Otot Lemah, Waspada Bayi Menderita Hipotonia yang Memengaruhi Motorik

Hipotonia dapat menyebabkan masalah keterampilan motorik dan kesulitan makan

24 Februari 2021

Otot Lemah, Waspada Bayi Menderita Hipotonia Memengaruhi Motorik
Freepik/Jul14ka

Dalam menjalankan fungsinya, tubuh memerlukan otot untuk bisa bergerak. Tanpa otot, kita akan kesulitan melakukan mobilitas, menjaga stabilitas tubuh, menunjang sirkulasi darah, dan banyak hal lainnya. 

Namun sayangnya, sebagian bayi dilahirkan dengan kondisi tonus otot yang buruk. Kondisi ini biasanya terdeteksi saat lahir atau selama masa bayi, yang disebut dengan hipotonia. Hipotonia juga kerap kali disebut sindrom otot floppy

Hipotonia dapat menyebabkan masalah keterampilan motorik dan kesulitan makan yang memengaruhi tumbuh-kembang bayi. Berikut Popmama.com merangkum serba-serbi hipotonia yang perlu diketahui sejak dini, dilansir dari Healthline:

Gejala Hipotonia pada Bayi

Gejala Hipotonia Bayi
Pixabay/Pezibear

Tergantung pada penyebab yang mendasarinya, hipotonia dapat muncul pada usia berapapun. Tetapi pada bayi dan anak-anak, gejala hipotonia meliputi:

  • Kontrol kepala yang buruk,
  • terlambat mengembangkan keterampilan motorik kasar, seperti merangkak,
  • terlambat mengembangkan keterampilan motorik halus, seperti memegang krayon.

Sedangkan tanda-tanda hipotonia pada usia berapapun meliputi refleks yang buruk, gangguan postur, hiperfleksibilitas, penurunan kekuatan, penurunan tonus otot, dan gangguan postur. 

Editors' Picks

Penyebab Hipotonia pada Bayi

Penyebab Hipotonia Bayi
Freepik/Liudmila.fadzeyeva

Masalah dengan sistem saraf atau sistem otot dapat memicu hipotonia. Terkadang masalah ini merupakan akibat dari cedera, penyakit, atau kelainan bawaan. Namun pada beberapa kasus, penyebabnya tidak teridentifikasi dengan jelas. 

Hipotonia disebabkan oleh kondisi yang memeranguhi otak, sistem saraf pusat, atau otot. Kondisi tersebut meliputi:

  • Cerebral palsy
  • Kerusakan otak yang bisa disebabkan oleh kekurangan oksigen saat lahir
  • Distrofi otot
  • Kondisi genetik, seperti sindrom Down, trisomi 13, penyakit Tay Sachs, sindrom Prader-Willi

Dalam banyak kasus, kondisi kronis ini membutuhkan perawatan dan pengobatan seumur hidup.

Hipotonia Kongenital Jinak Sebabkan Keterlambatan Perkembangan

Hipotonia Kongenital Jinak Sebabkan Keterlambatan Perkembangan
Pixabay/angel4leon

Sebagian bayi dilahirkan dengan hipotonia yang terkait dengan kondisi lainnya. Kondisi ini disebut dengan hipotonia kongenital jinak. Mereka yang mengalami hipotonia kongenital jinak mengalami keterlambatan perkembangan ringan atau ketidakmampuan belajar. Disabilitas ini dapat berlanjut hingga masa kanak-kanak. 

Kapankah Anak Perlu Dibawa ke Dokter?

Kapankah Anak Perlu Dibawa ke Dokter
Pixabay/congerdesign

Hipotonia dapat didiagnosis saat lahir. Tetapi, dalam beberapa kasus, seorang anak tidak menampakkan kelainan hingga mereka tumbuh besar. Salah satu indikator yang bisa tampak jelas terlihat adalah anak tidak mencapai tahap perkembangan yang seharusnya.

Konsultasikan kondisi yang dialami anak dengan dokter. Lakukan pemeriksaan rutin agar kondisi kesehatan anak dapat terlacak dengan baik. Pastikan mencatat setiap perubahan dan perkembangan anak. Dokter akan menilai perkembangan anak dan melakukan tes jika diperlukan, termasuk tes darah, MRI, dan CT-scan.

Perawatan Hipotonia

Perawatan Hipotonia
Freepik/Phduet

Perawatan pada kondisi hipotonia tergantung pada bagaimana anak terpengaruh. Kesehatan umum anak dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam terapi merupakan pertimbangan dokter dalam membuat rencana perawatan. 

Perawatan hipotonia bervariasi, tergantung pada kemampuan anak. Dokter akan merancang perawatan sesuai tujuannya, seperti duduk tegak, berjalan, atau pun berlari. Dalam beberapa kasus, anak mungkin memerlukan bantuan dalam koordinasi dan keterampilan motorik halus lainnya. 

Pada anak dengan hipotonia yang tergolong parah, mereka mungkin membutuhkan kursi roda untuk mempermudah mobilisasi. Karena kondisi ini membuat persendian menjadi sangat rentan, maka sering terjadi dislokasi sendi. 

Demikian informasi mengenai hipotonia pada bayi. Mengalami hipotonia bisa menjadi tantangan. Ini merupakan kondisi seumur hidup yang tak hanya melibatkan fisik, melainkan juga mental. Anak mama perlu dipersiapkan untuk mempelajari mekanisme koping dan juga terapi. 

Semoga informasi ini bermanfaat!

Baca Juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.