TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Bukan dengan Menekan Emosinya, Inilah Cara Membuat Anak Disiplin

Emosi adalah hal wajar jika diungkapkan dengan cara yang sehat

Freepik/jcomp

Secara alamiah, anak-anak bisa sangat dramatis. Bagi orang dewasa yang menghadapinya, mungkin emosi mereka tampak tidak rasional dan tidak sesuai dengan situasi.

Hanya karena es krim yang jatuh, anak bisa marah dan menangis dengan histeris, bahkan tidak bisa ditenangkan dengan cepat. 

Hal ini wajar, Ma. Mereka boleh kok merasakan apapun yang mereka inginkan, bahkan jika Mama tidak merasakan hal yang sama seperti mereka rasakan.

Tetapi, tentu saja bukan berati anak-anak dapat berperilaku sesuka mereka. Orangtua tetap harus mendisiplinkan anak, tanpa mengesampingkan emosi yang dirasakannya.

Berikut ini Popmama.com merangkum beberapa tips yang dapat diterapkan orangtua, dilansir dari verywellfamily.com:

1. Bedakan antara emosi anak dengan tindakan atau apa yang anak lakukan

Freepik

Bedakan antara apa yang dilakukan anak dengan apa yang mereka rasakan. Kemarahan adalah perasaan, sedangkan memukul adalah perilaku. Kesedihan adalah perasaan, dan berteriak histeris adalah perilaku. 

Ketimbang meyakinkan anak Mama untuk tidak mengabaikan emosi tertentu, ajari mereka bagaimana menghadapi emosi yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Misalnya, ajarkan teknik mengatasi kemarahan. Tunjukkan pada anak bahwa marah itu normal, tapi membanting barang dan memukul orang lain itu buruk.

2. Hindari meminimalkan atau menolak emosi mereka

Freepik/peoplecreation

Anak-anak yang percaya bahwa mereka tidak boleh bersedih, akan berusaha keras menghindari kesedihan. Hal ini tidak sehat. Kesedihan adalah proses alami dari penyembuhan. 

Demikian pula anak-anak yang ditanamkan pola pikir, "Marah itu tidak baik," akan berusaha bersikap seperti tidak apa-apa dan mengingkari perasaan kesalnya sendiri.

Pada kenyataannya, marah bukanlah hal yang sepenuhnya buruk. 

Tujuan dari pengasuhan seharusnya bukan mengubah emosi anak Mama, melainkan memberikan mereka wawasan dan pilihan bagaimana cara mengungkapkan emosi yang lebih baik. Hindari mengatakan hal-hal seperti:

  • Jangan bersikap berlebihan
  • Jangan marah karena hal kecil
  • Berhenti menangis!
  • Kamu ini marah karena alasan yang nggak jelas
  • Jangan seperti bayi
  • Jangan mengkhawatirkan hal sepele itu, itu konyol

3. Bangun kepercayaan diri anak

Freepik/bristekjegor

Banyak orangtua yang berpikir, membesarkan anak yang kuat mentalnya adalah membesarkan anak yang tidak emosional. Padahal, anak yang kuat secara mental adalah yang mengenali emosinya dan memilih cara-cara sehat untuk mengatasi perasaan tak nyaman tersebut.

Ajari anak bahwa ia bisa dengan baik menangani perasaan tidak nyamannya. Ketika ia takut melangkah di depan kelas untuk mengeja, bila anak sudah dibekali rasa percaya diri mengatasi ketakutannya, ia akan tetap percaya diri menghadapinya.

Sebaliknya, bila orangtua menanamkan bahwa kekhawatiran adalah hal yang buruk, ia mungkin akan mundur dan tidak akan pernah berani menghadapi hal yang membuatnya cemas.

4. Orangtua perlu paham jika anak-anak juga butuh didengar

pixabay.com/nastya_gepp

Dengarkan apa yang mereka katakan. Entah itu isi hati anak mama atau sekadar kalimat permintaan tolong. Mereka butuh didengarkan.

Saat Mama memerhatikan apa yang mereka sampaikan maka mereka akan merasa dihargai.

Anak perlu kenyamanan yang timbul karena perasaan dihargai.

Dia merasa dianggap ada dan dirinya diperhitungkan meski masih kecil.

Setelah memahami emosi anak barulah Mama memberikan pengertian bagaimana menjadi anak yang baik, bagaimana caranya agar anak bisa hidup disiplin. 

Inilah cara membuat anak disiplin tanpa menekan emosinya. Sehingga perkembangan anak bisa berjalan dengan baik tanpa ada gangguan mental pada diri anak.

5. Mengajarkan anak mengelola emosinya

Freepik/Jcomp

Mengajarkan anak mengelola emosi bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam semalam. Mama perlu memperkenalkan tentang label emosi, di mana mereka bisa mendeskripsikan secara jelas seperti apa yang dirasakannya, seperti, "Aku merasa kecewa kita tidak jadi pergi ke rumah nenek hari ini."

Jika anak dalam kondisi suasana hati yang buruk, bicarakan bagaimana perilaku yang berbeda akan menghasilkan dampak yang berbeda pula.

Misalnya, ketimbang mengurung diri di kamar yang malah membuat suasana hati semakin buruk, ia punya pilihan untuk memainkan permainan yang menyenangkan, yang dapat menghiburnya.

Orangtua pun harus tegas menerapkan konsekuensi dari perilaku buruk akibat ketidakmampuan anak mengelola emosinya.

Jelaskan bahwa ia tidak dihukum karena apa yang dirasakannya, melainkan karena perilakunya. Marah boleh, tetapi tidak dengan merusak mainan, misalnya.

Terakhir, jangan mengizinkan anak menggunakan emosinya sebagai alasan. Jika anak mengatakan ia tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah karena ia sedang merasa sedih, jangan biarkan ia melakukannya. Tetapi, tetap ada pengecualian ya, Ma, untuk hal-hal yang berurusan dengan kematian dalam keluarga atau keadaan darurat lainnya.

Seiring dengan bertambahnya usia, anak akan memiliki kontrol yang lebih baik atas emosinya. Tetapi memang perlu usaha sepanjang usia sekolah hingga remaja.

Masa kanak-kanak bisa menjadi masa roller coaster emosi yang paling menantang. Anak Mama akan belajar banyak tentang emosi dari cara orangtua merespons momen-momen sulit yang dihadapi.

Itulah cara membuat anak disiplin tanpa menekan emosinya. Anak berhak jujur termasuk mengekspresikan perasaannya. Ia juga perlu belajar untuk tenang dan hidup dalam kedisplinan.

Baca Juga:

The Latest