Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Plagiocephaly Bisa Sembuh? Cek Penjelasan Lengkapnya
Unsplash/Marie Despeyroux
  • Plagiocephaly atau kepala peyang adalah kondisi kepala bayi tampak datar atau tidak simetris, umumnya akibat tengkorak yang masih lunak dan tekanan berulang pada sisi kepala tertentu.

  • Kondisi ini dapat ditangani melalui terapi posisi, helm khusus, hingga operasi. Untuk kasus sedang-berat, terapi helm biasanya optimal pada usia 3-6 bulan selama sekitar 12 minggu.

  • Pencegahan dilakukan dengan mengganti arah kepala saat tidur telentang, tummy time terawasi saat terjaga, serta mengajak bayi menoleh ke sisi yang jarang digunakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kepala bayi bisa peyang karena tengkoraknya masih lunak dan ia sering menoleh ke satu sisi saat tidur. Kepala peyang bisa dibantu jadi lebih baik dengan mengubah posisi kepala, bermain tengkurap sambil dijaga, atau memakai helm khusus dari dokter. Helm paling baik saat bayi umur 3 sampai 6 bulan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mama pernah merasa bentuk kepala si Kecil terlihat agak berbeda dari bayi lainnya? Misalnya, ada bagian kepala belakangnya tampak lebih datar atau bentuknya terlihat sedikit tidak simetris.

Kondisi kepala yang tampak tidak simetris bisa menjadi tanda plagiocephaly atau kepala peyang. Namun, Mama jangan langsung panik karena kondisi ini memiliki penanganan tertentu.

Lantas, apakah kondisi ini bisa sembuh? Simak penjelasannya dalam artikel Popmama.com mengenai apakah plagiocephaly bisa sembuh berikut ini.

Apa Itu Plagiocephaly?

Londonorthotics.co.uk

Plagiocephaly atau flat head syndrome atau di Indonesia dikenal dengan istilah kepala peyang adalah kondisi ketika kepala bayi memiliki bagian yang tampak datar atau bentuknya tidak simetris.

Dilansir Cleveland Clinic, kondisi ini biasanya terjadi pada salah satu sisi kepala karena tengkorak bayi masih lunak dan mudah berubah bentuk.

Selain itu, bayi yang sering tidur dengan posisi kepala menghadap ke sisi yang sama berisiko mengalami plagiocephaly.

Hal ini karena si Kecil menerima tekanan berulang pada bagian kepala sisi tersebut. Seiring waktu, tekanan ini bisa membuat bagian kepala menjadi lebih datar dan terlihat tidak simetris.

Apakah Plagiocephaly Bisa Sembuh?

Unsplash/Jimmy Conover

Setelah mengenal apa itu plagiocephaly, Mama mungkin akan bertanya-tanya apakah plagiocephaly bisa sembuh? Jawabannya bisa, Ma.

Kepala bayi dengan bentuk tidak simetris atau normal dapat disembuhkan dengan beberapa cara, seperti terapi posisi, penggunaan helm khusus, hingga operasi.

Dilansir dari Healthline, pada kasus yang lebih sedang hingga berat, dokter mungkin merekomendasikan molding helmet therapy, yaitu terapi menggunakan helm atau band khusus yang dibuat sesuai bentuk kepala bayi untuk membantu membentuk tengkorak menjadi lebih simetris.

Terapi ini umumnya paling optimal diberikan saat bayi berusia 3-6 bulan dan dapat membutuhkan waktu sekitar 12 minggu.

Helm perlu digunakan hampir sepanjang waktu, kecuali saat bayi mandi. Penggunaan helm ini harus berdasarkan resep serta pengawasan dokter.

Cara Mencegah Plagiocephaly

Unsplash/Jason Sung

Ada beberapa cara yang bisa Mama lakukan untuk membantu mencegah plagiocephaly pada si Kecil seperti yang dilansir dari Raising Children Network.

Cara pertama adalah rutin mengubah posisi kepala bayi secara bergantian ke kanan dan kiri saat si Kecil tidur telentang.

Cara lainnya adalah dengan rutin melakukan tummy time atau bermain dalam posisi miring dengan tetap diawasi.

Mama juga bisa mengajak bayi bermain dari sisi yang paling jarang si Kecil digunakan dengan cara meletakkan mainan, ajak berbicara, bernyanyi, atau bunyikan kerincingan dari sisi tersebut agar si Kecil terdorong untuk menoleh dan mengurangi tekanan pada satu sisi kepala.

Itulah mengenai apakah plagiocephaly bisa sembuh. Mama tidak perlu panik karena plagiocephaly umumnya dapat disembuhkan, terutama ketika sudah terdeteksi sejak dini.

Curated For You

Editorial Team

Related Article