama ketika sel kanker menyebar ke rongga perut atau area peritoneum. Pada kondisi ini, pilihan terapi konvensional kerap dianggap belum cukup efektif untuk menjangkau sel kanker secara menyeluruh, sehingga risiko kekambuhan pun masih tinggi.
Namun, perkembangan dunia medis kini menghadirkan harapan baru. Melalui kombinasi teknologi cytoreductive surgery (CRS) dan hyperthermic intraperitoneal chemotherapy (HIPEC), pengobatan kanker tidak lagi hanya berfokus pada pengangkatan tumor yang terlihat, tetapi juga menyasar sel kanker hingga ke tingkat mikroskopis.
Ini menjadi angin segar untuk meningkatkan peluang hidup pasien kanker yang menyerang area rongga perut, apalagi sudah stadium lanjut.
Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.
Table of Content
1. Teknologi HIPEC dan CRS: Harapan baru kanker stadium lanjut

Kanker yang telah menyebar ke rongga perut atau area peritoneum misalnya kanker ovarium, kolorektal, dan lambung punya pilihan pengobatan. Lewat cara ini diklaim memiliki peluang kesembuhan yang lebih baik.
Melalui kombinasi tindakan cytoreductive surgery (CRS) dan hyperthermic intraperitoneal chemotherapy (Hipec), sel kanker tidak hanya diangkat secara fisik, tetapi juga dibasmi hingga ke level mikroskopis. Di Indonesia, lebih dari 408.000 kasus kanker baru tercatat setiap tahunnya, dan teknologi ini hadir untuk menjawab tantangan pengobatan pada stadium lanjut.
Prosedur ini dilakukan dengan mengangkat tumor yang tampak melalui pembedahan CRS terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan mengalirkan obat kemoterapi bersuhu tinggi langsung ke rongga perut.
Dokter spesialis kandungan dan kebidanan subspesialis onkologi Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Kartiwa Hadi, menjelaskan keunggulan metode ini bagi pasien.
"Prosedur tersebut tidak hanya mengangkat tumor yang tampak, tetapi juga menargetkan sel kanker mikroskopis yang kerap menjadi pemicu kekambuhan," ungkapnya saat seminar kesehatan pada Selasa (28/4/2026).
2. Keunggulan suhu panas dalam menjangkau sel kanker yang sulit

Salah satu alasan mengapa kombinasi terapi ini dianggap revolusioner adalah efektivitasnya yang jauh melampaui kemoterapi konvensional. Suhu panas yang digunakan dalam cairan kemoterapi HIPEC dirancang untuk meningkatkan kerja obat secara optimal pada area yang sulit dijangkau oleh metode sistemik biasa.
Penelitian menunjukkan bahwa sinergi antara pembedahan dan suhu panas ini mampu meningkatkan harapan hidup atau median survival pasien hingga hampir dua kali lipat dibandingkan terapi standar.
Dokter spesialis bedah subspesialis bedah digestif Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Fajar Firsyada, menekankan pentingnya ketepatan indikasi agar hasil yang didapat maksimal. Ia menyatakan bahwa HIPEC menjadi pendekatan krusial dalam memberikan peluang bertahan hidup yang lebih baik.
"HIPEC menjadi salah satu pendekatan penting dalam penanganan kanker dengan keterlibatan peritoneal karena dapat memberikan peluang survival yang lebih baik dibandingkan terapi konvensional apabila dilakukan pada pasien yang sesuai indikasi,” terangnya.
3. Pengobatan standar internasional kini tersedia di dalam negeri

Pengobatan kanker di luar negeri masih lebih dipercaya bagi banyak pasien Indonesia. Pasalnya rumah sakit di sana menyediakan banyak pilihan terapi kanker peritoneal berstandar internasional.
Namun, saat ini layanan tersebut sudah tersedia di dalam negeri, salah satunya melalui unit khusus di Primaya Hospital Kelapa Gading. Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat memudahkan keluarga pasien dalam mengakses perawatan medis canggih tanpa perlu terkendala jarak dan biaya akomodasi ke luar negeri.
Keberhasilan pengobatan tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat, tetapi juga pada kolaborasi tim medis multidisiplin yang komprehensif. Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Ferry Aryo, menegaskan bahwa penanganan yang terintegrasi mulai dari bedah, onkologi, hingga gizi klinis adalah kunci utama.
"Keberhasilan tindakan sangat bergantung pada kolaborasi lintas disiplin, mulai dari bedah, onkologi, anestesi, rehabilitasi hingga nutrisi klinis untuk memastikan hasil terbaik bagi pasien,” tuturnya.
Itulah tadi informasi mengenai teknologi HIPEC dan CRS yang menjadi salah satu harapan baru dalam penanganan kanker stadium lanjut. Semoga membantu!


















