Penyebab Keluar Darah setelah Berhubungan, Tanda Kehamilan?

Perdarahan seusai berhubungan bisa jadi merupakan tanda kehamilan, tapi bisa juga tidak

26 Juli 2021

Penyebab Keluar Darah setelah Berhubungan, Tanda Kehamilan
Freepik/Jcomp

Setelah berhubungan dengan pasangan, sangat mungkin bagi Mama mengalami perdarahan. Keluarnya darah tersebut pasti memicu timbulnya kekhawatiran dalam diri.

Seorang dokter umum di the London Clinic, Dr. Pixie McKenna, menjelaskan bahwa banyak perempuan yang enggan memeriksakan diri karena mereka menganggap keluarnya darah setelah berhubungan disebabkan sesuatu yang memalukan.

Padahal, kondisi tersebut bisa jadi malah mengarah ke gejala penyakit yang berbahaya atau malah tanda kehamilan lho, Ma.

Memangnya keluar darah setelah berhubungan termasuk tanda kehamilan? Nah supaya mendapatkan jawabannya, simak informasi yang akan disajikan Popmama.com di bawah ini, yuk!

Keep scrolling ya, Ma!

1. Keluar darah setelah berhubungan ternyata umum lho, Ma

1. Keluar darah setelah berhubungan ternyata umum, Ma
Pexels/cottonbro

Segala sesuatu yang melibatkan keluarnya darah dari tubuh pasti mengkhawatirkan ya, Ma. Terlebih lagi sehabis berhubungan intim, Mama pasti tak kuasa menahan pikiran negatif apakah ada masalah dengan organ dalam atau tidak.

Berkaitan dengan hal ini, the Eve Appeal,sebuah badan amal kanker ginekologi, menjelaskan bahwa keluarnya darah usai berhubungan sebenarnya umum terjadi lho, Ma. Bahkan, mereka mengatakan kalau kejadian tersebut lebih umum jika Mama belum mengalami menopause.

Secara lebih spesifik, dunia medis mengenal perdarahan tersebut sebagai postcoitalbleeding, Ma. Meskipun biasanya tidak mengkhawatirkan, the Eve Appeal sangat menganjurkan supaya Mama segera memeriksakan diri ke dokter terutama jika mengalami rasa sakit.

Hal ini karena di situasi tertentu (walaupun jarang terjadi), munculnya bercak darah sangat mungkin mengindikasikan penyakit kanker serviks atau vagina. Oleh sebab itu, jangan sungkan untuk segera menemui dokter ya, Ma!

Editors' Picks

2. Lantas, apakah benar perdarahan tersebut tanda kehamilan?

2. Lantas, apakah benar perdarahan tersebut tanda kehamilan
Pexels/RODNAE Productions

Pasti Mama sudah nggak sabar menemukan jawabannya, kan? Jadi, tentang apakah perdarahan setelah berhubungan badan merupakan tanda awal kehamilan bisa jadi iya ataupun tidak. Sebab, Mama harus melihat dahulu waktu keluarnya darah setelah waktu berhubungan.

Sebelum lanjut ke informasi tersebut, penting untuk diketahui bahwa perdarahan memang merupakan salah satu tanda-tanda kehamilan. Istilahnya dikenal sebagai perdarahan implantasi.

Perdarahan yang satu ini menunjukkan bahwa sel telur telah berhasil dibuahi oleh sel sperma yang lantas membuat embrionya menempel di dinding rahim. Akibat dari proses ini, tidak jarang Mama menemukan bercak darah berwarna merah muda atau kecokelatan di area vagina yang muncul pada hari 10–14 setelah pembuahan.

Nah, lantas bagaimana cara membedakan apakah darah yang keluar merupakan tanda kehamilan atau tidak? Jadi semisal perdarahan terjadi beberapa hari pasca-berhubungan, ada kemungkinan bahwa itu merupakan perdarahan implantasi alias tanda kehamilan.

Akan tetapi, jika Mama menemui bercak darah tepat sehabis berhubungan setelah lebih dari dua minggu tidak melakukannya, maka perdarahan tersebut tidak termasuk implantasi.

Untuk hasil yang lebih pasti, Mama bisa melakukan tes kehamilan beberapa hari setelah keluarnya darah. Perlu diingat pula bahwa perdarahan implantasi umumnya tidak mengkhawatirkan sehingga tidak perlu penanganan dokter.

3. Penyebab lain keluar darah setelah berhubungan

3. Penyebab lain keluar darah setelah berhubungan
Freepik

Keluarnya darah setelah berhubungan memang dapat menunjukkan tanda kehamilan. Akan tetapi, ada juga kemungkinan yang menuntun kepada penyebab lainnya.

Ada apa sajakah itu? Yuk, simak rangkumannya di bagian berikut!

1. Adanya Sejumlah Infeksi

Inflamasi atau peradangan sangat mungkin menyebabkan perdarahan di area organ intim. Beberapa di antaranya:

  • Pada kasus tertentu, penyakit radang panggul bisa saja tidak menunjukkan gejala. Meskipun begitu, boleh jadi Mama mengalami sakit punggung bagian bawah dan atas, demam, sakit saat berhubungan, hingga perdarahan;
  • Infeksi Menular Seksual (IMS) merujuk kepada berbagai macam penyakit kelamin yang diakibatkan oleh seks berisiko. Gejala umum yang bisa dialami meliputi rasa gatal, sakit, terbakar, dan perdarahan;
  • Bagi mereka yang mengalami radang serviks, sangat mungkin untuk menemui gejala berupa perdarahan, rasa sakit di sekitar vagina dan sewaktu melakukan hubungan intim, sampai dengan keluarnya cairan putih atau abu-abu yang berbau;
  • Radang vagina atau dikenal sebagai vaginitis juga bisa memicu keluarnya darah. Selain itu, radang pada vagina juga menyebabkan rasa gatal, iritasi, keputihan, dan sakit ketika buang air kecil.

2. Sindrom Genitourinaria Menopause (GSM)

Buat Mama yang belum tahu, GSM kerap dialami oleh perempuan yang ovariumnya akan diangkat atau mereka yang sudah akan memasuki fase menopause. Apa yang terjadi ketika sudah menopause? Tentu saja, kadar estrogen dalam tubuh akan menurun.

Akibat dari penurunan kadar estrogen tersebut, kondisi vagina akan berubah, Ma. Misalnya, organ intim akan menjadi kering dan kurang elastis sehingga menyebabkan rasa sakit hingga perdarahan jika berhubungan.

3. Kekeringan pada Vagina

Bukan hanya dikarenakan menopause saja, Dr. McKenna menjelaskan bahwa kekeringan pada vagina bisa disebabkan oleh beberapa hal. Sebagai contoh, ada sejumlah perempuan yang memang memiliki kadar estrogen tubuh yang rendah sehingga area intimnya memang lebih kering.

Di kondisi lain, Dr. McKenna menambahkan, penyakit kulit seperti psoriasis juga dapat menjadi penyebab mudahnya keluar bercak darah setelah berhubungan.

"Siapa pun yang memiliki kondisi kulit di sekitar vagina yang lantas membuat kulit lebih mungkin berdarah, misalnya psoriasis, juga dapat mempertimbangkannya sebagai kemungkinan penyebab (perdarahan)."

4. Hubungan Intim yang Terlalu Kasar

Perdarahan bisa saja terjadi apabila hubungan intim yang dilakukan terlalu kasar. Gesekan akibat penetrasi sangat berpotensi menimbulkan trauma hingga keluarnya darah. Berkaitan dengan ini, Dr. McKenna menyebutkan bahwa posisi seks yang berbeda juga dapat menimbulkan gejala serupa.

"Jika Anda memiliki pasangan dengan tindikan tubuh, mereka jelas dapat menyebabkan pendarahan pada kesempatan tertentu juga," imbuh Dr. McKenna.

Apabila perdarahan memang terjadi akibat hal ini, sebenarnya Mama tidak perlu menjumpai dokter. Untuk mencegahnya, sebaiknya Mama membicarakan hal tersebut dengan pasangan agar bertindak lebih lembut ketika berhubungan.

5. Sudah Lama Tidak Berhubungan

Kembali berhubungan dengan pasangan setelah jeda yang lama juga memiliki potensi menyebabkan bercak darah. Akan tetapi, apabila kondisi ini berulang terus menerus padahal intensitas berhubungan sudah meningkat, ini berarti perdarahan disebabkan oleh hal lain.

Kalau kondisi ini sudah terjadi, Dr. McKenna menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

“Anda harus peka dan segera memeriksakannya, karena tidak seorang pun dari kita dapat melihat serviks kita sendiri. Bahkan jika Anda seorang dokter yang memiliki peralatan terbaik di dunia, orang lain harus melakukannya untuk Anda. Ini sangat penting."

6. Erosi Serviks

Dikenal juga sebagai ektropion serviks, Mama yang mengalaminya akan menjumpai sel-sel lunak dari leher rahim yang tumbuh di luarnya.

"Sel-sel di dalam leher rahim terkadang bisa menonjol keluar dan, seperti bagian lembut dari bibir, lapisannya lebih halus sehingga sangat mudah menjadi teriritasi," jelas Dr. McKenna.

Apabila hal ini terjadi, sel-sel yang menonjol keluar tadi rentan mengalami pelemahan. Alhasil, mereka berpotensi berdaraha ketika terjadi kontak terutama saat berhubungan.

"Sel-sel bagian dalam menonjol ke luar dan mereka bisa menjadi lemah, yang berarti mereka bisa berdarah saat kontak."

Erosi serviks bisa terjadi dikarenakan konsumsi obat-obatan tertentu. Jadi untuk mengatasinya, Mama boleh menghentikan penggunaan dari obat tersebut. Atau cara lain adalah dengan berkonsultasi dengan dokter.

Jika memungkinkan, dokter dapat menyarankan untuk menjalani proses pembakaran ektropion (sel-sel yang menonjol tadi) menggunakan perak nitrat.

7. Pertanda Kanker

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, munculnya darah setelah atau selama berhubungan perlu mendapatkan perhatian karena bisa jadi mengindikasikan adanya kanker serviks.

"Ini (kanker) bukanlah penyebab umum perdarahan setelah berhubungan seks, tetapi ini (perdarahan) merupakan salah satu gejala kanker serviks. Jadi, sebaiknya periksakan diri Anda," kata Dr. McKenna.

Lebih jauh lagi, ia menambahkan bahwa perdarahan juga menunjukkan salah satu dari lima kanker ginekologi sehingga bukan hanya kanker serviks saja.

8. Polip

Yang dimaksud dengan polip adalah pertumbuhan daging kecil yang bisa muncul di bagian tubuh mana saja, termasuk leher rahim. Polip umumnya bukanlah sesuatu yang cukup berbahaya, namun dapat menjadi penyebab perdarahan setelah melakukan hubungan intim apabila kebetulan tumbuh di serviks.

Semisal ditemukan polip di bagian organ intim Mama, Dr. McKenna mengungkapkan bahwa daging tumbuh tersebut dapat diobati melalui proses pengangkatan.

"Biasanya mereka (polip) perlu diangkat meskipun jinak yang berarti tidak bersifat kanker, tetapi (kehadiran) mereka bisa cukup mengganggu."

4. Kapan Mama harus memeriksakan diri ke dokter?

4. Kapan Mama harus memeriksakan diri ke dokter
Freepik/Pressfoto

Mama sebelumnya sudah baca beberapa penyebab keluar darah saat, ataupun setelah, berhubungan dan sudah paham bahwa ada sejumlah kondisi yang tidak mengharuskan Mama menjumpai dokter.

Terutama ketika Mama belum memasuki tahapan menopause, atau darah yang dihasilkan terbilang sedikit, kejadian yang seperti itu tidak terlalu memerlukan penanganan dokter.

Akan tetapi, apabila perdarahan disertai dengan gejala-gejala berikut, maka Mama disarankan untuk segera menemui dokter. Gejala-gejalanya adalah:

  • Vagina terasa gatal dan seolah terbakar;
  • Terasa sensasi menyengat atau terbakar ketika buang air kecil;
  • Darah yang keluar sangat banyak;
  • Mengalami sakit perut yang parah;
  • Nyeri pada punggung bagian bawah;
  • Rasa sakit sewaktu berhubungan;
  • Mual hingga muntah;
  • Keputihan yang tidak biasa;
  • Mengalami perdarahan setelah meskipun sudah menopause.

5. Cara menghindari keluar darah setelah berhubungan

5. Cara menghindari keluar darah setelah berhubungan
Freepik

Untuk kondisi tertentu, seperti vagina yang kering karena kurangnya pelumas alami, perdarahan dapat dihindari kok, Ma. Cara pertama adalah dengan meminta pasangan untuk memperlama foreplay sebelum penetrasi. Atau, boleh juga dengan menggunakan pelumas buatan yang berbahan dasar air.

Di samping kedua hal tadi, menjaga kebersihan dan kesehatan organ intim juga sangat penting. Hal ini supaya mencegah terjadinya infeksi akibat virus, jamur, dan bakteri.

Kemudian, jangan langsung berhubungan dengan pasangan ketika baru saja mengalami perdarahan ya, Ma. Rehat dulu sejenak agar tubuh tidak merasakan kelelahan ataupun sakit.

Terakhir, jangan lupa juga untuk menjumpai dokter apabila perdarahan yang dialami tidak wajar atau terjadi lebih dari sekali.

Mama sudah baca penyebab keluar darah setelah berhubungan. Jadi, pastikan dulu kapan perdarahan terjadi untuk menentukan apakah itu termasuk tanda kehamilan atau tidak.

Jika muncul darah beberapa hari setelah berhubungan, bisa jadi itu merupakan perdarahan implantasi atau tanda kehamilan. Semisal perdarahan baru muncul setelah hubungan intim lebih dari dua minggu lalu, atau sehabis lama tidak melakukannya, berarti bukan menunjukkan kehamilan.

Semoga bermanfaat ya, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.