Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Mata Bayi Agak Kuning, Apakah Berbahaya? Ini Penjelasannya!

4 min read
Mata Bayi Agak Kuning, Apakah Berbahaya? Ini Penjelasannya!
Pexels.com/Daka
  • Mata dan kulit bayi yang menguning umumnya menandakan ikterus akibat penumpukan bilirubin, karena fungsi hati bayi baru lahir belum matang untuk memprosesnya secara optimal.

  • Ikterus biasanya paling terlihat sekitar hari ketiga dan membaik dalam dua minggu, tetapi pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab serta kadar bilirubin bayi.

  • Segera periksakan bayi bila kuning muncul dalam 24 jam, makin pekat, sulit dibangunkan atau menyusu, disertai demam, urine gelap, atau feses pucat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat si Kecil membuka matanya untuk pertama kali, momen tersebut tentu menjadi pengalaman yang mengharukan bagi Mama dan Papa sebagai orangtua.

Namun, di tengah kebahagiaan tersebut, Mama mungkin menyadari perubahan pada tubuh si Kecil yang menimbulkan kekhawatiran. Salah satunya adalah bagian putih mata bayi yang terlihat agak kuning.

Kondisi ini bisa membuat orangtua bertanya-tanya apakah perubahan tersebut atau menandakan masalah kesehatan tertentu.

Lantas, apakah mata bayi yang agak kuning berbahaya? Untuk mengetahui jawabannya, simak penjelasan Popmama.com yang merangkum informasi dari National Health Service (NHS).

  1. 1. Kenapa mata bayi agak kuning?

    Kenapa mata bayi agak kuning?
    Pexels/Antoni Shkraba

    Mata bayi yang terlihat kuning dapat menjadi tanda ikterus atau jaundice, kondisi yang umum terjadi pada bayi baru lahir. Kondisi ini ditandai dengan kulit dan bagian putih mata yang menguning akibat penumpukan bilirubin dalam darah.

    Bilirubin merupakan zat sisa dari pemecahan sel darah merah yang normalnya diproses oleh hati. Namun, hati bayi baru lahir belum berkembang sempurna sehingga bilirubin dapat menumpuk.

    Sebagian besar kasus ikterus dapat membaik seiring perkembangan fungsi hati. Meski begitu, kadar bilirubin yang terlalu tinggi tetap perlu diwaspadai karena berisiko menimbulkan komplikasi.

  2. 2. Penyebab mata kuning pada bayi

    Penyebab mata kuning pada bayi
    Pexels/Gizem Gökce

    Selain bilirubin, beberapa kondisi lain juga dapat menyebabkan ikterus pada bayi, di antaranya:

    • Fungsi hati yang belum matang: Hati bayi baru lahir masih berkembang sehingga proses pengeluaran bilirubin belum optimal.

    • Perbedaan golongan darah ibu dan bayi: Kondisi ini dapat menyebabkan sel darah merah bayi lebih cepat rusak.

    • Infeksi: Beberapa infeksi, termasuk rubella, dapat berkaitan dengan munculnya ikterus.

    • Gangguan fungsi hati: Masalah pada hati dapat menghambat pemrosesan bilirubin.

    • Sindrom Gilbert: Kondisi genetik yang umumnya tidak berbahaya dan dapat menyebabkan peningkatan bilirubin.

    Sebagian besar kasus ikterus pada bayi baru lahir tidak berkaitan dengan penyakit serius. Namun, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan penyebab dan tingkat keparahannya.

  3. 3. Apa saja gejala mata kuning pada bayi?

    popmama image (1).jpg
    Magnific/pvproductions

    Gejala utama ikterus adalah perubahan warna kulit dan bagian putih mata menjadi kekuningan. Mama juga dapat memperhatikan beberapa tanda berikut:

    • Bagian putih mata menguning: Warna kuning terlihat pada bagian putih mata si Kecil.

    • Kulit tampak kekuningan: Biasanya dimulai dari wajah dan kepala, lalu dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.

    • Bagian dalam mulut menguning: Warna kuning dapat terlihat di bagian dalam pipi atau di bawah lidah.

    • Bayi lebih mengantuk: Pada kondisi tertentu, bayi bisa terlihat lebih mengantuk atau sulit dibangunkan.

    • Bayi sulit menyusu: Si Kecil mungkin kurang tertarik menyusu atau tidak mendapatkan asupan yang cukup.

    Warna kuning akibat ikterus biasanya paling terlihat ketika bayi berusia sekitar tiga hari dan umumnya membaik dalam waktu dua minggu.

    Namun, jika warna kuning muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir, semakin pekat, atau disertai bayi sulit dibangunkan dan tidak mau menyusu, segera bawa si Kecil untuk mendapatkan pemeriksaan medis.

  4. 4. Bagaimana cara mengatasi mata bayi yang kuning?

    Bagaimana cara mengatasi mata bayi yang kuning?
    Magnific/jcomp

    Penanganan mata kuning bergantung pada kadar bilirubin, usia bayi, serta penyebabnya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:

    • Memberikan ASI secara teratur: Usahakan bayi menyusu sekitar 8–12 kali sehari sesuai kebutuhannya. Asupan yang cukup membantu mendukung pengeluaran bilirubin melalui urine dan feses.

    • Memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi: Jika bayi sulit menyusu atau terlalu mengantuk, konsultasikan dengan dokter atau bidan agar asupannya tetap tercukupi.

    • Melakukan fototerapi: Jika kadar bilirubin terlalu tinggi, dokter dapat merekomendasikan terapi menggunakan cahaya khusus untuk membantu tubuh bayi memecah bilirubin.

    • Mendapatkan penanganan medis lanjutan: Pada kasus yang jarang terjadi, bayi mungkin memerlukan transfusi tukar darah atau pengobatan lain sesuai penyebab dan kondisi klinisnya.

    Mama tidak disarankan menjemur bayi di bawah sinar matahari sebagai pengganti fototerapi. Jika mata atau kulit si Kecil tampak kuning, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan penanganan yang tepat.

  5. 5. Kapan mata bayi kuning perlu diwaspadai?

    Kapan mata bayi kuning perlu diwaspadai?
    Magnific.com/magnific

    Meski sering terjadi pada bayi baru lahir, ikterus tetap perlu diperhatikan. Segera bawa si Kecil untuk mendapatkan pemeriksaan medis jika:

    • Warna kuning muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir.

    • Warna kuning semakin pekat atau menyebar.

    • Bayi sulit dibangunkan, sangat lemas, atau tidak mau menyusu.

    • Bayi mengalami demam atau tampak sakit.

    • Urine berwarna gelap atau feses berwarna pucat seperti kapur.

    Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kadar bilirubin dan memastikan apakah si Kecil membutuhkan perawatan lebih lanjut.

    Itu dia penjelasan terkait mata kuning pada bayi. Sebenarnya tidak berbahaya apabila tidak terjadi dalam waktu yang lama, tapi Mama bisa konsultasikan dengan dokter mengenai keadaan si Kecil ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More