Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Penyebab Sindrom Putri Duyung, Kelainan Langka pada Janin

3 min read
Penyebab Sindrom Putri Duyung, Kelainan Langka pada Janin
radiopaedia.org/Magnific/user18526052
  • Sindrom putri duyung atau sirenomelia membuat tungkai bawah janin menyatu dan dapat disertai kelainan pada organ lain.

  • Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi faktor genetik, pembuluh darah, diabetes selama kehamilan, lingkungan, dan obat tertentu diduga berperan.

  • Sirenomelia bukan akibat tindakan atau kebiasaan Mama, sehingga pemeriksaan kondisi janin dan menjaga kesehatan tetap penting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sindrom putri duyung merupakan salah satu kelainan bawaan langka yang dapat terjadi selama masa kehamilan. Kondisi ini membuat kedua tungkai bawah janin menyatu sehingga menyerupai ekor putri duyung.

Meski tergolong langka, kondisi ini kerap menimbulkan pertanyaan mengenai faktor yang melatarbelakanginya. Lantas, apa saja penyebab sindrom putri duyung?

Simak pembahasannya telah Popmama.com siapkan. 

  1. Apa Itu Sindrom Putri Duyung?

    Apa itu sindrom putri duyung?
    radiopaedia.org

    Sindrom putri duyung atau sirenomelia adalah kelainan bawaan langka di mana kaki janin menyatu seperti ekor putri duyung. Selain tungkai yang menyatu, bayi yang terlahir dengan kondisi ini sering kali disertai kelainan pada organ lain, seperti jantung dan paru-paru.

    Sirenomelia tergolong sebagai cacat lahir yang sangat langka, yakni hanya terjadi pada satu bayi dari setiap 100.000 kehamilan. Kondisi ini termasuk bentuk parah dari caudal regression syndrome, yaitu kelainan yang menyebabkan gangguan perkembangan tulang belakang bagian bawah.

  2. Gejala Sindrom Putri Duyung

    Gejala sindrom putri duyung
    radiopaedia.org

    Mengutip dari laman Cleveland Clinic, bayi yang lahir dengan sirenomelia dapat mengalami satu atau beberapa kondisi berikut:

    • Sebagian atau seluruh tungkai bawah menyatu sehingga menyerupai ekor putri duyung. Kondisi ini dapat terjadi karena tulang-tulang pada tungkai menyatu atau terdapat tulang yang tidak terbentuk.
    • Kelainan saluran kemih bawaan, seperti ginjal yang tidak berkembang sempurna, salah satu atau kedua ginjal tidak terbentuk, kandung kemih tidak terbentuk, atau uretra menyempit maupun tidak terbentuk.
    • Organ genital tidak terbentuk.
    • Anus tidak terbentuk atau perkembangannya tidak sempurna.
    • Kaki terbentuk secara tidak normal atau bahkan tidak terbentuk.
    • Kelainan jantung bawaan.
    • Limpa dan/atau kantung empedu tidak terbentuk.
    • Paru-paru tidak berkembang sempurna.

    Sirenomelia juga umumnya menyebabkan volume air ketuban yang rendah selama kehamilan atau bahkan tidak adanya air ketuban sama sekali. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi perkembangan paru-paru janin.

  3. Penyebab Sindrom Putri Duyung

    Penyebab sindrom putri duyung
    Pexels/Tima Miroshnichenko

    Hingga saat ini, para ahli belum mengetahui secara pasti penyebab sirenomelia. Namun, terdapat beberapa kemungkinan penyebab dan faktor risiko yang diduga berperan penting. 

    Beberapa kemungkinan penyebab dan faktor risiko sirenomelia meliputi:

    • Faktor genetik, termasuk perubahan DNA turunan orangtua atau perubahan DNA yang terjadi secara tiba-tiba.
    • Kelainan perkembangan pembuluh darah yang dapat menghambat pertumbuhan bagian bawah tubuh janin secara normal.
    • Diabetes selama kehamilan.
    • Faktor lingkungan.
    • Penggunaan obat-obatan tertentu, termasuk obat-obatan tanpa resep seperti kokain atau obat resep untuk perawatan kulit, seperti isotretinoin.

    Hal penting yang perlu diingat adalah sirenomelia bukanlah kondisi yang terjadi akibat tindakan atau kebiasaan Mama sebelum maupun selama kehamilan. Jadi, Mama tidak perlu menyalahkan diri sendiri apabila bayi mengalami kondisi ini.

    Demikian informasi mengenai penyebab sindrom putri duyung. Penting untuk memahami bahwa kondisi ini bukanlah kesalahan Mama selama menjalani kehamilan, yang terpenting adalah senantiasa menjaga kesehatan dan rutin memeriksakan kondisi janin ke dokter. 

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More