TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Pesan Syekh Ali Jaber: Orangtua agar Tidak Menyakiti Perasaan Anak

Syekh Ali Jaber menjelaskan menjaga lisan dan sikap sangat penting agar anak dapat tumbuh baik

Dok. Hafiz Indonesia 2020

Seorang pendakwah dan ulama berkebangsaan Arab Saudi dan Indonesia yang semasa hidupnya aktif berdakwah, yaitu Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang lebih dikenal dengan Syekh Ali Jaber.

Beliau sudah meninggal dunia pada 2021 lalu, meskipun demikian, ilmu serta pesan yang ia sampaikan kepada seluruh umat muslim di Indonesia akan senantiasa diingat.

Termasuk soal pengasuhan anak dalam keluarga yang menjadi bagian tanggung jawab besar orangtua. Syekh Ali pernah mengingatkan untuk para papa dan mama dalam melaksanakan sebuah amanah dari Allah SWT yakni menjaga anak dengan sebaik-baiknya. 

Sangat perlu dihindari bahwa jangan sampai orangtua melakukan hal-hal yang membuat anak merasa tertekan dan melukai batinnya mulai dari ucapan ataupun tindakan.

Kebanyakan orangtua tidak acuh terhadap perlakuannya yang tanpa disadari dapat menyakiti hati anak hingga berujung pada hubungan antara orangtua dan anak jadi tidak baik. 

Lantas, apa saja sikap orangtua terhadap anak yang perlu dihindari menurut pandangan Syekh Ali Jaber?

Berikut Popmama.com telah rangkum informasi seputar pesan Syekh Ali Jaber orangtua tidak menyakiti perasaan anak

1. Cinta dengan syarat yang diberikan ke anak

Pexels/RODNAE Productions

Terkadang tanpa disadari hal ini seringkali diucapkan oleh para orangtua, yakni mengungkapkan rasa cinta namun dengan syarat. 

Misalnya seperti 'papa dan mama bangga sama kamu karena kamu selalu jadi ranking 1 di kelas' atau 'mama sama papa sayang sama kamu kalau kamu bisa pertahanin nilai rapor kamu', dan masih banyak ucapan lainnya.

Hadirnya cinta orangtua kepada anak harus tulus sampai kapan pun, bukan cinta dengan syarat. Adapun cinta dengan syarat akan tersimpan dalam benak anak bahwa dirinya harus memenuhi syarat ideal agar disayang oleh orangtuanya. 

Seolah-olah, adanya cinta yang ditunjukkan orangtua kepadanya tidaklah ikhlas. Perlu diingat, bahwa tanggung jawab orangtua adalah menyayangi dan mencintai anak-anaknya tanpa harus ada syarat.

Syekh Ali Jaber menyampaikan contoh sebagai berikut, "Aku cinta kamu, tapi ada syaratnya begini. Jadi, seolah-olah orangtua tunjukkan pada anak-anak kita kalau cintanya ini nggak ikhlas. Misalnya seperti, mama dan papa sayang sama kamu kalau kamu ngaji yang rajin, dan lain sebagainya. Kalau mau mengungkapan cinta ya cinta saja, cinta yang normal, tidak usah pakai syarat-syaratan. Kalau kita tidak menunjukkan rasa cinta kepada anak dengan tulus, maka mereka akan berlari mencari cinta itu ke orang lain," ujarnya.

Adapun ketika orangtua mengungkapkan syarat, anak mungkin hanya menanggapinya dalam diam karena tak bisa menyampaikan apa yang dirasakannya. 

Sebagai orangtua perlu disadari bahwa semestinya hendaklah bersikap dan berbicara lebih bijak, dengan mempelajari ilmu pengasuhan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Agar kelak dewasa, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang penuh rasa kasih sayang dan sikap tulus pada kedua orangtua serta orang lain disekitarnya. 

2. Menghina anak dengan kata-kata yang kasar dan tidak pantas

Pexels/Gustavo Fring

Menjadi orangtua merupakan suatu hal yang tidak mudah ya, Ma. Apalagi untuk menjaga sikap yang baik serta lisan terutama pada keluarga dan anak-anak. 

Terkadang ketika sedang emosi, tak jarang para orangtua bisa mengontrol ucapan maupun perlakuannya pada anak. 

Apabila sedang marah dan kesal pada anak, coba untuk duduk terlebih dahulu dan diam sebentar untuk mengatur emosi dengan baik.

Jangan sampai kata-kata kasar yang tidak pantas diucapkan misalnya berupa hinaan yang kapan saja bisa keluar dari mulut kita kepada anak. 

Syekh Ali Jaber memberikan sebuah contoh yang berasal dari hasil pengamatan beliau di sekitarnya saat menemui kejadian yang kurang mengenakan didengar yang ditujukan ke seorang anak. 

"Contoh, pas jemput anak ke sekolah, malah ada yang pernah berkata sanking menghina anaknya, seperti 'saya heran bagaimana saya punya anak seperti kamu?' apalagi ucapan ini disampaikan di depan orang banyak dan di depan teman-temannya." 

Hal tersebut mungkin terdengar biasa saja, namun sangat berbeda bagi anak dengan ucapan yang sangat menyakitkan itu.

Oleh karena itu, sebagai orangtua perlu belajar untuk berhati-hatilah dengan perkataannya yang akan disampaikan ke anak. Anak bisa saja saat itu tidak menangis di depan orangtua, tapi ia sudah mati rasa.

Akhirnya ia pun menjadi berkecil hati, kemudian orangtua susah membina anak untuk menjadi saleh atau salehah karena hatinya sudah hancur terlebih dahulu. 

3. Membandingkan anak dengan anak lainnya

Freepik/bearfotos

Semua orangtua pasti sudah mengetahui bahwa membandingkan anak dengan orang lain akan menimbulkan perasaan tidak nyaman. 

Adapun suatu hal yang selalu dibanding-bandingkan oleh orangtua, akan membuat anak merasa kecil hati. Tak hanya itu, anak bisa menjadi benci dengan orang tersebut, sehingga akan menyebabkan selalu berlawanan. 

Apalagi jika berada di situasi yang membuatnya semakin sulit ketika anak dibandingkan dengan saudara kandungnya sendiri. 

"Di mana ketemu kalau diajak main enggak mau karena orangtua selalu membandingkan, apalagi kalau anak tersebut punya adik-adik yang lain," ujar Syekh Ali Jaber. 

Syekh Ali Jaber pun menyampaikan bahwa orangtua sebagai orang dewasa apabila ada yang membandingkan dengan orang lain tentunya orangtua merasa tersinggung dengan hal tersebut, begitupun sama halnya dengan anak-anak. 

4. Melarang anak untuk menangis

Freepik/jcomp

Semua manusia pastinya memiliki perasaan, baik itu ketika emosi maupun menangis. Menangis merupakan hal yang wajar bagi setiap orang karena termasuk bagian dari mengekspresikan sebuah kesedihan. 

Misalnya seperti laki-laki tidak boleh menangis atau saat anak menangis, orangtua seketika mengucapkan sambil menyentak 'jangan cengeng jadi anak!'. Padahal, siapapun boleh menangis saat merasa terharu, sedih, dan emosi lainnya.

Menurut penelitian dari Harvard Medical School mengatakan menangis sebagai mekanisme untuk melepaskan stress dan rasa sakit emosional. Selain itu, menangis juga dapat menguatkan ikatan batin antara keluarga. 

Apabila anak laki-laki menangis, tak perlu dilarang, apalagi sampai mereka dipermalukan karena meneteskan air mata.

Hal tersebut merupakan suatu fitrah sebagai manusia, yaitu merasakan segala emosi. Jangan sampai kita melarang anak-anak untuk menangis. 

Adapun penelitian lainnya menemukan bahwa saat perasaan sulit terlalu disimpan di dalam diri, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan. 

Mungkin tubuh akan terasa kurang tangguh sampai menyebabkan kesehatan mental yang menurun, seperti stres, depresi, dan kecemasan.

"Laki-laki tidak boleh nangis, siapa yang bilang? Bapak-bapak nangis kan? Berarti boleh kalau laki-laki nangis. Biarin dia menangis. Itu mengakibatkan sakit jiwa karena setiap mau nangis ia tahan. Itu akibatnya informasi (pengetahuan) yang salah. Akhirnya ia tahan-tahan, justru menjadi beban sendiri, lama-lama bisa sebabkan sakit jiwa. Jangan dianggap sepele," ujar Syekh Ali Jaber dalam menyampaikan ceramahnya. 

5. Selalu melarang anak tanpa menjelaskan dulu sebabnya

Pexels/August de Richelieu

Perlu diingat, hindari untuk mematikan nalar kritis anak ketika bertanya. Saat Mama dan Papa ingin melarang, cobalah untuk menjelaskan sebab dan akibatnya kepada anak. 

Dengan begitu, anak bisa belajar mengetahui konsekuensinya apabila mereka melanggar hal tersebut.

"Kalau orangtua mau larang anaknya, tolong jelaskan dulu sebabnya. Contohnya enggak boleh nonton televisi sampai malam karena nanti bisa mengganggu matamu," ujar Syekh Ali Jaber dalam ceramahnya. 

Adapun contoh lainnya, yaitu adab menghabiskan makanan. Ketika makan, menghabiskan makanan merupakan suatu berkah yang tidak diketahui di bagian mana berkah tersebut berasal. 

Hadis riwayat Imam Muslim mengatakan:

 إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِى أَيِّهِ الْبَرَكَةُ

'innakum la tadrun fia 'ayih albaraka

Artinya: "Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di bagian mana dari makanan kalian terdapat berkah." 

Banyak hal yang perlu kita perbaiki, bukan hanya berdoa mengharapkan anak yang saleh dan salehah saja, tetapi juga perlu adanya contoh baik dari orangtuanya. 

Nah itulah penjelasan lengkapnya mengenai pesan orangtua untuk tidak menyakiti anak menurut pandangan Syekh Ali Jaber. Sebagai orangtua perlu sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik setiap harinya dengan memperbaiki diri dan menjaga komunikasi kepada si Anak. Salah satunya dengan mengajari akidah akhlak kepada anak secara sabar dan tanpa menghakiminya. 

Baca juga:

The Latest