Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Puting Keras dan Sakit saat Menyusui?

Mengapa Puting Keras dan Sakit saat Menyusui?
freepik/freepik
Intinya Sih
  • Puting keras dan nyeri saat menyusui umumnya disebabkan oleh pelekatan yang dangkal, posisi tubuh yang kurang tepat, atau masalah fisik seperti tongue-tie pada bayi.
  • Infeksi jamur Candida dan iritasi kulit dapat memicu rasa perih serta membuat puting tampak kemerahan atau mengelupas, sehingga perlu dijaga kebersihan dan kelembapan area payudara.
  • Sumbatan saluran ASI atau milk blister menimbulkan nyeri tajam dan benjolan keras; kompres hangat serta menyusui rutin membantu melancarkan aliran ASI secara alami.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menyusui adalah momen bonding yang begitu istimewa antara Mama dan si Kecil. Namun, jujur saja ya, Ma, kenyataannya tidak selalu seindah foto-foto di media sosial. Banyak Mama baru yang merasa kaget ketika puting terasa keras, nyeri, bahkan perih saat bayi mulai menyusu.

Tak jarang muncul pertanyaan, “Kok sakit banget, ya? Apa ada yang salah?” Tenang, Ma, kondisi ini cukup sering dialami, terutama pada minggu-minggu awal menyusui.

Rasa sensitif pada puting memang tergolong wajar karena area tersebut masih beradaptasi dengan stimulasi yang terus-menerus saat bayi mengisap. Namun, penting untuk dipahami bahwa menyusui seharusnya tidak menimbulkan rasa sakit berlebihan.

Jika nyeri terasa sangat intens hingga mengganggu, bisa jadi ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, mulai dari pelekatan yang kurang tepat hingga kondisi puting yang iritasi. Kondisi ini perlu segera diperhatikan agar sesi menyusui tetap nyaman bagi Mama dan si Kecil.

Berikut Popmama.com merangkum 5 penyebab puting sakit saat menyusui secara lebih mendalam agar proses mengASIhi kembali terasa nyaman dan menyenangkan.

1. Pelekatan yang masih dangkal

Mengapa Puting Keras dan Sakit saat Menyusui 1.jpeg
freepik/pvproductions

Penyebab nomor satu yang paling sering terjadi adalah teknik pelekatan yang belum sempurna. Menurut Lisa Grossman, seorang Registered Nurse (RN), menyusui seharusnya disebut breastfeeding, bukan nipple-feeding. Artinya, si Kecil harus mengisap sebagian besar jaringan payudara, termasuk areola, bukan hanya ujung putingnya saja. Jika bayi hanya "nempel" di ujung, puting Mama akan tertekan kuat di antara lidah dan langit-langit mulut bayi yang keras, yang memicu rasa nyeri tajam seketika.

Kondisi pelekatan yang dangkal ini biasanya membuat puting terlihat berubah bentuk sesaat setelah bayi selesai menyusu, misalnya terlihat pipih atau miring seperti ujung lipstik baru. Selain rasa sakit, pelekatan yang salah membuat bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup meskipun sudah menyusu lama. Akibatnya, bayi jadi mudah rewel karena merasa lapar, dan Mama pun merasa lelah karena sesi menyusui yang berkepanjangan tanpa hasil maksimal.

Untuk mengatasinya, pastikan mulut bayi terbuka sangat lebar (seperti sedang menguap) sebelum Mama mendekatkan payudara. Arahkan puting ke arah hidung atau langit-langit mulut bayi agar ia bisa mengambil jaringan payudara yang cukup banyak dari arah bawah. National Health Service (NHS) menyarankan agar dagu bayi menempel erat pada payudara Mama, sementara hidungnya tetap memiliki ruang sedikit untuk bernapas. Pelekatan yang dalam adalah kunci utama agar puting tidak lagi terasa keras dan trauma.

2. Posisi tubuh yang kurang mendukung

Mengapa Puting Keras dan Sakit saat Menyusui 2.jpeg
freepik/freepik

Selain pelekatan, posisi tubuh Mama dan bayi memegang peranan kunci dalam kenyamanan. Sering kali, Mama baru merasa harus "membungkuk" demi mencapai mulut bayi, padahal ini bisa membuat punggung pegal dan posisi bayi menjadi tidak stabil. La Leche League International menjelaskan bahwa jika posisi bayi tidak tertopang dengan baik, bayi akan cenderung menarik atau menjepit puting Mama agar tubuhnya tidak merosot. Hal inilah yang sering menyebabkan puting terasa keras karena tekanan yang tidak perlu.

Variasi posisi sangat penting untuk mencegah tekanan berlebih pada satu titik puting yang sama. Mama bisa mencoba posisi football hold (menitipkan bayi di bawah ketiak) yang sangat disarankan bagi Mama pasca operasi caesar, atau cross-cradle untuk kontrol kepala bayi yang lebih baik. Mengganti-ganti posisi setiap sesi menyusui membantu mendistribusikan tekanan isapan si Kecil ke bagian areola yang berbeda-beda, sehingga meminimalkan risiko luka.

Jika Mama merasa lelah, posisi laid-back breastfeeding atau menyusui sambil bersandar santai bisa jadi pilihan terbaik. Dalam posisi ini, gravitasi membantu tubuh bayi menempel lebih alami ke dada Mama tanpa perlu banyak ditopang. Pastikan perut bayi menempel pada perut Mama dan seluruh tubuhnya disangga dengan baik menggunakan bantal menyusui. Dengan posisi yang nyaman, otot-otot Mama akan lebih rileks, dan aliran ASI pun biasanya akan lebih lancar.

3. Masalah fisik pada bayi

Mengapa Puting Keras dan Sakit saat Menyusui 3.jpeg
freepik/pvproductions

Kadang, meski Mama merasa sudah melakukan posisi yang benar, rasa sakit itu tetap muncul. Ini bisa disebabkan oleh kondisi tongue-tie (ikatan lidah) atau lip-tie pada si Kecil. Berdasarkan penjelasan dari La Leche League International, kondisi ini terjadi ketika jaringan tipis di bawah lidah bayi terlalu pendek atau kaku, sehingga membatasi gerak lidah. Padahal, lidah yang fleksibel sangat dibutuhkan bayi untuk memerah ASI dari payudara Mama dengan gerakan seperti gelombang.

Karena lidahnya tidak bisa menjulur dengan sempurna untuk menutupi gusi bawah, si Kecil biasanya akan mengompensasi dengan cara menjepit atau menggigit puting Mama menggunakan gusinya agar tidak terlepas. Hal ini tidak hanya membuat puting sakit dan lecet, tapi juga bisa membuat Mama merasa ngilu setiap kali si Kecil mulai mengisap. Masalah fisik seperti ini sering kali tidak disadari oleh orang tua baru karena tampilannya yang samar.

Jika Mama merasa sudah memperbaiki pelekatan berkali-kali tapi tetap kesakitan, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter anak. Penanganan medis yang tepat, seperti tindakan insisi kecil jika diperlukan, akan sangat membantu memperbaiki cara isap bayi. 

4. Risiko infeksi jamur dan masalah kulit

Mengapa Puting Keras dan Sakit saat Menyusui 4.jpeg
freepik/rorozoa

Penyebab lain yang sering membuat puting terasa keras, gatal, dan nyeri yang menjalar hingga ke dalam payudara adalah infeksi jamur atau thrush. National Health Service (NHS) menyebutkan bahwa jamur Candida sangat menyukai area yang hangat dan lembap, seperti puting yang sering basah oleh sisa ASI atau tertutup breast pad yang jarang diganti. Gejala khasnya adalah puting tampak mengkilap, kemerahan, atau kulitnya mengelupas disertai rasa nyeri seperti disayat-sayat atau terbakar.

Infeksi ini bersifat menular bolak-balik antara mulut bayi dan puting Mama. Jadi, Mama perlu mengecek mulut si Kecil juga. Jika ada bercak putih seperti sisa susu di lidah atau gusi yang tidak hilang saat diusap, itu adalah tanda thrush pada bayi. Selain jamur, kulit puting juga bisa menjadi keras dan pecah-pecah jika Mama terlalu sering mencucinya dengan sabun mandi biasa yang mengandung deterjen keras atau parfum.

Langkah pencegahannya adalah dengan menjaga area payudara tetap kering dan bersih dengan cara yang lembut. Membiarkan puting kering secara alami di udara terbuka setelah menyusui atau hanya mengusapnya dengan air bersih saja. Hindari penggunaan sabun di area puting agar kelembapan alaminya tetap terjaga. Jika gejala infeksi jamur sudah muncul, segera hubungi tenaga medis untuk mendapatkan pengobatan antijamur yang aman bagi ibu menyusui.

5. Sumbatan saluran ASI

Mengapa Puting Keras dan Sakit saat Menyusui 5.jpeg
freepik/freepik

Pernah melihat titik putih kecil seperti jerawat di ujung puting yang rasanya sangat nyeri saat tersentuh? Itu bisa jadi adalah milk blister atau lepuhan ASI. Kondisi ini terjadi ketika ada sedikit kulit yang tumbuh menutupi pori-pori saluran ASI, atau ada ASI yang mengeras dan menyumbat saluran tersebut. Menurut Lisa Grossman, RN, sumbatan ini akan menyebabkan tekanan di belakang puting, sehingga area tersebut terasa keras dan sangat sensitif.

Nyeri akibat milk blister biasanya terasa sangat tajam, terutama di awal bayi mulai mengisap. Jika tidak segera ditangani, sumbatan ini bisa berkembang menjadi clogged duct (saluran ASI tersumbat) atau bahkan mastitis (peradangan payudara). Mama mungkin akan merasakan benjolan keras di bagian payudara tertentu yang terasa hangat dan nyeri saat ditekan.

Cara mengatasinya adalah dengan rutin mengompres payudara dengan air hangat sebelum menyusui untuk melunakkan kulit yang menyumbat. Mama juga bisa mengoleskan minyak zaitun atau lanolin murni pada titik tersebut agar kulitnya tetap lembut. Tetaplah menyusui sesering mungkin di sisi yang sakit, karena isapan kuat dari bayi adalah cara paling efektif untuk melepaskan sumbatan secara alami.

Nah, itu dia beberapa penyebab umum kenapa puting terasa keras dan sakit saat menyusui. Ingat ya, Ma, menyusui seharusnya menjadi momen yang indah, bukan menyiksa. Jadi, jangan ragu untuk mencoba berbagai posisi atau berkonsultasi dengan ahli jika rasa sakitnya tak kunjung hilang.

Tetap semangat mengASIhi si Kecil ya, Ma. You’re doing great!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Onic Metheany
EditorOnic Metheany
Follow Us

Latest in Pregnancy

See More