Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Bayi dengan Alergi Tidak Boleh Diimunisasi, Mitos atau Fakta?

Bayi dengan Alergi Tidak Boleh Diimunisasi, Mitos atau Fakta?
Freepik
  • Bayi dengan alergi ringan tetap bisa dan perlu diimunisasi; orangtua perlu menyampaikan riwayat alergi kepada dokter agar kondisi anak dievaluasi.
  • Alergi berat terhadap komponen vaksin, seperti protein telur pada vaksin influenza, memerlukan penyesuaian jenis atau cara pemberian oleh dokter, bukan penghentian imunisasi sepihak.
  • Demam ringan pascaimunisasi merupakan respons pembentukan kekebalan, sementara pemberian beberapa vaksin sesuai jadwal tidak membebani sistem imun anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kekhawatiran mengenai imunisasi masih menjadi salah satu hal yang sering dialami orangtua, terutama ketika si Kecil memiliki riwayat alergi.

Tak sedikit yang mengira bahwa bayi dengan alergi tidak boleh menerima vaksin karena khawatir mengalami reaksi tertentu setelah imunisasi.

Padahal, tidak semua jenis alergi menjadi alasan untuk menunda atau tidak memberikan imunisasi pada bayi.

Selain itu, demam setelah vaksin maupun pemberian beberapa jenis imunisasi dalam waktu yang sama juga kerap memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan orangtua.

Lantas, benarkah bayi dengan alergi tidak boleh diimunisasi? Berikut Popmama.com rangkum penjelasannya berdasarkan buku Mommyclopedia: 600 Mitos & Fakta tentang Bayi, Anak, dan Remaja (2026) karya Dr. dr. Meta Hanindita, Sp.A. Subsp. N.P.M.(K).

  1. 1. Bayi dengan alergi tetap bisa dan perlu mendapatkan imunisasi

    Bayi dengan alergi tetap bisa dan perlu mendapatkan imunisasi
    Unsplash/unsplash

    Memiliki alergi bukan berarti bayi tidak boleh menjalani imunisasi. Alergi ringan pada bayi pada umumnya tidak menjadi kontraindikasi untuk pemberian vaksin.

    Karena itu, orangtua tidak perlu langsung menganggap bahwa riwayat alergi membuat si Kecil harus melewatkan jadwal imunisasinya.

    “Bayi dengan alergi tetap bisa dan perlu diimunisasi. Alergi ringan bukanlah kontraindikasi untuk imunisasi,” jelas Dr. dr. Meta Hanindita, Sp.A. Subsp. N.P.M.(K) dalam bukunya berjudul Mommyclopedia: 600 Mitos & Fakta tentang Bayi, anak, dan Remaja (2026).  

    Meski demikian, orangtua tetap perlu menyampaikan riwayat alergi si Kecil kepada dokter sebelum imunisasi dilakukan. Dengan begitu, kondisi bayi dapat dievaluasi terlebih dahulu dan pemberian vaksin bisa disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi kesehatannya.

  2. 2. Alergi berat terhadap komponen tertentu perlu mendapatkan penanganan khusus

    Alergi berat terhadap komponen tertentu perlu mendapatkan penanganan khusus
    Unsplash/Sam Moghadam Khamseh

    Kondisi yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah ketika bayi memiliki riwayat alergi berat terhadap komponen tertentu dalam vaksin. Dalam situasi seperti ini, dokter akan mempertimbangkan jenis vaksin maupun metode pemberian yang paling sesuai untuk mengurangi risiko terjadinya reaksi alergi.

    Salah satu contohnya adalah alergi terhadap protein telur yang berkaitan dengan pemberian vaksin influenza. Kondisi tersebut tidak selalu berarti bayi sama sekali tidak dapat memperoleh vaksin, tetapi penanganannya perlu disesuaikan berdasarkan kondisi masing-masing anak.

    “Namun, pada kasus alergi berat terhadap komponen tertentu dalam vaksin, misalnya terhadap protein telur pada vaksin influenza, dokter akan menyesuaikan jenis atau cara pemberiannya,” ungkap Dr. dr. Meta Hanindita, Sp.A. Subsp. N.P.M.(K).

    Oleh karena itu, penting bagi Mama dan Papa untuk tidak mengambil keputusan sendiri untuk menghentikan atau menunda imunisasi. Berkonsultasi dengan dokter dapat membantu orangtua mendapatkan rekomendasi yang tepat sesuai dengan riwayat alergi si Kecil.

  3. 3. Demam ringan setelah imunisasi bukan berarti vaksin berbahaya

    Demam ringan setelah imunisasi bukan berarti vaksin berbahaya
    Freepik/Freepik

    Demam ringan setelah imunisasi juga sering membuat orangtua merasa khawatir. Padahal, reaksi tersebut dapat terjadi karena tubuh sedang memberikan respons terhadap vaksin dan mulai membentuk kekebalan untuk melindungi anak dari penyakit tertentu.

    Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh agar mampu mengenali dan merespons penyakit. Proses pembentukan kekebalan ini terkadang dapat memicu reaksi ringan, termasuk demam, sehingga tidak serta-merta menandakan bahwa vaksin yang diberikan berbahaya.

    “Demam ringan setelah imunisasi menandakan bahwa kekebalan tubuh sedang dibentuk. Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh anak yang terkadang memang memicu reaksi ringan, bukan karena vaksin yang diberikan berbahaya,” kata Dr. dr. Meta Hanindita, Sp.A. Subsp. N.P.M.(K).  

  4. 4. Pemberian beberapa imunisasi sekaligus tidak akan membebani sistem kekebalan tubuh anak

    Pemberian beberapa imunisasi sekaligus tidak akan membebani sistem kekebalan tubuh anak
    Unsplash/CDC

    Mitos lain yang cukup sering dipercaya adalah pemberian beberapa jenis imunisasi dalam waktu sama dapat membuat sistem kekebalan tubuh anak bekerja terlalu berat.

    Padahal, setiap hari sistem imun anak sudah secara alami berhadapan dengan berbagai antigen dari lingkungan di sekitarnya.

    Jumlah antigen dalam vaksin pun jauh lebih sedikit dibandingkan paparan antigen yang dapat dihadapi anak dalam kehidupan sehari-hari.

    Karena itu, pemberian beberapa imunisasi sesuai jadwal tidak berarti sistem kekebalan tubuh anak akan kewalahan.

    “Sistem kekebalan tubuh anak mampu merespons banyak antigen setiap hari. Vaksin bahkan hanya mengandung jumlah antigen yang jauh lebih sedikit dibandingkan yang dihadapi anak secara alami setiap harinya,” jelas Dr. dr. Meta Hanindita, Sp.A. Subsp. N.P.M.(K).

    Nah, itu dia ulasan mengenai alergi bayi dan imunisasi. Semoga informasinya dapat menjadi ilmu baru, ya, Ma.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More