Perjuangan Mengharukan Rebecca Selamatkan Levi dari Spina Bifida

- Rebecca dan Anthony menjalani operasi janin di Belgia untuk memperbaiki kondisi spina bifida pada bayi mereka, Levi, meski penuh risiko bagi ibu dan anak.
- Levi lahir prematur 14 minggu lebih awal dan dirawat intensif di NICU, sementara orang tuanya menghadapi ketidakpastian dengan kesabaran dan harapan besar.
- Kisah ini menyoroti kekuatan cinta orang tua, dukungan medis, serta kemajuan teknologi yang memberi peluang hidup baru bagi bayi dengan kondisi langka.
Mendapatkan kabar kehamilan adalah momen yang sangat dinantikan, terutama setelah Rebecca Price dan Anthony Wileman berjuang menanti selama tiga tahun. Setelah sempat disarankan menjalani program bayi tabung, mereka justru menerima "kado Natal" terindah berupa garis dua pada test pack tepat di malam Natal. Kebahagiaan mereka pun terasa begitu lengkap.
Namun, perjalanan kehamilan Rebecca tidak berjalan mulus. Di usia 20 minggu, janin yang dikandungnya, Levi, didiagnosis menderita spina bifida, sebuah kondisi di mana tulang belakang bayi tidak berkembang sempurna. Kabar ini menjadi pukulan berat bagi mereka, terlebih saat dokter sempat menyarankan opsi penghentian kehamilan karena risiko yang ada.
Beruntung, secercah harapan muncul ketika mereka dinyatakan memenuhi syarat untuk menjalani bedah janin. Demi menyelamatkan sang buah hati, pasangan ini pun terbang jauh ke Belgia untuk melakukan prosedur operasi saat bayi masih berada di dalam rahim.
Berikut Popmama.com bagikan kisah haru di balik perjuangan bayi yang berhasil menjalani operasi saat masih di dalam kandungan tersebut.
Table of Content
1. Keberanian menjalani bedah janin di Belgia

Keputusan Rebecca dan Anthony untuk melakukan bedah janin di UZ Leuven, Belgia, adalah langkah besar yang tidak mudah. Prosedur ini dilakukan dengan harapan dapat memperbaiki kondisi tulang belakang Levi sedini mungkin. Meski operasi dinyatakan berjalan dengan sangat luar biasa oleh tim medis, perjuangan mereka tidak berhenti sampai di situ saja.
Pascaoperasi, kondisi kesehatan Rebecca sempat menurun drastis karena infeksi yang memicu sepsis. Hal ini memaksa tim dokter untuk mengambil tindakan cepat demi menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya. Bayi Levi akhirnya lahir melalui operasi caesar darurat pada 2 Juni, tepat 14 minggu lebih awal dari waktu yang seharusnya, dengan berat badan hanya sekitar 700 gram.
Momen pertemuan singkat selama 10 detik sebelum Levi harus dibawa ke unit perawatan intensif neonatus (NICU) menjadi saat-saat yang sangat emosional. Rebecca dan Anthony sadar bahwa tindakan medis tersebut adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan hidup mereka berdua. Keberanian mereka adalah bukti betapa besar kasih sayang orang tua untuk memberikan kesempatan hidup bagi anaknya, apa pun risikonya.
2. Menghadapi rollercoaster emosi di NICU

Sejak kelahirannya, Levi terus berjuang untuk bertahan di NICU. Masa-masa ini menjadi ujian kesabaran bagi Rebecca dan Anthony. Setiap hari adalah tantangan baru, di mana mereka harus menahan rasa cemas menunggu perkembangan kondisi si Kecil yang lahir sangat prematur.
Anthony mengungkapkan bahwa bagian tersulit dari situasi ini adalah ketidakpastian. "Yang paling membuat cemas adalah menunggu, tidak tahu apa yang akan terjadi besok," ungkap Anthony dengan jujur. Meski begitu, tim medis terus memberikan apresiasi terhadap kekuatan dan kepribadian Levi yang gigih, yang bahkan terlihat dari caranya merespons lingkungan di sekitarnya.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap detak jantung dan kemajuan kecil yang dicapai bayi di NICU adalah sebuah mukjizat. Bagi pasangan ini, harapan untuk bisa membawa pulang Levi ke rumah adalah impian terbesar yang saat ini mereka perjuangkan dengan penuh doa dan kesabaran di tengah ketidakpastian.
3. Kekuatan di balik harapan yang tak pernah padam

Kisah Levi mengajarkan kita bahwa meskipun tantangan medis terlihat mustahil, harapan selalu ada bagi mereka yang mau berjuang. Dukungan dari keluarga dan profesionalisme tim medis menjadi penyokong semangat bagi Rebecca dan Anthony untuk terus bertahan di tengah situasi yang sulit dan menantang ini.
Setiap perkembangan positif dari Levi, sekecil apa pun, menjadi bahan bakar bagi orang tuanya untuk tetap tegar. Mereka tidak hanya belajar tentang medis, tetapi juga belajar tentang arti ketangguhan, kasih sayang, dan pentingnya saling menguatkan sebagai pasangan di masa-masa tersulit dalam hidup mereka.
Perjuangan mereka juga membuktikan bahwa teknologi medis modern memberikan harapan baru bagi banyak keluarga di luar sana. Meskipun perjalanan mereka masih panjang, keberhasilan operasi di dalam rahim menjadi langkah awal yang monumental untuk kehidupan Levi yang lebih baik di masa depan.
Mama, kisah Rebecca dan Anthony ini mengajarkan kita tentang arti perjuangan seorang ibu dan ayah demi buah hati tercinta. Kehidupan mungkin memberikan ujian yang berat, namun kasih sayang orang tua adalah kekuatan paling luar biasa untuk menghadapinya. Mari kita doakan agar si Kecil Levi terus menunjukkan kemajuan dan bisa segera berkumpul dengan orang tuanya di rumah.
Tetaplah semangat dan jadikan kisah ini sebagai pengingat bahwa keajaiban selalu bisa terjadi bagi mereka yang tak pernah putus asa!


















