- Pembawaan karakter yang tenang
Sama seperti orang dewasa, setiap bayi mama lahir dengan karakter yang berbeda. Mengutip Raising Children, ada bayi yang secara alami lebih santai dan tidak mudah rewel dibandingkan dengan yang lain.
Apakah Normal Bayi Baru Lahir Jarang Menangis? Ini Faktanya

- Bayi baru lahir bisa jarang menangis secara normal bila tetap aktif, responsif, dan kebutuhannya terpenuhi; rata-rata tangisan pada enam minggu pertama berkisar 1–3 jam per hari.
- Bayi mungkin lebih tenang karena temperamen bawaan, kebutuhan cepat terpenuhi, atau masih banyak tidur. Namun, tangisan lemah dan terlalu diam dapat menandakan kurang tenaga, sakit, atau dehidrasi.
- Orangtua perlu memantau menyusu, berat badan, popok, serta sinyal lapar nonverbal. Segera periksakan bila bayi lemas, sulit dibangunkan, demam 38°C, popok basah kurang dari enam kali, atau tidak menyusu aktif.
Banyak orang beranggapan kalau bayi identik dengan tangisan, bahkan hampir setiap jam. Makanya, saat si Kecil justru terlihat tenang dan jarang menangis, tidak sedikit Mama yang malah jadi khawatir apakah ini pertanda baik atau justru ada yang perlu diwaspadai.
Sebenarnya, wajar kalau pertanyaan ini muncul. Setiap bayi memang punya karakter yang berbeda-beda, tapi tangisan juga menjadi salah satu cara utama bayi berkomunikasi dengan Mama. Jadi, kalau ia jarang melakukannya, tentu ada alasan di baliknya.
Daripada Mama semakin penasaran dengan kondisi si Kecil, berikut Popmama.com mengulas apakah normal bayi baru lahir jarang menangis? Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
Apakah Normal Bayi Baru Lahir Jarang Menangis?

Pexels/Polina Smelova Jawabannya iya, bisa juga perlu diwaspadai, tergantung pada kondisi si Kecil secara keseluruhan. Mengutip Kids Health, umumnya bayi menangis sekitar 2-3 jam sehari pada 6 minggu pertama kehidupannya.
Sementara itu, mengutip The Bump, tangisan pada bayi rentangnya bisa 1-3 jam sehari, karena memang tidak ada tangisan bayi yang persis sama.
Artinya, ada bayi yang secara alami memang lebih jarang menangis dibandingkan dengan yang lain, dan itu sah-sah saja selama si Kecil tetap aktif, responsif, dan kebutuhannya terpenuhi dengan baik.
Bayi menangis adalah cara utama bayi baru lahir menyampaikan kebutuhan dan perasaannya, sehingga bayi yang terlalu jarang bersuara, apalagi disertai tanda lemas, tetap perlu mendapat perhatian lebih.
Tangisan Bayi yang Normal

Pexels/Jonathan Borba Supaya lebih mudah membedakan mana yang normal dan mana yang perlu diwaspadai, penting bagi Mama untuk tahu dulu seperti apa pola tangisan bayi yang wajar.
Menurut Pediatric Physician, tangisan normal biasanya berpola ritmis dan biasanya berhenti dalam 10-20 menit setelah ditenangkan dengan cara-cara sederhana seperti digendong atau disusui.
Melansir Raising Children, tangisan bayi baru lahir cenderung memuncak pada usia 6-8 minggu, lalu berangsur berkurang seiring bertambahnya usia.
Semakin besar si Kecil, semakin mudah pula Mama mengenali arti dari setiap tangisannya, entah itu lapar, mengantuk, atau sekadar ingin dipeluk.
Penyebab Bayi Jarang Menangis

Pexels/Sarah Chai Setelah tahu gambaran tangisan yang normal, sekarang saatnya mengenali apa saja yang bisa membuat si Kecil terlihat lebih jarang menangis dibandingkan dengan bayi seusianya. Berikut beberapa kemungkinan penyebabnya:
- Bayi banyak tidur di masa-masa awal
Pada minggu-minggu pertama, sebagian besar waktu si Kecil memang dihabiskan untuk tidur, sehingga waktu terjaga dan menangisnya pun otomatis lebih sedikit. Semakin bertambah usia, pola ini biasanya akan berubah seiring makin banyaknya waktu terjaga. - Tubuhnya sedang kurang bertenaga
Melansir Pediatric Physician, tangisan yang lemah atau bayi yang justru terlalu diam bisa jadi tanda sedang tidak sehat atau kurang cairan.
- Bayi banyak tidur di masa-masa awal
Apa yang Harus Orangtua Lakukan?

Pexels/Rendi iD Kalau si Kecil termasuk tipe yang jarang menangis, bukan berarti Mama bisa lepas tangan begitu saja. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memastikan semua kebutuhannya tetap terpenuhi, dikutip dari The Bump:
- Amati kebutuhan dasarnya secara berkala
Mama jangan sampai menunggu sampai si Kecil menangis untuk mengecek apakah ia lapar, popoknya basah, atau kepanasan. Buat jadwal pengecekan rutin, misalnya setiap 2-3 jam, sesuai anjuran umum pola makan bayi baru lahir. - Kenali sinyal selain tangisan
Tanda-tanda awal seperti menjilat bibir, mengisap tangan, atau menoleh mencari puting biasanya muncul sebelum bayi menangis. Belajar mengenali sinyal ini membantu Mama merespons lebih cepat. - Pantau berat badan dan pola menyusu
Pastikan si Kecil tetap menyusu aktif dan berat badannya bertambah sesuai jadwal kontrol dengan dokter anak. Ini jadi indikator penting bahwa kondisinya baik-baik saja, terlepas dari seberapa sering ia menangis. - Catat pola hariannya
Kalau Mama masih ragu, coba catat pola tidur, menyusu, dan buang air bayi mama selama beberapa hari. Data sederhana ini akan sangat membantu saat berkonsultasi dengan dokter anak.
- Amati kebutuhan dasarnya secara berkala
Kapan Mama Harus Khawatir?

Pexels/Antoni Shkraba Meski jarang menangis bisa jadi hal yang wajar, ada beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan. Mengutip Pediatric Physician, berikut kondisi yang perlu segera mendapat perhatian medis.
- Terlihat lemas atau sulit dibangunkan
Bayi yang tampak sangat lesu, tidak responsif, atau susah dibangunkan meski sudah waktunya menyusu, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter. - Popok basah kurang dari 6 kali sehari
Ini bisa jadi tanda dehidrasi, apalagi jika disertai mulut kering atau mata yang terlihat cekung. - Demam 38 derajat Celsius atau lebih
Khususnya pada bayi di bawah usia 3 bulan, demam setinggi ini termasuk kondisi darurat yang perlu penanganan segera pada hari yang sama. - Tidak menyusu aktif atau berat badan tidak naik
Kalau si Kecil terlihat kurang berminat menyusu atau berat badannya stagnan saat ditimbang, sebaiknya Mama segera mendiskusikannya dengan dokter anak.
Nah, itulah pembahasan mengenai apakah normal bayi baru lahir jarang menangis? Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!
- Terlihat lemas atau sulit dibangunkan





















