Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Pola Makan Sehat dan Berkelanjutan melalui Transformasi Digital

Pola Makan Sehat dan Berkelanjutan melalui Transformasi Digital
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI
Intinya Sih
  • Indonesia menghadapi tantangan gizi kompleks, termasuk stunting, kelebihan berat badan, dan defisiensi mikronutrien, yang menuntut pendekatan sistemik dari produksi hingga konsumsi pangan.
  • Riset kolaboratif MyINDAH Diet mengusung transformasi digital inklusif untuk mendorong pola makan sehat berbasis pangan lokal melalui konsep model piring sehat yang seimbang dan realistis.
  • Pendekatan digital difokuskan pada dua sasaran: konsumen dengan panduan gizi praktis serta petani dengan dukungan teknologi pertanian sederhana sesuai kebutuhan lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Indonesia tengah menghadapi tantangan gizi yang tidak sederhana. Di satu sisi, angka stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar. Di sisi lain, tren kelebihan berat badan dan konsumsi pangan olahan terus meningkat, terutama di wilayah perkotaan.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan lagi semata soal ketersediaan, tetapi juga soal kualitas, pola konsumsi, serta akses terhadap informasi gizi yang tepat.

Di tengah kompleksitas tersebut, transformasi digital mulai dilihat sebagai bagian dari solusi.

Transformasi digital yang inklusif berarti menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat, melibatkan petani dan keluarga, serta berbasis pada pangan lokal yang sudah akrab di meja makan sehari-hari.

Pendekatan inilah yang diusung dalam riset kolaboratif MyINDAH Diet yang didukung oleh KONEKSI.

Inisiatif ini mempertemukan berbagai institusi seperti The University of Queensland, Monash University, BRIN, IPB University, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, bersama mitra lainnya.

Kolaborasi lintas disiplin ini berfokus pada solusi digital untuk mendorong pola makan sehat dan berkelanjutan di wilayah perkotaan dan peri-perkotaan di Pulau Jawa.

Berikut, Popmama.com akan membahas lebih rinci tentang pola makan sehat dan berkelanjutan melalui transformasi digital. Yuk simak pembahasan berikut ini.

Table of Content

Tantangan Gizi: Lebih dari Sekadar Ketersediaan Pangan

Tantangan Gizi: Lebih dari Sekadar Ketersediaan Pangan

Pola Makan Sehat dan Berkelanjutan melalui Transformasi Digital
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Indonesia menghadapi apa yang sering disebut sebagai Triple Burden of Malnutrition kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan defisiensi mikronutrien terjadi secara bersamaan.

Pola makan masyarakat umumnya sudah mencakup berbagai kelompok pangan, tetapi proporsinya belum seimbang.

Hal ini disampaikan oleh Yuni Zahraini selaku Ketua Tim Kerja Gizi Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan

“Kami terus mendorong masyarakat kembali pada prinsip gizi seimbang dengan memanfaatkan pangan lokal. Inisiatif seperti MyINDAH Diet menjadi langkah penting untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan gizi harian secara lebih bijak dan sehat.” ucapnya dalam acara Riset Kolaboratif KONEKSI Dorong Pola Makan Sehat dan Berkelanjutan Lewat Transformasi Digital yang Inkulif, pada Rabu, 25 Februari 2026, di Jakarta.

Karbohidrat, terutama nasi, masih mendominasi piring makan, sementara asupan protein dan sayuran seringkali lebih sedikit dari yang dianjurkan.

Selain itu, tantangan perubahan iklim, kehilangan dan pemborosan pangan (food loss and waste), serta kerentanan wilayah terhadap bencana turut memengaruhi sistem pangan.

Artinya, pendekatan yang dibutuhkan tidak bisa parsial. Perlu cara pandang sistemik dari hulu produksi hingga hilir konsumsi.

Menguatkan Pangan Lokal Lewat Model Piring Sehat

Pola Makan Sehat dan Berkelanjutan melalui Transformasi Digital
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Salah satu temuan penting dari riset ini adalah potensi besar pangan lokal Indonesia. Tempe, misalnya, memiliki kandungan protein yang tinggi, bahkan mencapai sekitar 40–55 persen dari berat keringnya.

Sayuran hijau seperti bayam kaya akan mikronutrien penting. Jika dikombinasikan dalam satu piring bersama nasi dan sayur, menu sederhana ini dapat memenuhi sekitar 30–55% kebutuhan protein dan mineral harian.

Temuan ini melahirkan konsep Nutritious Plate Model atau model piring sehat berbasis pangan lokal.

Model ini menekankan keseimbangan proporsi, tidak menghilangkan nasi sebagai makanan pokok, tetapi mengoptimalkan porsi protein nabati dan sayuran agar lebih seimbang.

Pendekatan ini dinilai realistis karena tidak mengubah kebiasaan secara drastis, melainkan menyesuaikan proporsi dalam pola makan yang sudah akrab bagi masyarakat.

Riset lapangan menunjukkan bahwa keputusan terkait makanan di rumah tangga sangat dipengaruhi oleh preferensi keluarga, terutama pasangan dan anak.

Menariknya, persepsi tentang “makanan sehat” kerap dibentuk oleh pengalaman, tradisi, dan informasi yang beredar di media sosial atau grup percakapan seperti WhatsApp.

Hal ini menunjukkan bahwa edukasi gizi tidak bisa hanya mengandalkan kampanye satu arah. Informasi perlu disampaikan melalui kanal yang sudah digunakan dan dipercaya masyarakat.

Digitalisasi yang Membumi untuk Petani dan Konsumen

Pola Makan Sehat dan Berkelanjutan melalui Transformasi Digital
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Transformasi digital dalam konteks ini tidak dimulai dari teknologi yang rumit, melainkan dari realitas lapangan.

Sebagian besar petani yang terlibat dalam riset telah menggunakan ponsel pintar berbasis Android selama lebih dari lima tahun, dengan intensitas penggunaan hampir setiap hari.

Namun, pemanfaatan teknologi untuk aktivitas pertanian masih terbatas pada fungsi dasar. Kesenjangan literasi digital antarwilayah juga terlihat jelas.

Wening Aulia Zulkarnain selaku Perencana Ahli Pertama Direktorat Pendidikan Tinggi dan IPTEK Kementerian PPN/Bappenas mengatakan

“Kami terus mendorong masyarakat kembali pada prinsip gizi seimbang dengan memanfaatkan pangan lokal. Inisiatif seperti MyINDAH Diet menjadi langkah penting untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan gizi harian secara lebih bijak dan sehat." ujarnya dalam acara Riset Kolaboratif KONEKSI Dorong Pola Makan Sehat dan Berkelanjutan Lewat Transformasi Digital yang Inkulif, pada Rabu, 25 Februari 2026, di Jakarta.

Beberapa daerah relatif lebih siap mengadopsi aplikasi pertanian berbasis data, sementara wilayah lain masih membutuhkan pendampingan dan aplikasi yang lebih sederhana.

Fakta ini menegaskan bahwa pendekatan digital tidak bisa seragam, ia harus disesuaikan dengan tingkat kesiapan dan kebutuhan lokal.

Di sisi konsumen, penggunaan platform seperti WhatsApp, YouTube, dan media sosial dengan konten singkat lebih dominan. Artinya, desain solusi digital harus ringkas, mudah dipahami, dan terintegrasi dengan kebiasaan penggunaan sehari-hari.

Melalui MyINDAH Diet, pendekatan digital diterjemahkan dalam dua sasaran utama yaitu konsumen dan petani.

Bagi konsumen, platform ini menyediakan panduan piring sehat berbasis pangan lokal, resep yang disesuaikan dengan bahan setempat, serta basis data komposisi pangan untuk membantu pengambilan keputusan yang lebih sadar gizi.

Bagi petani, tersedia panduan budidaya, informasi hama dan penyakit tanaman, hingga kalender tanam yang relevan dengan kondisi iklim setempat.

Itulah pembahasan tentang pola makan sehat dan berkelanjutan melalui transformasi digital.

Dengan demikian, aplikasi tidak hanya mendorong perubahan di sisi konsumsi, tetapi juga memperkuat ketahanan produksi di tingkat hulu.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias
Follow Us

Latest in Life

See More