Pendengaran menjadi salah satu indra penting yang membantu manusia mengenali suara, memahami percakapan, hingga merespons berbagai hal di lingkungan sekitar.
Menurut Studi: Telinga Laki-Laki Disebut Kurang Sensitif

Studi terhadap 450 orang dari 13 populasi di lima negara menemukan perempuan rata-rata memiliki sensitivitas pendengaran 2 desibel lebih tinggi daripada laki-laki.
Perbedaan struktur koklea dan paparan hormon sejak dalam kandungan diduga berperan, tetapi penyebab pasti perbedaan sensitivitas pendengaran antargender masih memerlukan penelitian lanjutan.
Sensitivitas pendengaran juga dipengaruhi usia, suara keras, asap rokok, lingkungan, sisi telinga, serta variasi bahasa dan populasi; telinga kanan umumnya lebih peka.
Selama ini, penurunan kemampuan mendengar kerap dikaitkan dengan pertambahan usia. Padahal, ada faktor biologis dan lingkungan lain yang turut berperan dalam memengaruhi sensitivitas pendengaran seseorang.
Menariknya, sebuah studi menemukan adanya perbedaan sensitivitas pendengaran antara laki-laki dan perempuan sehingga membuka pembahasan lebih lanjut terkait hal tersebut.
Agar bisa mengetahui jawabannya, berikut Popmama.com rangkum penjelasan dari Hearing Practitioner News. Mari disimak!
Table of Content
1. Telinga laki-laki kurang sensitif, diduga karena perbedaan struktur koklea

Pexels/MART PRODUCTION Studi yang melibatkan 450 orang dari 13 populasi di lima negara menemukan bahwa perempuan memiliki sensitivitas pendengaran rata-rata 2 desibel lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Jenis kelamin menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap perbedaan sensitivitas pendengaran dalam penelitian tersebut. Meski begitu, peneliti belum mengetahui secara pasti alasan di balik perbedaan ini.
Profesor Turi King dari University of Bath menduga hal tersebut mungkin berkaitan dengan perbedaan struktur koklea, yaitu bagian telinga dalam yang berperan dalam proses pendengaran.
2. Perbedaan paparan hormon sejak dalam kandungan diduga memengaruhi pendengaran

Pexels/SHVETS production Profesor Turi King juga menduga bahwa perbedaan paparan hormon selama perkembangan di dalam kandungan dapat memengaruhi sensitivitas pendengaran laki-laki dan perempuan.
Faktor ini menjadi salah satu kemungkinan yang diajukan untuk menjelaskan mengapa perempuan dalam penelitian tersebut memiliki sensitivitas pendengaran rata-rata 2 desibel lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Meski begitu, penyebab pasti perbedaan sensitivitas pendengaran tersebut masih belum diketahui dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
3. Faktor yang memengaruhi sensitivitas pendengaran

Pexels/Mikhail Nilov Selain faktor di atas, ada juga faktor lain yang memengaruhi sensitivitas pendengaran, yaitu:
Usia memengaruhi kemampuan mendengar sensitivitas pendengaran umumnya menurun seiring bertambahnya usia. Selain itu, paparan suara keras dan zat seperti asap rokok juga dapat merusak pendengaran.
Lingkungan tempat tinggal turut berperan penelitian menemukan bahwa orang yang tinggal di kawasan hutan memiliki sensitivitas pendengaran tertinggi, sedangkan mereka yang tinggal di dataran tinggi memiliki sensitivitas terendah. Kondisi ini diduga berkaitan dengan karakteristik suara dan paparan polusi di lingkungan setempat.
Telinga kanan umumnya lebih sensitif manusia secara umum diketahui memiliki kemampuan mendengar yang lebih baik di telinga kanan dibandingkan telinga kiri. Perbedaan sisi telinga ini juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam penelitian.
Bahasa dan populasi berkaitan dengan variasi pendengaran peneliti menemukan adanya variasi sensitivitas pendengaran antarpopulasi yang berkaitan dengan bahasa dan karakteristik kelompok. Namun, penyebab pasti dari perbedaan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Itu dia penjelasan mengenai alasan telinga laki-laki diduga kurang sensitif. Meski begitu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami penyebab pastinya.























