Ma, Mengajarkan Anak Tentang Label Emosi Itu Penting

Dengan mengajarkan anak kosakata yang kaya tentang emosi, anak bisa mengelola emosi dengan baik

18 Maret 2019

Ma, Mengajarkan Anak Tentang Label Emosi Itu Penting
Pixabay.com

Sebagai manusia, anak pun punya perasaan dan emosi yang kompleks layaknya orang dewasa. Mereka bisa merasa frustrasi, bersemangat, grogi, sedih, cemburu, takut, khawatir, marah dan juga malu. 

Meskipun begitu, anak-anak belum memiliki kosa kata yang kaya untuk mengungkapkan secara gamblang apa yang dirasakannya. Tak jarang, karena begitu campur aduknya perasaan yang dirasakannya, anak mengungkapkannya hanya dengan dua ekspresi, marah dan menangis. 

Editors' Picks

Mengapa Penting Mengajarkan Label Emosi Pada Anak?

Mengapa Penting Mengajarkan Label Emosi Anak
Pixabay.com

Orangtua umumnya berusaha menyederhanakan perasaan dengan sebutan mendasar, misalnya "marah", "sedih", "bahagia". Hal ini tidak salah kok, Ma. Tetapi semakin bertambahnya usia anak, kita bisa mengajarkan variasi emosi lewat kata-kata deskriptif yang beragam. Mengapa hal ini penting?

Dengan memiliki kosa kata yang kaya terhadap emosi, seseorang dapat mengelola keadaan emosi negatifnya dengan tepat. Anak belajar mengidentifikasi rasa tidak nyamannya sehingga orang dewasa bisa memahami dan membantunya keluar dari perasaan merisaukan itu.

Pengaruh Label Emosi dari Sudut Pandang Sains

Pengaruh Label Emosi dari Sudut Pandang Sains
Pexels.com

Bukan hanya berefek secara psikologis, tetapi label emosi ini juga terbukti secara sains. Profesor Matthew Lieberman, penulis Social: Why Our Brains Are Wired to Connect menemukan bahwa aktivitas pada amygdala otak dan wilayah otak lain terkait kewaspadaan dan diskriminasi dapat teredam jika seseorang menemukan ungkapan yang tepat terhadap emosi yang dirasakannya. 

Dengan menemukan label emosi yang tepat, aktivitas yang terjadi di otak dapat terkontrol. Ini memperlambat reaksi sistem limbic (emotional seat). Mengidentifikasi apa yang dirasakan merupakan salah satu bagian pembelajaran anak tentang sosial-emosionalnya.

Bagaimana Cara Mengajarkan Anak Mengidentifikasi Emosinya?

Bagaimana Cara Mengajarkan Anak Mengidentifikasi Emosinya
Pexels.com

Emosi adalah hal yang tidak terlihat, tapi bisa dirasakan. Mama bisa mengajarkannya lewat beberapa cara berikut ini:

  1. Tunjukkan berbagai gambar dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Misalnya: frustrasi, jijik, sedih, lelah, tidak bersemangat, malu, kikuk, bahagia, bersemangat, dan sebagainya.
  2. Buatlah permainan ekspresi dengan cara menuliskan di kartu tentang berbagai macam jenis emosi dan minta anak bermain peran sesuai kartu yang didapatkannya. Mama bisa mengajak anak bermain peran, baik secara verbal maupun bahasa tubuh.
  3. Bangun kebiasaan bercerita di keluarga setiap harinya, setelah beraktivitas. Bertanyalah apa yang dirasakan si kecil di hari ini dan Mama pun bisa berbagi dengannya dengan menggunakan kata-kata yang beragam.
  4. Jika sudah sampai di tahapan ini, sebaiknya hindari menggunakan kata-kata dasar (marah, sedih, bahagia) untuk pengungkapan perasaan agar anak terlatih menggunakan kosa kata yang lebih akurat.
  5. Ajarkan pada anak bahwa amarah merupakan emosi sekunder. Sebelum seseorang merasa marah, ia merasakan emosi yang lain, seperti merasa diabaikan, cemburu, merasa ditinggalkan, dan sebagainya. Dengan cara ini, orang tua pun bisa mengidentifikasi sebab kemarahan anak dan lebih mudah untuk mencari jalan keluarnya.

Tak semua orang dewasa bisa mengatasi emosinya dengan benar, apalagi anak-anak. Untuk itu, peranan orang tua sangatlah penting. Mama bisa memulainya dengan bertanya, "Kamu sepertinya terlihat tidak bersemangat. Benar?" atau pun lebih sederhana, "Apa yang kamu rasakan seharian tadi di sekolah?"

Dengan mengetahui kosa kata label emosi yang tepat, baik anak-anak maupun orangtua dapat mengelola perasaannya dengan baik karena kecerdasan emosional itu sangat penting sebagai bekal seseorang bertahan hidup.

Baca Juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.