Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Penyebab Bayi Muntah Menyemprot atau Menyembur
Magnific/cookie_studio
  • Muntah menyemprot pada bayi berbeda dari gumoh dan menjadi tanda bahaya, terutama pada usia di bawah 2 bulan bisa jadi stenosis pilorus dapat memicu muntah berulang setelah menyusu, dehidrasi, serta sulit naik berat badan.

  • Refluks, pemberian susu terlalu cepat atau berlebihan, dan gastroenteritis dapat menyebabkan muntah. Pada infeksi pencernaan, gejala bisa meliputi diare, demam, lemas, serta risiko dehidrasi bila cairan tidak bertahan.

  • Muntah hijau atau kuning kehijauan dapat menandakan sumbatan usus dan perlu penilaian segera. FPIES, sepsis, gangguan metabolisme, atau kondisi neurologis juga dapat memicu muntah berulang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Muntah menyemprot pada bayi dapat berkaitan dengan stenosis pilorus, refluks, pemberian susu berlebihan, gastroenteritis, FPIES, sumbatan usus, atau infeksi dan kondisi medis lain.
  • Who?
    Bayi, terutama berusia kurang dari 2 bulan dengan muntah yang makin sering atau kuat, serta bayi yang mengalami muntah hijau, lemas, sulit minum, atau jarang buang air kecil.
  • Where?
    Kondisi dapat terjadi pada saluran pencernaan, termasuk lambung, pilorus, kerongkongan, dan usus; beberapa penyebab juga dapat berasal dari infeksi atau gangguan medis di luar pencernaan.
  • When?
    Stenosis pilorus umumnya muncul pada usia sekitar 2–12 minggu. FPIES akut dapat memicu muntah sekitar 1–4 jam setelah mengonsumsi makanan pemicu.
  • Why?
    Muntah dapat terjadi karena makanan sulit melewati pilorus, isi lambung naik, asupan susu berlebih, infeksi, alergi makanan, sumbatan usus, atau kondisi medis lainnya.
  • How?
    Bayi perlu mendapat penilaian medis segera bila muntah berulang atau menyemprot, terutama jika muntah hijau, tidak dapat mempertahankan cairan, sangat lemas, demam, perut membuncit, atau muntah berdarah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bayi bisa muntah menyembur karena beberapa hal. Bisa karena susu terlalu banyak, perutnya belum kuat, atau ada kuman. Bisa juga ada bagian jalan makanan yang sempit atau ususnya bermasalah. Kalau muntah sering, hijau, bayi lemas, susah minum, atau jarang pipis, bayi perlu cepat dibawa ke dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melihat bayi muntah tentu bisa membuat orangtua khawatir, terlebih jika muntahan keluar dengan kuat atau tampak menyemprot cukup jauh. Kondisi ini berbeda dengan gumoh biasa yang umumnya keluar perlahan dan tanpa tenaga.

Muntah menyemprot atau projectile vomiting pada bayi dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Beberapa di antaranya relatif ringan, tetapi ada pula yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis segera.

Menurut pedoman lembaga kesehatan nasional Inggris atau National Institute for Health and Care Excellence (NICE), muntah yang sering dan menyemprot merupakan salah satu tanda bahaya pada bayi, terutama pada usia di bawah 2 bulan, karena dapat mengarah pada kondisi bernama stenosis pilorus hipertrofik.

Lantas, apa saja penyebab bayi muntah menyemprot atau menyembur? Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!

1. Stenosis pilorus hipertrofik

Magnific/cookie_studio

Stenosis pilorus hipertrofik atau infantile hypertrophic pyloric stenosis merupakan salah satu penyebab penting muntah menyemprot pada bayi.

Kondisi ini terjadi ketika otot pilorus, yaitu bagian saluran yang menghubungkan lambung dengan usus halus, mengalami penebalan. Akibatnya, makanan atau susu sulit melewati lambung menuju usus.

Bayi dengan kondisi ini biasanya lahir dalam keadaan sehat, kemudian mulai mengalami muntah menyemprot pada beberapa minggu pertama kehidupan. Muntah umumnya tidak berwarna hijau karena tidak mengandung empedu.

Dikutip dari panduan Merck Manual menyebutkan bahwa stenosis pilorus umumnya menyebabkan muntah menyemprot berulang segera setelah menyusu dan paling sering ditemukan pada bayi usia sekitar 2–12 minggu. Bayi juga dapat tetap tampak lapar setelah muntah.

Jika terus berlangsung, bayi dapat mengalami dehidrasi dan berat badan sulit bertambah. Diagnosis biasanya dilakukan dengan pemeriksaan fisik dan USG.

NICE merekomendasikan pemeriksaan rumah sakit pada hari yang sama untuk bayi berusia kurang dari 2 bulan yang mengalami muntah semakin sering atau semakin kuat untuk menilai kemungkinan stenosis pilorus.

2. Refluks gastroesofagus

Freepik/wirestock

Refluks gastroesofagus atau gastroesophageal reflux juga sangat umum terjadi pada bayi. Kondisi ini terjadi ketika isi lambung kembali naik ke kerongkongan dan terkadang keluar melalui mulut.

Pada sebagian besar bayi, refluks merupakan kondisi fisiologis yang berkaitan dengan sistem pencernaan yang masih berkembang. Refluks pada bayi biasanya tampak sebagai gumoh yang keluar dengan mudah dan tidak terlalu kuat.

Karena itu, penting membedakan gumoh akibat refluks dengan muntah menyemprot. Gumoh biasanya keluar tanpa tenaga, sedangkan muntah menyemprot terjadi dengan dorongan yang lebih kuat.

NICE bahkan memasukkan muntah yang sering dan menyemprot sebagai tanda bahaya yang dapat menunjukkan kondisi lain selain refluks.

Refluks dapat lebih mudah terjadi jika bayi menyusu terlalu banyak, menelan banyak udara saat menyusu, atau memiliki alergi terhadap protein susu sapi.

3. Terlalu banyak menyusu terlalu cepat

Popmama.com/SysiliaTanhati/AI

Pola pemberian susu juga dapat berpengaruh terhadap muntah atau gumoh pada bayi. Merck Manual menjelaskan bahwa bayi dapat mengeluarkan kembali sebagian susu ketika menyusu terlalu cepat, menelan banyak udara, atau mendapatkan susu dalam jumlah berlebihan.

Kondisi ini umumnya lebih dekat dengan gumoh dibandingkan muntah menyemprot yang disebabkan penyakit.

Bayi yang mengalami gumoh karena faktor pemberian makan biasanya tetap tampak sehat, aktif, dan mengalami pertumbuhan sesuai usianya.

Namun, jika muntah keluar dengan sangat kuat dan terjadi berulang, sebaiknya jangan langsung menganggap penyebabnya hanya karena terlalu banyak menyusu.

4. Gastroenteritis atau infeksi saluran pencernaan

Unsplash/Lucy Wolski

Infeksi saluran pencernaan, terutama gastroenteritis akibat virus, merupakan salah satu penyebab muntah pada bayi.

Muntah akibat gastroenteritis biasanya dapat disertai gejala lain, seperti diare, demam, rewel, sakit perut, atau bayi tampak lebih lemas. Merck Manual menyebut gastroenteritis akut sebagai salah satu penyebab muntah yang paling umum pada bayi.

Pada kondisi ini, perhatian utama adalah mencegah dehidrasi. Bayi yang muntah berkali-kali dan tidak dapat mempertahankan cairan berisiko mengalami kekurangan cairan.

Orangtua perlu segera mencari pertolongan medis jika bayi sulit minum, tidak dapat mempertahankan cairan, jarang buang air kecil, tampak sangat lemas, atau muntah terus-menerus.

5. Food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES)

Pexels/Antoni Shkraba Studio

Penyebab lain yang lebih jarang tetapi perlu diketahui adalah food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES). FPIES merupakan jenis alergi makanan yang tidak diperantarai IgE dan terutama terjadi pada bayi serta anak kecil.

Salah satu ciri khasnya adalah muntah berulang yang muncul beberapa waktu setelah mengonsumsi makanan tertentu. Untuk bayi kemungkinan terjadi di usia MPASI.

Pada FPIES akut, muntah biasanya muncul sekitar 1–4 jam setelah mengonsumsi makanan pemicu. Bayi dapat terlihat pucat dan lemas, serta pada kondisi berat dapat mengalami dehidrasi, tekanan darah rendah, hingga syok.

Makanan yang dapat menjadi pemicu antara lain susu sapi, kedelai, beras, dan oat. Namun, jenis makanan pemicu dapat berbeda pada setiap anak.

Jika muntah berulang terjadi setiap kali bayi mengonsumsi makanan tertentu, terutama dengan pola waktu yang serupa, sebaiknya konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

6. Sumbatan pada usus atau malrotasi

Pexels/sarahchai

Muntah pada bayi juga dapat disebabkan oleh sumbatan saluran pencernaan. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah malrotasi usus, yaitu kelainan posisi usus sejak perkembangan di dalam kandungan.

Malrotasi dapat menyebabkan usus terpuntir dan menimbulkan kondisi yang disebut midgut volvulus. Kondisi ini dapat menghambat aliran isi usus sekaligus mengganggu aliran darah ke usus.

Tanda yang sangat penting adalah muntah berwarna hijau atau kuning kehijauan karena mengandung empedu (bilious vomiting).

NICE menyebut muntah berwarna hijau atau kuning kehijauan pada bayi sebagai tanda bahaya yang dapat mengindikasikan sumbatan usus dan membutuhkan penilaian segera.

Beberapa literatur lain juga menekankan bahwa midgut volvulus merupakan kondisi darurat bedah karena puntiran usus dapat menyebabkan jaringan usus kekurangan aliran darah dan mengalami kerusakan.

7. Infeksi atau kondisi medis lainnya

Unsplash/ Tim Bish

Tidak semua muntah pada bayi berasal dari sistem pencernaan. Infeksi serius seperti sepsis juga dapat menyebabkan muntah. Selain itu, beberapa gangguan metabolisme, kelainan pengosongan lambung, serta kondisi neurologis tertentu dapat menyebabkan muntah berulang pada bayi.

Dalam panduannya, Merck Manual menyebut bahwa muntah berulang yang disertai tanda seperti demam, berat badan sulit bertambah, perut membuncit, muntah berdarah atau berwarna empedu, maupun gejala neurologis perlu dievaluasi lebih lanjut karena dapat menunjukkan penyakit selain refluks biasa.

Itulah tadi informasi mengenai penyebab bayi muntah menyemprot atau menyembur yang tidak boleh diabaikan. Semoga membantu! Jika keadaan bayi semakin menurun sebaiknya segera bawa ke dokter.

Curated For You

Editorial Team

Related Article