Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You
Age VerificationThis content is intended for users aged 18 and above. Please verify your age to proceed.

7 Mitos Seks saat Hamil yang Tidak Perlu Ditakutkan

7 Mitos Seks saat Hamil yang Tidak Perlu Ditakutkan
Freepik/Racool_studio
Intinya Sih
  • Berhubungan seks saat hamil umumnya aman jika kehamilan normal tanpa komplikasi, karena bayi terlindungi oleh rahim, serviks tertutup, dan kantung ketuban yang kuat.
  • Kontraksi ringan setelah orgasme atau hubungan seks tidak menyebabkan keguguran maupun mempercepat persalinan, karena hormon prostaglandin alami jumlahnya sangat kecil.
  • Bercak darah ringan dan perubahan gairah seks selama kehamilan adalah hal wajar; yang terpenting adalah menjaga kenyamanan tubuh serta berkonsultasi bila muncul gejala mengkhawatirkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Terlalu banyak mitos yang beredar di luar sana tentang melakukan seks saat sedang hamil. Kehamilan tidak seharusnya menjadi salah satu alasan untuk menghindari hubungan seks dengan suami. 

Sebab, dalam kehamilan yang normal tanpa komplikasi, berhubungan seks umumnya aman dilakukan. Meski begitu, tidak sedikit ibu hamil yang masih merasa khawatir.

Rasa takut akan menyakiti bayi sering kali membuat pasangan menahan diri, meskipun sebenarnya sudah mendapatkan ‘lampu hijau’ dari tenaga medis. 

Untuk membantu Mama merasa lebih tenang, berikut Popmama.com siap membahas beberapa mitos seks saat hamil yang tidak perlu ditakutkan. 

Table of Content

1. Mitos: Penetrasi secara dalam bisa membahayakan bayi

1. Mitos: Penetrasi secara dalam bisa membahayakan bayi

Pexels/Andrea Piacquadio
Pexels/Andrea Piacquadio

Melansir The Bump, vagina dapat meregang dan menyesuaikan dengan sendirinya saat berhubungan seks. Selain itu, posisi penis sebenarnya tidak akan sampai menyentuh bayi karena ada jarak antara vagina dan rahim.

Bayi juga terlindungi dengan sangat baik di dalam rahim. Serviks alias leher rahim tertutup rapat dan dilindungi oleh lendir tebal, sementara bayi berada di dalam kantung ketuban yang berfungsi seperti ‘pelindung’. Jadi, penetrasi saat berhubungan seks tidak akan mengenai atau menyakiti bayi.

2. Mitos: Kontraksi akibat orgasme bisa menyebabkan keguguran

Pexels/Yan Krukau
Pexels/Yan Krukau

Setelah berhubungan seks, ibu hamil mungkin akan merasakan kram ringan. Hal ini sebenarnya normal dan merupakan tanda bahwa otot rahim sedang berkontraksi ringan. 

Ada dua jenis kontraksi yang perlu diketahui, dan kontraksi yang terjadi saat atau setelah orgasme bukanlah jenis yang dapat menyebabkan keguguran. Kontraksi ini biasanya ringan dan akan hilang dengan sendirinya. 

Berbeda dengan kontraksi persalinan yang terasa lebih kuat, menyakitkan, dan terjadi secara teratur, misalnya setiap tiga hingga lima menit. Jadi, Mama tidak perlu khawatir jika merasakan sensasi ini setelah orgasme.

3. Mitos: Seks bisa memicu persalinan

Pexels/Yaroslav Shuraev
Pexels/Yaroslav Shuraev

Banyak yang percaya bahwa berhubungan seks dapat mempercepat persalinan, tetapi ini tidak sepenuhnya benar. Memang setelah berhubungan seks, Mama bisa mengalami kontraksi ringan akibat hormon prostaglandin yang terdapat dalam air mani.

Namun, jumlah hormon tersebut sangat kecil dan tidak cukup kuat untuk memicu persalinan. Meski prostaglandin juga digunakan dalam dunia medis untuk induksi persalinan, bentuknya adalah versi sintetis dengan konsentrasi jauh lebih tinggi. 

“Jika air mani benar-benar bisa memicu persalinan, tentu dokter akan menyarankan semua ibu hamil untuk menghindari seks selama kehamilan, tetapi kenyataannya tidak demikian,” kata Jacques Moritz, MD, profesor bidang obstetri, ginekologi, dan ilmu reproduksi di Mount Sinai Morningside di New York City.

4. Mitos: Perdarahan setelah berhubungan seks menandakan bahaya

Pexels/pexels
Pexels/pexels

Melihat adanya bercak darah setelah berhubungan seks memang bisa membuat panik. Namun, kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi selama kehamilan. Hal ini disebabkan oleh serviks yang menjadi lebih lunak, sensitif, dan mudah berdarah saat tersentuh.

Selama perdarahan yang terjadi hanya ringan (bercak) dan tidak disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, Mama tidak perlu terlalu cemas.

Namun, jika perdarahan cukup banyak atau terjadi tanpa sebab yang jelas, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk memastikan kondisi tetap aman.

“Serviks menjadi sangat lentur, sangat lunak dan sensitif terhadap sentuhan apa pun dan bisa mulai berdarah,” kata Moritz.

5. Mitos: Bayi bisa mengetahui saat orangtua berhubungan seks

Pexels/G_Masters
Pexels/G_Masters

Mitos ini mungkin terdengar aneh, tetapi cukup sering membuat orangtua merasa tidak nyaman. Faktanya, bayi memang bisa merasakan gerakan dan mendengar suara dari dalam rahim, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk memahami atau mengartikan apa yang sedang terjadi.

Para ahli sepakat bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa aktivitas seksual selama kehamilan dapat menyebabkan gangguan fisik maupun psikologis pada bayi di dalam kandungan.

6. Mitos: Posisi seks tertentu bisa membahayakan bayi

Unsplash/Womanizer Toys
Unsplash/Womanizer Toys

Mengutip dari Orlando Health, semua posisi seks sebenarnya aman untuk bayi. Yang perlu Mama perhatikan justru adalah kenyamanan tubuh sendiri, bukan soal keamanan bagi si Kecil.

Seiring bertambahnya usia kehamilan, terutama di trimester kedua dan ketiga, perut yang semakin besar bisa membuat beberapa posisi terasa kurang nyaman atau sulit dilakukan.

Selain itu, perubahan pusat keseimbangan tubuh saat hamil juga perlu diperhatikan. Karena itu, sebaiknya hindari posisi yang membuat Mama harus menjaga keseimbangan tubuh terlalu banyak. 

Pilih posisi yang lebih stabil, santai, dan membuat Mama merasa nyaman selama melakukan hubungan seks bersama pasangan.

7. Mitos: Kehamilan membuat gairah seks menghilang

Pexels.com/Andrea Piacquadio
Pexels.com/Andrea Piacquadio

Faktanya, tidak ada bukti bahwa kehamilan dapat menurunkan gairah seks. Setiap ibu hamil bisa merasakan hal yang berbeda. Ada yang merasa gairah seksnya meningkat, namun ada juga yang menurun.

Ini semua kembali ke pribadi masing-masing. Keduanya sama-sama normal dan dipengaruhi oleh perubahan hormon serta kondisi tubuh selama kehamilan.

Selain itu, faktor emosional seperti rasa lelah, stres, atau perubahan bentuk tubuh juga bisa memengaruhi keinginan untuk berhubungan. Jadi, tidak perlu merasa khawatir jika gairah seks berubah selama hamil, karena hal tersebut merupakan bagian alami dari proses kehamilan.

Nah, itu dia beberapa mitos seks saat hamil yang tidak perlu ditakutkan. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi para ibu hamil, ya, Ma.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyuni Sahara
EditorWahyuni Sahara

Latest in Pregnancy

See More