Hati-Hati! Kenali Penyebab Air Ketuban Keruh Saat Hamil Tua

Faktor air ketuban berubah keruh perlu dikenali sejak dini

8 Januari 2019

Hati-Hati Kenali Penyebab Air Ketuban Keruh Saat Hamil Tua
Pixabay/WenPhotos

Air ketuban bagi ibu hamil tentu sudah tidak asing lagi didengar. Apalagi air ketuban berperan untuk melindungi janin selama 9 bulan masa kehamilan. 

Cairan air ketuban termasuk salah satu aspek yang begitu penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kehamilan. Ini dikarenakan cairan air ketuban berisikan hormon, sel sistem kekebalan tubuh, asupan nutrisi hingga urine bayi. 

Air ketuban juga bertugas menjadi tempat perlindungan yang nyaman untuk janin selama berada di dalam rahim. Air ketuban juga memiliki fungsi lain seperti:

  • Membantu sistem pernapasan dan pencernaan bayi 
  • Mengontrol janin di dalam kandungan terus bergerak aktif
  • Membantu proses perkembangan janin di dalam dinding rahim
  • Membantu otot dan tulang bayi semakin berkembang dengan baik
  • Melindungi janin dari segala infeksi, maupun gangguan yang ditimbulkan dari luar rahim 
  • Memberikan kenyamanan karena air ketuban dapat menjaga kestabilan dan kehangatan suhu 

Dengan berbagai fungsi yang ada cukup terlihat kalau air ketuban memiliki peran penting selama masa kehamilan. 

Keseluruhan cairan air ketuban 99 persen terdiri dari air, sehingga secara normal warnanya jernih dengan sedikit warna kuning atau merah muda. Bila air ketuban berubah menjadi keruh atau berwarna tidak normal tentu dapat mengganggu kondisi janin di dalam kandungan. 

Untuk Mama yang ingin mengetahui faktor penyebab air ketuban berubah menjadi keruh, berikut rangkuman lengkap dari Popmama.com untuk Mama simak.

1. Infeksi 

1. Infeksi 
pixabay.com/Free-Photos

Air ketuban berubah menjadi keruh bisa terjadi karena adanya infeksi. Chorioamnionitis adalah infeksi yang terjadi pada plasenta. Gejala dari infeksi ini ditandai dengan rasa nyeri di bagian rahim, demam, denyut nadi pada ibu hamil dan janin mengalami peningkatan hingga perubahan warna serta bau dari air ketuban. 

Akibat dari infeksi ini, air ketuban akan terlihat bercampur dengan nanah dan menimbulkan bau kurang sedap. 

Bila air ketuban pecah sebelum waktunya, disarankan proses persalinan dipercepat. Hal ini tentu berguna untuk menyelamatkan ibu hamil serta janin di dalam kandungan. 

Saat air ketuban pecah secara tidak langsung dapat membahayakan janin dan memicu kuman-kuman masuk. Waspadai juga karena janin yang sudah terkena infeksi saat berada di keruhnya air ketuban dapat mengalami kelainan. 

Baca juga: Kenali Bahaya Oligohydramnios Saat Jumlah Air Ketuban di Bawah Normal

Baca juga: Pecah Ketuban Dini, Mama Ini Minum Banyak Air untuk Selamatkan Bayinya

2. Air ketuban tercampur dengan mekonium

2. Air ketuban tercampur mekonium
Pixabay/alessandraamendess

Normalnya air ketuban berwarna bening. Saat kondisi air berubah warna seperti kekuningan, kehijauan atau kecokelatan berarti telah bercampur dengan mekonium. 

Perlu diketahui kalau mekonium merupakan kotoran yang dikeluarkan bayi setelah sistem pencernaannya sempurna. 

Faktor penyebab mekonium bisa terjadi karena janin merasa kekurangan oksigen, kehamilan yang membatasi waktu hingga adanya tekanan pada kepala atau plasenta bayi saat proses persalinan, 

Tanpa disadari efek air ketuban yang keruh dapat membuat kulit bayi tampak berkeriput. Kondisi ini terjadi karena infeksi yang diakibatkan air ketuban pecah. 

Air ketuban yang keruh pun bisa sangat membahayakan karena bayi bisa mengalami keracunan. Apalagi jika paru-paru bayi dapat dimasuki cairan air ketuban yang sudah keruh. 

Baca juga: Cara Alami Tingkatkan Jumlah Cairan Ketuban

Baca juga: 7 Manfaat Cairan Ketuban Bagi Tumbuh Kembang Janin

Editors' Picks

3. Usia kehamilan yang terlalu lama

3. Usia kehamilan terlalu lama
PIxabay/nguyentungson

Pada umumnya, kelahiran bayi dialami setelah usia kehamilan ke-37 minggu sampai 42 minggu. Bila usia kehamilan terlalu lama, maka dapat menyebabkan kondisi plasenta berhenti berfungsi. Padahal plasenta bertugas memberikan suplai oksigen dan nutrisi. 

Apalagi bayi di dalam kandungan tidak mendapatkan asupan dari plasenta dalam waktu yang cukup lama dapat menyebabkan infeksi. Selain itu, di usia kehamilan lebih dari 42 minggu akan menyebabkan air ketuban keruh akibat mekonium. Feses yang dikeluarkan bayi dapat tercampur dengan cairan air ketuban. 

Baca juga: Perkembangan Janin di Usia Kehamilan 9 Bulan

Baca juga: Cairan Ketuban Merembes Sebelum Waktunya, Berbahaya atau Tidak?

Perubahan Warna Air Ketuban dapat Menandakan Hal Serius 

Perubahan Warna Air Ketuban dapat Menandakan Hal Serius 
Freepik

Warna air ketuban bisa berubah menjadi kehijauan hingga kecokelatan dapat menandakan kondisinya tidak normal.  

Beberapa perubahan air ketuban yang menandakan hal serius seperti kekuningan bisa menunjukkan adanya bilirubin pada cairan ketuban. Selain itu, bila berwarna merah berarti adanya darah yang berasal dari ibu hamil atau janin di dalam air ketuban. 

Bila mengetahui air ketuban berwarna tidak normal, ada baiknya untuk memberitahu dokter mengenai kondisi ini. Konsultasilah dengan dokter kandungan, lalu sebagai pencegahnya terus melakukan pemeriksaan serta USG secara rutin. 

Mama juga bisa mengonsumsi air kelapa muda agar dapat membantu dalam membersihkan rahim dan terus menjaga air ketuban tetap normal. 

Pencegahan seperti ini dirasa perlu untuk meminimalisir segala kemungkinan yang tidak diinginkan terhadap bayi di dalam kandungan selama hamil. Pencegahan lain yang bisa dilakukan yaitu dengan terus menjaga kesehatan, sehingga membantu mengurangi perubahan efek air ketuban berwarna keruh. 

Itulah beberapa faktor dan pengetahuan lebih mengenai air ketuban. Semoga informasinya bisa bermanfaat ya, Ma!

Baca juga: Mencegah Kekurangan Air Ketuban Pada Trimester Ketiga

Topic:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;