Seberapa Berbahaya Penyakit Anemia Aplastik? Ketahui 5 Penyebabnya!

Apa itu anemia aplastik?

29 Oktober 2019

Seberapa Berbahaya Penyakit Anemia Aplastik Ketahui 5 Penyebabnya
Freepik/yanalya

Sebagian orang mungkin lebih familiar dengan penyakit anemia dibandingkan anemia aplastik. Meski jenis penyakit dan namanya hampir sama, tetapi ternyata penderita penyakit anemia aplastik bisa mengalami dampak yang lebih serius.

Pasalnya, ketika seseorang mengidap penyakit ini artinya sumsum tulang belakang tidak lagi mampu memproduksi sel darah baru mencakup sel darah merah, sel darah putih dan platelet. Akibatnya, seseorang lebih berisiko terkena infeksi, masalah jantung serius dan perdarahan yang tak terkendali.

Gejala Penyakit Anemia Aplastik

Gejala Penyakit Anemia Aplastik
Freepik

Tidak banyak orang yang tahu tentang penyakit ini karena kasusnya jarang terjadi. Akan tetapi, anemia aplastik bisa menyerang semua usia terutama pada masa kanak-kanak dan ketika seseorang menginjak usia 20-25 tahun.

Agak sulit mengenali gejalanya karena anemia aplastik dapat terjadi secara perlahan atau tiba-tiba.

Namun apabila kamu dapat menyadari gejalanya, maka perlu segera mendapat penanganan medis lebih lanjut.

Berikut ini adalah beberapa gejala penyakit anemia aplastik yang perlu diwaspadai:

  • dada terasa nyeri,
  • kepala sering sakit atau pusing,
  • kulit lebih pucat,
  • sesak napas,
  • mudah lelah,
  • tiba-tiba muncul memar,
  • sering mimisan atau gusi berdarah,
  • mengalami perdarahan berkepanjangan.

Pada saat mengalami gejala-gejala di atas, tidak semua orang sadar bahwa itu mungkin salah satu tanda adanya penyakit anemia aplastik.

Namun apabila semakin memburuk dari hari ke hari, jangan tunda lagi untuk periksa diri ke dokter.

Setiap orang memiliki kondisi tubuh masing-masing, jadi jangan anggap remeh gejala penyakit walaupun tampak sepele.

Penyebab Seseorang Terjangkit Anemia Plastik

Penyakit anemia aplastik dapat terjadi ketika sumsum tulang belakang mengalami kerusakan. Untuk faktornya sendiri ada beberapa macam, yang mana dapat berdampak sementara atau mengakibatkan kerusakan permanen.

Berikut Popmama.com sebutkan beberapa faktor pemicunya untuk Mama ketahui.

1. Paparan bahan kimia

1. Paparan bahan kimia
Freepik

Ada banyak bahan kimia beracun yang berbahaya bagi tubuh manusia. Misalnya seperti benzene, kandungan bahan kimia pada bensin, dan zat yang terkandung dalam pembunuh serangga.

Setelah isi bensin sebaiknya kamu membersihkan tangan meski tidak melakukannya sendiri. Cucilah tangan pakai sabun agar menjaga daya tahan tubuh dan meminimalisir risiko kesehatan.

Editors' Picks

2. Infeksi virus

2. Infeksi virus
Freepik/rawpixel.com

Beberapa virus juga dapat memengaruhi fungsi sumsum tulang belakang. Bisa jadi penderita anemia aplastik sebelumnya pernah terinfeksi virus HIV, hepatitis, Epstein-Barr, dan cytomegalovirus.

Jika mungkin, dapatkan suntik vaksin untuk menjaga kesehatan. Jaga kesehatan imun tubuh.

3. Penyakit autoimun

3. Penyakit autoimun
Freepik/katemangostar

Seseorang yang mengalami kelainan autoimun maka sel-sel sehat di dalam tubuhnya dapat diserang, termasuk sumsum tulang belakang.

4. Radiasi dan kemoterapi

4. Radiasi kemoterapi
Freepik

Ini merupakan upaya penyembuhan kanker, namun ternyata terapi ini juga bisa mematikan sumsum tulang belakang dan sel-sel sehat lainnya. Akan tetapi dalam kasus radiasi dan kemoterapi, biasanya penyakit anemia aplastik hanya terjadi sementara dan penderitanya bisa pulih setelah terapi selesai.

5. Mengonsumsi obat tertentu

5. Mengonsumsi obat tertentu
Pexels/JESHOOTS.com

Jika kamu ingin mengonsumsi obat seperti antibiotik dan rheumatoid arthritis, harus mendapatkan resep dari dokter atau setidaknya berdiskusi dengan apoteker terlebih dahulu. Pasalnya beberapa jenis obat tersebut bisa memicu penyakit anemia aplastik.

Itulah gejala dan penyebab anemia aplastik yang harus kamu ketahui agar bisa lebih waspada. Yuk, jaga kesehatan keluarga selagi bisa, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.