Mitos atau Fakta, Begadang Bikin Alat Kelamin Laki-Laki Bisa Menciut

- Kebiasaan begadang dapat merusak sel dan pembuluh darah pada organ intim pria akibat penumpukan radikal bebas serta stres oksidatif yang mengganggu fungsi jaringan.
- Kurang tidur menurunkan aliran darah dan kadar testosteron, sehingga meningkatkan risiko disfungsi ereksi dan membuat ukuran organ intim tampak mengecil.
- Tidur tidak cukup memicu peningkatan hormon kortisol yang menekan produksi testosteron, berpotensi mengganggu kesuburan hingga menyebabkan kemandulan bila berlangsung lama.
Apakah kamu sering begadang? Kebiasaan ini memang cukup umum kita lakukan, terutama di tengah tuntutan aktivitas dan pekerjaan yang semakin padat.
Begadang sulit dihindari karena berbagai alasan. Bagi para laki-laki dengan pekerjaan yang menumpuk, jadwal yang sibuk, begadang kerap menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Meski kita tahu, bahwa begadang dapat memberikan dampak kurang baik bagi tubuh jika dilakukan terus-menerus.
Begadang dapat mengganggu proses pemulihan dan regenerasi tubuh, serta memengaruhi keseimbangan hormon. Tak heran jika kebiasaan ini kerap dikaitkan dengan berbagai kondisi kesehatan, termasuk alat kelamin laki-laki yang bisa menciut dan masalah pada fungsi organ reproduksi.
Topik ini pun sering menimbulkan pertanyaan dan rasa penasaran di masyarakat. Lalu, mitos atau fakta, benarkah begadang bisa membuat alat kelamin laki-laki bias menciut?
Berikut ini Popmama.com sudah rangkum informasinya yang dilansir dari akun Instagram @qonitcah dan sumber lainnya yang membahas topik ini. Yuk, disimak di bawah ya!
Table of Content
1. Sering begadang bisa picu kerusakan sel pada organ intim pria

Melalui akun Instagram-nya, kreator @qonitcah menjelaskan bahwa berdasarkan jurnal kesehatan, kebiasaan sering begadang membuat aktivitas sel endotel dan sel otot polos pada organ intim laki-laki bekerja terus-menerus. Kondisi ini memicu penumpukan “sampah kimia” di area tersebut yang bisa merusak dinding sel.
Sedangkan melansir dari National Library of Medicine, PubMed, istilah “sampah kimia” merujuk pada penumpukan zat sisa metabolisme dan radikal bebas dalam tubuh akibat kurang tidur. Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan stres oksidatif (reactive oxygen species/ROS) yang berpotensi merusak sel serta memicu peradangan pada jaringan, termasuk pembuluh darah.
Akibatnya, jaringan otot dan pembuluh darah dapat mengalami pengerasan atau fibrosis. Hal ini berdampak pada terganggunya fungsi normal organ tersebut dalam jangka panjang, terutama dalam menjaga aliran darah yang optimal.
2. Aliran darah yang terganggu bisa sebabkan fungsi ereksi tidak optimal

Nah, selain itu, Pa, gangguan pada jaringan serta pembuluh darah dapat menghambat aliran darah menuju organ intim. Kondisi ini membuat kemampuan untuk mendapatkan maupun mempertahankan ereksi menjadi menurun.
Kurang tidur, terutama di bawah 8 jam, juga dapat memperburuk sirkulasi darah dan menurunkan kadar testosteron. Dampaknya, risiko disfungsi ereksi meningkat dan bisa memengaruhi kualitas hubungan.
Melansir dari Sleep Centers of Medicine Tennessee, disfungsi ereksi sendiri ditandai dengan kesulitan untuk mendapatkan ereksi maupun mempertahankannya saat berhubungan. Selain itu, kondisi ini juga bisa disertai dengan penurunan hasrat seksual.
Ketika ereksi jarang terjadi, otot pada area tersebut menjadi kurang terstimulasi. Akibatnya, ukuran organ intim bisa tampak lebih kecil atau terlihat seolah menciut.
3. Kurang tidur dapat menurunkan hormon testosteron

Selain berdampak pada pembuluh darah, kurang tidur juga dapat menurunkan kualitas dan produksi hormon testosteron pada pria. Hal ini terjadi karena meningkatnya hormon kortisol, yaitu hormon stres yang dapat menghambat kerja sel di testis.
Dilansir dari Baptist Health, kortisol punya peran dalam tubuh untuk meningkatkan kewaspadaan, sehingga membuat waktu tidur menjadi lebih singkat dan kurang berkualitas. Kondisi ini bahkan bisa jadi lebih buruk, seperti rentan terkena insomnia.
Itulah mengapa jika, kortisol meningkat pengaruhnya pada kesehatan reproduksi kamu bisa terganggu. Padahal testosteron berperan penting dalam produksi dan kualitas sperma. Jika hormon ini terganggu, maka fungsi reproduksi pria juga ikut terdampak.
4. Bisa berisiko pada kemandulan

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus dan kamu tidak berusaha memperbaiki pola tidur dan gaya hidup yang lebih sehat, maka risiko gangguan kesuburan bisa meningkat. Dalam jangka panjang, hal ini bahkan bisa berujung pada kemandulan.
Karena itu, penting untuk menjaga pola tidur yang cukup agar fungsi organ reproduksi tetap optimal.
Sehingga kesimpulannya, anggapan bahwa organ intim pria bisa ”menciut” akibat kebiasaan buruk seperti begadang dapat dikatakan sebagai fakta yang perlu diwaspadai.
Jadi mulai sekarang, usahakan atur jam tidur yang pas ya, selain untuk kesehatan reproduksi, tidur yang cukup bisa membantu meningkatkan mood, energi, dan tentu saja kesehatan otak kamu.


















