7 Dampak Buruk Susah Tidur saat Hamil Tua, Berdampak ke Persalinan

- Kurang tidur dapat menguras stamina fisik yang sangat dibutuhkan untuk proses mengejan saat persalinan normal.
- Ibu hamil hamil yang kurang tidur berisiko mengalami tekanan darah tinggi (preeklamsia) dan proses pembukaan lahir yang lebih lama.
- Kelelahan ekstrem akibat insomnia meningkatkan risiko operasi caesar dan depresi pasca melahirkan.
Memasuki trimester ketiga, tidur nyenyak rasanya menjadi kesempatan berharga yang sulit didapatkan.
Perut yang membesar, sakit punggung, bolak-balik ke kamar mandi, hingga gerakan janin yang aktif sering kali membuat ibu hamil kerap terjaga semalaman. Kondisi insomnia atau kurang tidur ini memang wajar, namun bukan berarti boleh dibiarkan begitu saja.
Tidur adalah fase krusial bagi tubuh untuk memulihkan energi dan mempersiapkan diri menghadapi "maraton" persalinan nanti. Jika Mama terus-menerus kurang tidur di minggu-minggu terakhir, ada beberapa risiko kesehatan yang mengintai.
Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa dampak buruk susah tidur saat hamil tua yang perlu diwaspadai.
Yuk Ma, simak dampaknya agar lebih termotivasi untuk istirahat!
Deretan Dampak Buruk Susah Tidur saat Hamil Tua
1. Menurunkan stamina saat persalinan

Persalinan, terutama persalinan normal, membutuhkan tenaga yang luar biasa besar, setara dengan berlari maraton. Kurang tidur yang kronis akan menguras cadangan energi mama. Akibatnya, saat hari H tiba, Mama mungkin merasa kelelahan bahkan sebelum proses mengejan dimulai.
Tubuh yang lelah (fatigue) cenderung memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap rasa sakit.
Hal ini bisa membuat kontraksi terasa jauh lebih menyakitkan dan Mama mungkin kesulitan untuk fokus mendengarkan instruksi bidan atau dokter saat proses melahirkan.
2. Meningkatkan risiko tekanan darah tinggi

Tidur adalah waktu bagi jantung dan pembuluh darah untuk beristirahat dan memulihkan diri. Kurang tidur dapat memicu tubuh melepaskan hormon stres yang membuat jantung bekerja lebih keras, sehingga tekanan darah tetap tinggi padahal seharusnya turun saat istirahat.
Bagi perempuan dengan kondisi hamil tua, tekanan darah tinggi sangat berbahaya karena bisa menjadi tanda awal preeklamsia. Preeklamsia yang tidak terkontrol dapat membahayakan nyawa mama dan janin, serta sering kali mengharuskan bayi dilahirkan lebih cepat (prematur).
3. Melemahkan sistem kekebalan tubuh

Saat tidur, tubuh memproduksi protein bernama sitokin yang bertugas melawan infeksi dan peradangan. Jika Mama kurang tidur, produksi sitokin ini akan menurun drastis. Akibatnya, sistem imun mama menjadi lemah.
Mama akan lebih mudah terserang flu, batuk, atau demam menjelang hari perkiraan lahir (HPL). Sakit saat mendekati waktu melahirkan tentu sangat tidak nyaman dan bisa membatasi interaksi mama dengan bayi baru lahir nantinya demi mencegah penularan.
4. Memperlama proses persalinan

Tahukah Mama bahwa durasi tidur bisa memengaruhi durasi melahirkan? Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Obstetrics and Gynecology menemukan bahwa ibu hamil yang tidur kurang dari 6 jam per malam cenderung memiliki proses persalinan yang lebih lama.
Kelelahan fisik membuat kontraksi rahim menjadi kurang efektif dan tidak teratur. Akibatnya, pembukaan serviks bisa berjalan lambat, membuat ibu hamil harus menahan sakit lebih lama di ruang bersalin.
5. Meningkatkan risiko operasi caesar

Berkaitan dengan poin sebelumnya, ketika proses persalinan berjalan terlalu lama atau macet (prolonged labor) akibat kelelahan mama, dokter sering kali harus mengambil tindakan medis untuk menyelamatkan bayi. Salah satu opsinya bisa dengan operasi caesar darurat.
Tubuh yang terlalu lelah mungkin tidak memiliki kekuatan cukup untuk mengejan maksimal di tahap akhir persalinan. Oleh karena itu, menjaga kualitas tidur di minggu-minggu terakhir sangat penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan persalinan normal.
6. Memicu gangguan suasana hati

Kurang tidur membuat siapa saja menjadi mudah tersinggung, apalagi ibu hamil yang hormonnya sedang bergejolak. Rasa lelah yang menumpuk akan membuat ibu hamil lebih sensitif, mudah marah, cemas berlebihan, dan sering menangis tanpa sebab.
Kestabilan emosi sangat penting menjelang persalinan. Stres yang berlebihan akibat kurang tidur justru bisa menghambat produksi hormon oksitosin yang dibutuhkan untuk memicu kontraksi alami dan kelancaran ASI nantinya.
7. Risiko depresi pasca melahirkan

Insomnia di akhir kehamilan sering kali dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi terkena depresi pasca melahirkan (postpartum depression). Pola tidur yang buruk sebelum bayi lahir bisa menjadi kebiasaan yang terbawa hingga setelah bayi lahir, di mana waktu tidur mama akan semakin berkurang.
Kelelahan mental dan fisik yang terakumulasi sejak hamil tua membuat perempuan lebih rentan mengalami baby blues yang parah. Menabung tidur dan istirahat yang cukup sekarang adalah investasi untuk kesehatan mental mama setelah si Kecil lahir.
Itulah beberapa dampak buruk susah tidur saat hamil tua.
Jika Mama benar-benar sulit memejamkan mata, cobalah mandi air hangat, minum susu, atau minta pasangan memijat punggung agar lebih rileks.
FAQ Susah Tidur Hamil Tua
| Apakah janin ikut bangun saat ibunya susah tidur? | Tidak selalu. Janin punya siklus tidur dan bangunnya sendiri yang tidak bergantung pada jam tidur ibu hamil. Jadi meski begadang, si Kecil mungkin sedang tidur nyenyak di dalam perut. |
| Bolehkah minum obat tidur saat hamil? | Jangan sembarangan minum obat tidur tanpa resep dokter. Sebagian besar obat tidur tidak disarankan untuk ibu hamil. Dokter mungkin akan menyarankan suplemen magnesium atau cara alami lain yang lebih aman. |
| Kenapa susah tidur makin parah mendekati HPL? | Selain faktor fisik (perut besar, sering pipis), faktor psikologis seperti kecemasan menghadapi persalinan (anxiety) memegang peran besar. Otak terus "bekerja" memikirkan persiapan bayi sehingga sulit rileks. |


















