Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengenal Stockholm Syndrome yang Banyak Dialami Korban KDRT, Ini Kata Psikolog!

Mengenal Stockholm Syndrome yang Banyak Dialami Korban KDRT, Ini Kata Psikolog!
ilustrasi seseorang melakukan KDRT (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Stockholm syndrome adalah kondisi psikologis di mana korban kekerasan justru merasa bergantung dan memiliki perasaan positif terhadap pelaku sebagai mekanisme bertahan hidup.
  • Faktor pemicu utamanya meliputi ancaman berulang, isolasi sosial dari lingkungan, serta kebaikan kecil yang membuat korban menilai pelaku secara positif meski mengalami kekerasan.
  • Dampaknya mencakup hilangnya kemampuan mengenali bahaya, ketergantungan emosional dan finansial pada pelaku, hingga penolakan bantuan luar karena berharap pelaku akan berubah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Saat melihat atau mengetahui kasus KDRT, tidak sedikit korban yang akhirnya memaafkan kembali atau tidak sakit hati dengan pelaku. Ternyata, reaksi tersebut bisa jadi muncul karena Stockholm Syndrome. Apa itu?

Singkatnya, stockholm syndrome merupakan gangguan psikologis yang kerap terjadi pada tawanan, sandera, hingga korban kekerasan.

Bukannya takut, korban yang mengalami stockholm syndrome justru menunjukkan perasaan bergantung dan ketertarikan, sehingga takut jika harus berpisah dengan pelaku.

Ada berbagai faktor terjadinya stockholm syndrome hingga berdampak terhadap psikologis korban.

Selengkapnya, Popmama.com telah merangkum informasi untuk mengenal stockholm syndrome yang banyak dialami korban KDRT.

Table of Content

Apa Itu Stockholm Syndrome?

Apa Itu Stockholm Syndrome?

Apa Itu Stockholm Syndrome?
ilustrasi KDRT (pexels.com/Alex Green)

Bukan hanya di film atau drama, korban yang mengalami stockholm syndrome banyak ditemui di realita sekitar, baik dalam hubungan keluarga, percintaan, bahkan pertemanan. 

Melansir Cleveland Clinic, stockholm syndrome merupakan mekanisme mengatasi situasi saat menjadi tawanan atau korban kekerasan dengan mengembangkan perasaan positif terhadap penculik atau pelaku.

Stockholm syndrome bukanlah diagnosis resmi dalam psikologi klinis, namun kondisi ini menggambarkan kondisi korban yang dipengaruhi oleh trauma yang dialami.

Psikolog Klinis dan Trauma Specialist, Olphi Disya Arinda, M.Psi., Psikolog mengatakan bahwa stockholm syndrome dapat terjadi karena didorong oleh persepsi bawah sadar korban.

“Cara terbaik untuk bisa bertahan hidup (menurut korban), survive dalam kondisi seperti itu (penculikan atau kekerasan) dengan menyenangkan pelaku, mengidentifikasi diri dengan perspektif pelaku, dan mengabaikan bahaya demi menjaga keamanan diri yang sebenarnya bukan sesungguhnya,” kata Psikolog Disya kepada Popmama.com, Kamis (9/7/26).

Faktor yang Memicu Stockholm Syndrome pada Korban KDRT

Faktor yang Memicu Stockholm Syndrome pada Korban KDRT
ilustrasi KDRT (freepik.com/freepik)

Kondisi yang dialami oleh korban KDRT bisa bermacam-macam dan tidak semua korban mengalami stockholm syndrome. Lantas, apa yang menyebabkan terjadinya stockholm pada korban KDRT?

Manipulasi yang diberikan pelaku kepada korban setidaknya membuat korban mengalami beberapa hal berikut ini:

1. Mendapat ancaman

Korban KDRT sering mengalami kekerasan fisik maupun psikologis secara berulang, biasanya kekerasan juga terjadi disertai dengan ancaman dari pasangan atau abuser. Pada titik ini, pelaku bisa mengendalikan penuh hidup korban. 

2. Mengalami isolasi sosial

Pelaku KDRT biasanya memiliki controlling power untuk mengisolasi korbannya dari keluarga dan teman, sehingga ketika korban kehilangan support system, satu-satunya sumber keamanan yang tersisa cuma pelaku. Hal ini yang membuat korban akhirnya tidak bisa lepas dari pelaku KDRT.

3. Adanya kebaikan yang dirasakan korban

Psikolog Mayapada Healthcare yang juga lulusan Universitas Indonesia tersebut juga menambahkan bahwa kebaikan kecil yang dirasakan korban KDRT akan mengubah pandangan terhadap pelaku dan menutupi kesalahan sebelumnya.

”Ada beberapa momen pelaku minta maaf dan memberikan hadiah, bersikap sangat manis atau bahkan sesimpel disuruh makan setelah disiksa, kebaikan kecil dipersepsikan seperti sesuatu yang besar oleh otak korban sebagai tanda pelaku baik dan hanya marah sesaat,” ujar Disya.

Dampak Stockholm Syndrome Terhadap Korban KDRT

Dampak Stockholm Syndrome Terhadap Korban KDRT
ilustrasi korban KDRT dan psikolog (pexels.com/Timur Weber)

Stockholm syndrome yang terjadi pada korban KDRT akan memberikan dampak buruk yang bisa berakibat fatal. 

  1. Sulit mengetahui tanda bahaya

Manipulasi yang terus-menerus terjadi bisa membuat korban kehilangan kemampuan untuk objektif menilai tanda bahaya. Hal ini juga dapat membuat korban menyalahkan diri sendiri, berpikir bahwa tindakan pelaku merupakan akibat perilaku korban.

  1. Berharap korban berubah

Stockholm syndrome yang dialami bisa membuat korban KDRT menolak bantuan dari luar. Tidak sedikit yang akhirnya mencabut laporannya dari pihak berwajib karena memaafkan pelaku dan berharap adanya perubahan.

  1. Kehilangan diri sendiri

Korban KDRT juga bisa kehilangan diri sendiri karena sulit menentukan keputusan dan menjalani hidup mereka sendiri akibat korban mengendalikan penuh. Akhirnya, korban menjadi sulit menentukan keputusan sehingga cenderung bergantung pada pelaku dalam menjalani hidup.

  1. Terasingkan dari dunia luar

Korban KDRT juga akan terasingkan dari dunia luar karena akses yang dibatasi oleh pelaku. Ancaman pelaku membuat korban takut sehingga memilih menurut apa yang diperintahkan kepada mereka.

Kenapa Banyak Korban KDRT Memilih Bertahan?

Kenapa Banyak Korban KDRT Memilih Bertahan?
ilustrasi trauma penganiayaan KDRT (freepik.com/freepik)

Tidak sedikit kotban KDRT memilih bertahan dengan kondisinya, padahal telah diperingati oleh orang-orang sekitar, atau bahkan selalu mengurungkan diri saat ingin keluar dari kondisi ini. 

Alasan korban untuk bertahan bisa bermacam-macam dan tidak dapat digeneralisir, namun biasanya korban KDRT mempertimbangkan beberapa hal, mulai dari terbiasa dengan siklus yang dilakukan pelaku, merasa tidak berdaya, hingga ketergantungan secara finansial.

“Perubahan drastis dari rasa takut di mana kortisol jaid meningkat ke rasa disayang itu ada pelepasan hormon dopamin dan oksitosin, itu akan menciptakan rasa kecanduan di otak, mirip kecanduan narkoba,” jelas Disya.

Banyak juga korban yang akhirnya berpikir apapun yang mereka lakukan tidak akan mengubah keadaan, sehingga mereka memilih pasrah dan bertahan dengan kondisi yang mereka alami.

Itu dia penjelasan mengenal stockholm syndrome yang banyak dialami korban KDRT.

Stockholm syndrome dapat menyebabkan berbagai masalah psikologis serius sehingga perlu diatasi dengan berkonsultasi kepada ahlinya.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias

Related Articles

See More