Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wikimedia Commons/Jules Atkins, RM
  • Eksim pada bayi ditandai kulit kering, bersisik, gatal, serta bercak merah atau keunguan; perawatan awal meliputi sabun lembut dan pelembap kulit sensitif.

  • Dermatitis kontak, biduran, dan ruam akibat air liur dapat dipicu iritan, alergen, virus, atau kelembapan; hindari pemicu dan jaga kulit bayi tetap bersih serta kering.

  • Ruam popok umumnya terjadi akibat kontak lama dengan urine atau tinja; ganti popok segera, gunakan salep pelindung, dan konsultasikan dokter bila ruam memburuk atau tak membaik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Lima kondisi ruam kulit pada bayi dibahas: eksim, dermatitis kontak, biduran, ruam akibat air liur, dan ruam popok, beserta gejala serta langkah perawatan awalnya.
  • Who?
    Bayi yang mengalami ruam kulit, orang tua atau pengasuh, apoteker untuk konsultasi antihistamin, serta dokter anak atau tenaga IGD dalam kondisi tertentu.
  • Where?
    Ruam dapat muncul di wajah, kulit kepala, lengan, kaki, sekitar mulut, dagu, leher, bokong, paha, atau bagian tubuh lain, tergantung jenis kondisinya.
  • When?
    Biduran dapat muncul setelah bayi mengonsumsi pemicu alergi atau saat melawan virus. Ruam air liur sering terjadi pada usia 3–4 bulan ketika produksi ludah meningkat.
  • Why?
    Pemicu meliputi faktor genetik dan lingkungan, kain atau sabun yang mengiritasi, alergen, air liur, kontak berkepanjangan dengan urine atau tinja, serta gesekan popok.
  • How?
    Perawatan awal mencakup menghindari pemicu, memakai pembersih lembut dan pelembap, menjaga kulit kering, mengganti popok segera, serta memeriksakan bayi bila ruam menetap, memburuk, terinfeksi, atau disertai sesak napas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kulit bayi bisa merah, gatal, atau kasar karena eksim, benda yang tidak cocok, biduran, air liur, atau popok. Mama bisa pakai sabun lembut, pelembap, dan cepat ganti popok basah. Jauhkan bayi dari pemicu ruam. Kalau ruam lama, makin parah, atau bayi susah bernapas, segera ke dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah Mama mendapati pipi si Kecil mendadak merah dan kasar padahal semalam ia tidur dengan tenang? Tapi, yang Mama mungkin belum ketahui, bayi mama bisa saja mengidap alergi kulit.

Kabar baiknya, sebagian besar ruam pada bayi tidak berbahaya dan sering hilang sendiri atau cukup dengan perawatan ringan. Meski begitu, mengenali jenisnya tetap penting supaya Mama tidak salah langkah saat si Kecil mulai rewel karena gatal.

Untuk memudahkan Mama dalam membedakan alergi pada bayi, berikut Popmama.com mengulas 5 jenis alergi kulit bayi. Yuk, simak sampai habis!

1. Eksim

Wikimedia Commons/CDC Global, Jim Goodson, M.P.H.

Kalau bicara soal gangguan kulit pada bayi, eksim hampir selalu jadi nama pertama yang muncul. Melansir Medical News Today, eksim termasuk kondisi kulit yang paling umum pada bayi, dan eksim atopik adalah jenis yang paling mungkin menyerang bayi serta anak kecil.

Mengutip Mayo Clinic, kulit yang terkena eksim tampak kering, bersisik, dan gatal dengan warna merah atau keunguan, tergantung warna kulit. Pada bayi, bercak ini biasanya muncul di wajah, kulit kepala, serta lengan dan kaki.

Dokter belum tahu pasti kenapa sebagian bayi terkena eksim dan sebagian lagi tidak, tetapi faktor genetik dan lingkungan diduga ikut berperan. Pemicunya pun beragam, mulai dari kain yang mengiritasi, sabun, hingga udara panas.

Untuk perawatan awal, disarankan untuk mandi dengan sabun lembut, mengeringkan kulit dengan cara ditepuk-tepuk, lalu rutin mengoleskan pelembap khusus kulit sensitif.

2. Dermatitis kontak

Wikimedia Commons/CDC

Dermatitis kontak terjadi ketika kulit si Kecil bersentuhan dengan sesuatu yang tidak cocok dengannya. Mengutip Cleveland Clinic, kondisi ini menimbulkan ruam gatal akibat kontak dengan alergen atau pemicu iritasi.

Melansir The Bump, penyebabnya beragam, mulai dari air liur, kotoran, tisu basah, deterjen, pelembut pakaian, lembar pengering pakaian, sabun, losion, hingga tabir surya.

Kulit bayi memang lebih mudah bereaksi, lapisan pelindungnya lebih tipis dan belum matang. Kalau ruam bertahan lebih dari seminggu atau tampak terinfeksi, Mama disarankan untuk membawa si Kecil ke dokter.

Langkah awalnya adalah menjauhkan si Kecil dari pemicu, lalu merawat kulitnya dengan pembersih lembut dan pelembap.

3. Biduran

Wikimedia Commons/Allergyresearch

Biduran sering datang tanpa aba-aba dan membuat si Kecil gelisah. Mengutip NHS, gejala utamanya adalah ruam gatal berupa bentol atau bercak timbul dengan beragam bentuk dan ukuran, yang bisa muncul di bagian tubuh mana pun serta terasa gatal, perih, atau panas.

Bentol tampak merah muda atau merah pada kulit terang, tetapi bisa lebih sulit terlihat pada kulit yang lebih gelap. 

Melansir The Bump, biduran bisa muncul tak lama setelah si Kecil makan sesuatu yang memicu alergi, atau saat ia sedang melawan virus, dan bentol akibat virus bisa hilang-timbul selama beberapa hari.

Untuk menenangkan bentol, losion kalamin bisa dioleskan. Sementara itu, untuk penggunaan  antihistamin, Mama disarankan untuk bertanya dulu ke apoteker karena obat ini mungkin tidak cocok bagi bayi.

Segera bawa si Kecil ke IGD jika bibir, mulut, lidah, atau tenggorokannya tiba-tiba bengkak, atau ia tampak kesulitan bernapas.

4. Alergi air liur

Pexels/Rahul Genie

Memasuki usia 3–4 bulan, kelenjar ludah si Kecil mulai aktif dan air liurnya pun melimpah, melansir The Bump. Ruam yang muncul sesudahnya sering disebut alergi air liur.

Air liur bukan sekadar air karena mengandung enzim pencernaan dan kadang sisa makanan. Itulah sebabnya kulit di sekitar mulut, dagu, dan leher yang terus basah lebih mudah terkena ruam.

Ruamnya tampak sebagai kemerahan yang meradang di wajah, kadang dengan kulit yang agak kering dan mengelupas. 

Sementara itu, mengutip Cleveland Clinic, ruam akibat tumbuh gigi di wajah bisa hilang timbul, terjadi saat gigi baru muncul atau saat bayi tidak lagi banyak mengeluarkan air liur.

Untuk mencegahnya, Mama disarankan untuk menyiapkan celemek makan yang lembut agar kulit wajah dan dada tetap kering. Salep ringan yang dijual bebas juga bisa dioleskan sebelum dan sesudah makan sebagai lapisan pelindung.

5. Ruam popok

Pexels/https://kaboompics.com/

Terakhir, ada ruam popok, tamu langganan di bokong bayi. Melansir Mayo Clinic, ruam ini muncul di area yang tertutup popok dan bagian paha yang bersentuhan dengan popok, biasanya berwarna merah atau keunguan serta bisa terasa perih atau gatal.

Penyebab utamanya adalah kulit yang terlalu lama bersentuhan dengan urine atau tinja. Risikonya makin tinggi bila popok kurang pas hingga bergesekan dengan kulit, bila memakai tisu basah atau losion yang membuat kulit kering, atau bila bayi sering buang air besar encer.

Menurut NHS, ganti popok yang basah atau kotor sesegera mungkin, jaga kulit tetap bersih dan kering, serta biarkan bokong si Kecil bebas popok saat memungkinkan. Jangan menggunakan sabun, losion bayi, bedak talek, hingga krim antiseptik pada ruam popok.

Gunakan krim atau salep ruam popok yang dioleskan tebal setiap ganti popok, dan Mama cukup mengangkat lapisan yang kotor agar kulit tidak makin teriritasi. Jika ruam tak membaik atau malah memburuk, bicarakan dengan dokter anak.

Itulah pembahasan mengenai 5 jenis alergi kulit bayi yang harus Mama ketahui. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article