IDAI: Pemakaian Gurita Bayi Bisa Berdampak Buruk, Ma!

Bukan untung, pemakaian gurita malah bisa membahayakan kesehatan bayi

26 Februari 2019

IDAI Pemakaian Gurita Bayi Bisa Berdampak Buruk, Ma
pixabay.com/Engin_Akyurt

Bayi Indonesia biasa memakai kain gurita. Tradisi mempercayai bahwa bayi yang baru dilahirkan akan lebih sehat memakai kain ini. Gurita adalah selembar kain kecil dengan tali pengikat. Dipakai untuk membebat bagian perut bayi. Gunanya untuk mencegah masuk angin, mencegah pusar menjadi bodong, mengecilkan perut, bahkan melindungi tali pusar yang belum puput.

Padahal, semua manfaat itu bukan didapatkan dari pemakaian gurita pada bayi. Disisi lain, pemakaian gurita malah berakibat fatal dan membahayakan kesehatan bayi lho, Ma.

Seperti apa penjelasannya? Langsung simak yuk, dampak dan akibat fatal pemakaian gurita bayi yang Popmama.com rangkum kali ini.

Mitos Penggunaan Gurita dan Faktanya

Mitos Penggunaan Gurita Faktanya
blibli.com
  • Mitos 1: Gurita mencegah perut bayi buncit

Faktanya: Pemakaian gurita pada bayi menjadi pilihan sebagian orangtua karena kekhawatiran mereka melihat perut bayi yang besar.

Padahal, hal itu wajar terjadi karena besar atau kecilnya perut bayi ditentukan dari ketebalan kulit, lemak di bawah kulit, dan otot perut yang berfungsi menahan daya dorong isi perut. Hal ini yang menyebabkan perut membesar seperti sedang kembung.

Seiring berjalannya waktu dan tumbuh kembang bayi kulit, lemak, dan ototnya akan menebal sehingga bentuk perut bayi akan mengecil dengan sendirinya dan terlihat lebih proposional.

  • Mitos 2: Gurita mencegah pusar bodong

Faktanya: Pusar bodong bukanlah disebabkan karena tidak pakai gurita. Pusar bodong adalah karena tidak sempurnanya penutupan lubang cincin pusar saat testis bayi laki-laki atau ovarium bayi perempuan turun ke rongga panggul sesaat sebelum ia dilahirkan. Pusar bodong biasanya bukan masalah yang serius sehingga orangtua tidak  perlu mengkhawatirkan kondisi tersebut. Namun jika bayi sering kembung atau terlihat kesakitan, disarankan Mama membawanya ke dokter. 

  • Mitos 3: Gurita mencegah masuk angin

Faktanya: Orangtua menganggap bayi masuk angin karena perutnya yang terlihat kembung. Padahal perut kembung bayi bisa disebabkan oleh terlalu lama menangis, cara minum susu yang belum benar, suhu atau udara yang terlalu dingin, atau memang gejala penyakit yang serius.

Dokter Muzal Kadim, Sp.A(K), di laman IDAI.or.id, menulis cara mengatasi perut kembung adalah dengan memperbaiki posisi bayi ketika meminum susu, membuatnya sendawa setelah minum susu, menghangatkan perutnya dengan minyak penghangat, dan memeriksakan ke dokter untuk kemungkinan si Kecil mengalami intoleransi laktosa.

  • Mitos 4: Gurita menjaga tali pusat yang belum puput

Faktanya: Pemakaian gurita untuk melindungi tali pusar yang belum puput juga bukanlah perawatan yang tepat. Sebab, pada dasarnya pusar akan puput dengan sendirinya setelah 1-2 minggu.

Mama hanya perlu menjaga tali pusar tetap bersih dan tidak terkena urine maupun tinja bayi. Jika tali pusar kotor, cuci tali pusar dengan air bersih dan sabun lalu keringkan dengan kain bersih. Dan jangan gunakan gurita agar tali pusar tidak lembap dan tetap kering.  

Editors' Picks

Dampak Buruk Pemakaian Gurita

Dampak Buruk Pemakaian Gurita
commons.wikimedia.org

Tidak seperti yang Mama pikirkan, pemakaian gurita malah berdampak pada beberapa masalah pada bayi antara lain:

  • Iritasi kulit

Menurut artikel tentang gurita yang ditulis di laman Ikatan Dokter Anak Indonesia, pemakaian gurita malah bisa menyebabkan bayi merasa kepanasan lalu berkeringat. Jika gurita tidak segera dilepas keringat yang terkumpul akan menyebakan iritasai kulit seperti gatal, biang keringat, atau ruam merah. Maklum, Ma, kulit bayi masih sangat sensitif dan ia belum mampu mengatur suhu tubuhnya. 

  • Gumoh dan muntah

Pemakaian gurita yang terlalu ketat membuat perut bayi tertekan, sehingga setelah bayi minum ASI, risiko gumoh dan muntah akan meningkat karena terjadi aliran balik makanan yang telah masuk ke dalam lambung.

  • Sesak napas

Sistem pernapasan bayi yang masih berkembang dan belum sempurna menjadikan bayi lebih dominan menggunakan pernapasan perut dibandingkan perapasan dada. Sehingga ikatan gurita yang terlalu kencang akan berdampak sesak napas, batuk, tersedak bahan kekurangan oksigen pada bayi.

Akibat Buruk Pemakaian Gurita

Akibat Buruk Pemakaian Gurita
flickr.com/Victoria Johnson

Jika pemakaian gurita dibiarkan dan terus dilakukan secara berulang, bayi akan mengalami gangguan pernapasan yang ditandai dengan:

  • Perubahan pada kecepatan atau pola pernapasan,
  • batuk karena saluran napas yang tertekan kain,
  • berisiko tersedak,
  • mendengkur keras,
  • henti napas yang menyebabkan kulit yang membiru. 

Gangguan pernapasan bayi akan berakibat fatal. Jika asupan oksigen tidak maksimal, maka bayi bisa berhenti bernapas, kegagalan jantung, berisiko mengalami kerusakan otak, dan kematian. 

Setelah mengetahui dapak dan akibat penggunaan gurita bayi, semestinya Mama pempertimbangkan terlebih dahulu kegunaan dan dampak yang disebabkan pemakaian gurita atau perlengkapan apa pun pada bayi. Sebab, bayi yang baru lahir sangat rentan dan belum sempurna organnya.

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!