Beberapa hari terakhir, si Kecil tiba-tiba lebih rewel, minta menyusu terus, dan tidurnya berantakan padahal biasanya tenang. Mama pun bertanya-tanya, apakah ia sedang tumbuh pesat atau justru sedang melewati lompatan perkembangan?
Apa Perbedaan antara Fase Growth Spurt dan Wonder Week pada Bayi?

Growth spurt adalah lonjakan pertumbuhan fisik, ditandai bayi lebih lapar, sering menyusu, tidur terganggu, dan rewel; biasanya berlangsung sekitar tiga hari pada bayi.
Wonder Week merujuk pada fase rewel sebelum lompatan perkembangan mental, dengan tanda menangis, uring-uringan, dan lengket; setelahnya bayi dapat menunjukkan kemampuan baru.
Growth spurt umumnya muncul pada usia tertentu hingga 12 bulan, sedangkan Wonder Week diperkirakan sepuluh kali dalam 20 bulan pertama; gejala berat atau sakit perlu diperiksakan.
Banyak orangtua baru kerap bingung membedakan dua istilah yang sering muncul dalam situasi ini, yaitu growth spurt dan Wonder Week. Gejalanya memang terlihat mirip, tetapi penyebab di baliknya ternyata tidak sama.
Supaya Mama tidak salah menebak lagi dan bisa menanganinya dengan tepat, berikut Popmama.com mengulas apa perbedaan antara fase growth spurt dan wonder week? Yuk, simak sampai habis!
Definisi

Pexels/Sarah Chai Dilansir dari Cleveland Clinic, growth spurt adalah periode singkat ketika tinggi dan berat badan anak bertambah dengan cepat, dan ini merupakan bagian normal dari tumbuh kembang yang tidak perlu dikhawatirkan.
Selama setahun pertama, bayi bisa bertambah panjang sekitar 25 sentimeter dan berat badannya meningkat tiga kali lipat dari berat lahir. Semua itu terjadi lewat beberapa kali lonjakan pertumbuhan, menurut sumber yang sama.
Nah, Wonder Week punya cerita yang berbeda. Mengutip Bub Hub, istilah ini merujuk pada fase rewel yang muncul tepat sebelum bayi melakukan lompatan besar dalam perkembangan mentalnya, yakni cara otaknya memandang dunia.
Dr. Frans Plooij, salah satu penulis buku The Wonder Weeks, menggambarkannya sebagai langkah mundur kecil yang diikuti oleh lompatan besar ke depan. Jadi, growth spurt berkaitan dengan tubuh yang membesar, sedangkan Wonder Week berkaitan dengan otak yang berkembang.
DurasiÂ

Pexels/Polina Tankilevitch Setelah tahu bedanya, pertanyaan berikutnya pasti soal seberapa lama Mama harus bersabar menghadapi si Kecil yang rewel. Kabar baiknya, kedua fase ini tidak berlangsung selamanya.
Dilansir dari Happiest Baby, growth spurt pada bayi biasanya hanya berlangsung sekitar 3 hari. Pada balita, lonjakan ini bisa bertahan hingga 1 minggu penuh.
Sementara itu, Tua Saude menyebut Wonder Week umumnya berlangsung beberapa hari hingga 2 minggu. Lamanya bisa berbeda karena setiap bayi punya temperamen, pola tidur, dan kondisi rumah yang tidak sama.
Jika rewelnya berlangsung sangat lama, makin hebat, atau terasa janggal, Mama disarankan untuk meminta pertolongan medis. Sebab, bisa jadi ada penyebab lain yang perlu diperiksa oleh dokter.
Dampak pada Bayi

Pexels/Sean Dalton Lalu, apa dampaknya bagi si Kecil? Mengutip The Bump, saat growth spurt, bayi cenderung lebih lapar, tidurnya terganggu, dan lebih rewel karena tubuhnya bekerja ekstra untuk tumbuh.
Rewel ini bukan tanda bayi kesakitan, melainkan bagian alami dari proses tumbuh kembang yang sehat. Begitu fase selesai, ukuran tubuhnya bertambah dan baju lama mendadak terasa sempit.
Dampak Wonder Week berbeda lagi. Menurut Bub Hub, masa sulit ini akan diikuti oleh munculnya keterampilan baru yang membuat bayi mampu melihat dunia dengan cara yang benar-benar berbeda.
Setelah itu, si Kecil memasuki sunny weeks atau minggu cerah, saat ia kembali ceria dan sibuk mencoba kemampuan barunya. Jadi, badai rewel tadi ternyata membawa kejutan manis untuk Mama.
Tanda-Tanda yang Perlu Dikenali

Pexels/Jean Marc Bonnel Karena dampaknya sama-sama merepotkan, wajar kalau Mama sulit membedakan keduanya. Petunjuknya bisa dilihat dari tanda-tanda yang muncul pada si Kecil.
Almoosa Health Group menyebut tanda growth spurt antara lain nafsu makan yang meningkat mendadak, tidur terganggu, mudah rewel, dan sering menyusu berulang kali (cluster feeding). Bayi juga bisa ingin terus menempel pada ibunya.
Adapun tanda Wonder Week, menurut Tua Saude, dikenal dengan istilah 3C, yaitu crying (menangis), crankiness (uring-uringan), dan clinginess (lengket). Bayi juga bisa lebih sulit ditenangkan dan ingin digendong terus.
Namun, tanda-tanda ini juga bisa muncul seperti lapar, lelah, tumbuh gigi, atau sakit. Bila bayi demam, muntah, atau sulit menyusu, segera hubungi dokter anak.
Usia Terjadinya

Pexels/Luis Becerra Fotógrafo Terakhir, kapan kedua fase ini biasanya datang? Dilansir dari The Bump, growth spurt umumnya muncul pada usia 2 hingga 3 minggu, 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan.
Meski begitu, pola ini hanya perkiraan karena setiap bayi punya ritme tumbuhnya sendiri. Jadi, Mama tidak perlu cemas kalau si Kecil mengalaminya lebih cepat atau lebih lambat dari jadwal tersebut.
Wonder Week punya jadwal yang lebih rinci. Menurut Bub Hub, lompatan terjadi sepuluh kali dalam 20 bulan pertama, yakni pada minggu ke-5, 8, 12, 19, 26, 37, 46, 55, 64, dan 75.
Bagi bayi prematur atau yang lahir melewati hari perkiraan lahir, hitung usianya dari tanggal seharusnya ia lahir, bukan dari hari lahir sebenarnya. Dengan begitu, Mama tidak keliru memperkirakan kapan fase ini datang.
Jadi, perbedaan growth spurt dan Wonder Week terletak pada penyebabnya. Yang satu berkaitan dengan tubuh yang bertambah besar, sedangkan yang lain berkaitan dengan otak yang melompat maju.Â
Meski gejalanya mirip, memahami keduanya akan membuat Mama lebih tenang saat si Kecil mendadak rewel di tengah malam.
Perlu diingat pula, jadwal Wonder Week hanyalah panduan umum karena penelitian belum membuktikan bahwa semua bayi mengalaminya persis pada usia tersebut.Â
Jika rewelnya berlebihan atau disertai gejala sakit, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak, ya, Ma. Semoga Mama dan si Kecil melewati fase ini dengan lancar!
Nah, itulah pembahasan mengenai apa perbedaan antara fase growth spurt dan wonder week? Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!





















