Dikutip dari website resmi RS Darmo, batuk setelah terpapar abu atau kabut asap tidak selalu berarti seseorang mengalami infeksi.
Partikel dan zat iritan dari abu atau kabut asap sendiri dapat menyebabkan peradangan dan iritasi pada saluran pernapasan sehingga memicu batuk, bahkan tanpa adanya infeksi. Karena itu, penyebab batuk perlu dilihat bersama gejala lainnya dan kondisi pasien. Misalnya batuk terjadi ketika si Kecil terpapar asap kebakaran hutan dan lahan.
Batuk setelah terpapar abu atau kabut asap jangan selalu dianggap sebagai batuk biasa. Paparan asap mengandung berbagai polutan, termasuk partikel halus, silika kristalin dan mineral maupun senyawa vulkanik lainnya yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan menyebabkan iritasi serta peradangan. Kondisi ini dapat memicu batuk karena abu atau asap, tenggorokan terasa gatal atau kering, mengi, hingga sesak napas.
Pada sebagian orang, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru atau jantung, paparan abu atau kabut asap dapat menimbulkan gejala yang lebih berat. Karena itu, penting untuk mengenali gejala ISPA dan mengetahui kapan keluhan akibat ISPA akibat asap perlu diperiksakan ke dokter, Ma.
Abu atau kabut asap dapat mengandung partikel dan berbagai polutan yang mengganggu sistem pernapasan. Partikel berukuran sangat kecil, seperti PM10 dan PM2.5, silika kristalin dan mineral maupun senyawa vulkanik lainnya dapat masuk hingga ke bagian dalam paru dan berkaitan dengan berbagai gangguan pernapasan.
Paparan abu atau kabut asap dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi seperti asma atau penyakit paru yang sudah ada sebelumnya. Gejalanya dapat berupa batuk, tenggorokan teriritasi, mengi, dan kesulitan bernapas.