Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bayi Tidak BAB 4 Hari tapi Masih Kentut, Apakah Normal?
Popmama.com/Sofya Wardhani/AI
  • Bayi tidak BAB selama empat hari namun masih kentut termasuk kondisi normal, terutama pada bayi ASI.

  • Jarangnya BAB dipengaruhi perkembangan pencernaan, ASI eksklusif, perubahan ke MPASI atau susu formula, serta kurang cairan yang dapat membuat feses keras.

  • Orangtua dapat mencoba memijat perut bayi, memastikan asupan susu tercukupi, serta menggerakkan kaki bayi seperti mengayuh sepeda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Frekuensi buang air besar (BAB) pada bayi bisa berbeda-beda, tergantung usia dan asupan hariannya. Ada bayi yang BAB setiap hari, tetapi ada juga yang hanya BAB setelah beberapa hari. Kondisi ini terkadang disertai bayi yang masih sering kentut.

Tak heran jika bayi tidak BAB selama berhari-hari tapi sering kentut bisa membuat Mama khawatir. Mama mungkin bertanya-tanya, apakah kondisi ini masih normal atau justru menjadi tanda bahwa si Kecil mengalami sembelit?

Untuk membantu Mama memahami kondisi ini, Popmama.com telah merangkum penjelasan mengenai bayi tidak BAB 4 hari tapi sering kentut, apakah normal?

Yuk, simak penjelasannya berikut ini, Ma!

Bayi Tidak BAB 4 Hari tapi Sering Kentut, Apakah Normal?

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

Bayi tidak BAB selama empat hari tetapi masih sering kentut bisa tergolong normal, terutama pada bayi yang mendapat ASI eksklusif dan sudah berusia beberapa minggu. Hal ini karena ASI dapat dicerna dan diserap dengan baik oleh tubuh sehingga frekuensi BAB bayi menjadi lebih jarang, melansir The Cloudnine Hospitals.

Meski begitu, kondisi ini juga perlu dilihat berdasarkan usia dan konsistensi feses. Jika bayi tetap aktif, menyusu dengan baik, tidak tampak kesakitan, dan feses yang keluar tetap lunak, jarangnya BAB belum tentu menandakan sembelit.

Sebaliknya, jika feses keras, bayi mengejan dengan kesakitan, perut membengkak, atau mengalami muntah, Mama perlu berkonsultasi dengan dokter. Frekuensi kentut saja tidak cukup untuk memastikan bahwa sistem pencernaan bayi dalam kondisi baik.

Penyebab Bayi Tidak BAB Berhari-hari

1. Sistem pencernaan bayi masih berkembang

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

Sistem pencernaan bayi masih mengalami perkembangan, terutama pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Pola BAB pun dapat berubah seiring bertambahnya usia dan kemampuan tubuh dalam mencerna ASI atau susu formula.

Pada sebagian bayi, frekuensi BAB bisa menjadi lebih jarang tanpa menandakan masalah kesehatan. Selama bayi tetap nyaman, menyusu dengan baik, dan fesesnya lunak, Mama tidak perlu langsung khawatir.

2. Bayi mengonsumsi ASI eksklusif

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

Bayi yang mendapat ASI eksklusif dapat memiliki frekuensi BAB yang lebih jarang, khususnya setelah berusia sekitar 4–6 minggu. Hal ini karena sebagian besar komponen ASI dapat dicerna dan dimanfaatkan oleh tubuh bayi.

Akibatnya, sisa pencernaan yang dikeluarkan sebagai feses relatif sedikit. Bayi pun bisa tidak BAB selama beberapa hari, tetapi tetap dalam kondisi normal selama tidak ada gejala lain yang mengkhawatirkan.

3. Terjadi perubahan pola makan

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

Perubahan pola makan, seperti mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI) atau berganti susu formula, dapat memengaruhi frekuensi dan tekstur BAB bayi. Hal ini terjadi karena sistem pencernaan si Kecil perlu menyesuaikan diri dengan kandungan nutrisi dari asupan yang baru

Perubahan tersebut bisa membuat pola BAB menjadi berbeda dari biasanya, baik dari segi frekuensi maupun konsistensi feses. Jika feses menjadi keras dan bayi kesulitan mengeluarkannya, kondisi ini bisa mengarah pada sembelit.

4. Asupan cairan kurang

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

Asupan cairan yang tidak mencukupi dapat membuat feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Mama perlu memperhatikan tanda kekurangan cairan, seperti jumlah popok basah yang berkurang, mulut kering, atau bayi tampak lesu.

Pada bayi di bawah usia 6 bulan yang masih mendapat ASI eksklusif, kebutuhan cairan umumnya dipenuhi melalui ASI sehingga tidak perlu diberikan air putih tanpa anjuran tenaga kesehatan. Sementara itu, bayi yang sudah mulai MPASI dapat ditawari air putih sesuai usianya, di samping tetap mendapatkan ASI atau susu formula.

Frekuensi BAB Bayi seiring Bertambahnya Usia

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

Frekuensi buang air besar (BAB) bayi dapat berubah seiring bertambahnya usia dan tahap perkembangannya. Dikutip dari laman Healthline, berikut gambaran umum frekuensi BAB bayi yang perlu Mama ketahui.

  • 48 jam pertama: Bayi akan mengeluarkan mekonium, yaitu feses pertama yang berwarna hijau tua atau hampir hitam dengan tekstur lengket. Mekonium umumnya keluar dalam 24–48 jam pertama setelah lahir.

  • Usia 1–6 minggu: Bayi dapat BAB beberapa kali sehari. Frekuensinya berbeda-beda, tergantung jenis asupan dan kondisi masing-masing bayi.

  • Mulai usia 6 minggu: Frekuensi BAB bayi, terutama yang mendapat ASI, dapat mulai berkurang. Bayi mungkin tidak BAB setiap hari dan melewatkan beberapa hari sebelum BAB kembali.

  • Usia 6 bulan ke atas: Setelah mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI), pola BAB bayi dapat berubah kembali. Mama dapat memberikan makanan berserat sesuai usia, seperti buah dan sayuran, untuk membantu menjaga kesehatan pencernaannya

Cara Mengatasi Bayi yang Tidak BAB Berhari-hari

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

Jika bayi tidak BAB selama berhari-hari tetapi tetap aktif dan tidak menunjukkan tanda bahaya, Mama dapat mencoba beberapa cara berikut untuk membantu kenyamanan pencernaannya:

  1. Pijat perut dengan lembut. Pijat perut bayi secara perlahan dengan gerakan melingkar, tanpa menekan terlalu kuat.

  2. Gerakkan kaki seperti mengayuh sepeda. Gerakan ini dapat membantu bayi merasa lebih nyaman ketika perutnya bergas.

  3. Pastikan asupan susu tercukupi. Tetap berikan ASI atau susu formula sesuai kebutuhan bayi.

  4. Berikan makanan berserat sesuai usia. Jika bayi sudah MPASI, Mama dapat menawarkan buah seperti pir atau prun yang sesuai dengan tekstur dan tahap makannya.

  5. Penuhi kebutuhan cairan sesuai usia. Bayi yang sudah MPASI dapat diberi air putih dalam jumlah yang sesuai, sementara ASI atau susu formula tetap menjadi sumber cairan utama.

  6. Hindari obat tanpa petunjuk dokter. Jangan memberikan obat pencahar, air gula, atau ramuan tertentu tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Nah, itu dia penjelasan mengenai bayi tidak BAB 4 hari tapi masih kentut. Semoga informasi ini dapat membantu, ya, Ma! 

Curated For You

Editorial Team

Related Article