Nugget merupakan salah satu makanan yang banyak digemari, termasuk oleh anak-anak, sehingga sebagian orangtua mungkin tertarik menjadikannya sebagai salah satu pilihan menu MPASI. Makanan ini umumnya terbuat dari daging ayam atau ikan yang dihaluskan, kemudian dicampur dengan berbagai bahan tambahan agar rasanya lebih gurih dan teksturnya lebih menarik untuk anak.
Bolehkah Bayi Makan Nugget? Ini yang Perlu Diperhatikan Orangtua

- Nugget kemasan tergolong makanan ultra-proses yang tidak disarankan untuk bayi karena mengandung bahan tambahan seperti pengawet, pewarna, dan perasa buatan.
- Penelitian menunjukkan konsumsi makanan ultra-proses berlebihan dapat memengaruhi perkembangan otak anak, terutama pada area yang mengatur emosi, motivasi, dan pembelajaran.
- Nugget homemade lebih aman karena bahan dan kebersihannya bisa dikontrol, namun tetap sebaiknya diberikan sebagai camilan sesekali, bukan menu utama MPASI.
Di pasaran, nugget banyak dijual dalam bentuk frozen food yang praktis karena bisa disimpan di kulkas dan digoreng kapan saja saat dibutuhkan. Karena kemudahan ini, nugget sering menjadi pilihan orangtua sebagai makanan cepat saji untuk anak. Namun, hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan untuk si Kecil, terutama terkait bahan tambahan yang digunakan serta proses pengolahannya.
Lantas, bolehkah bayi makan nugget? Ini penjelasannya yang telah Popmama.com rangkum.
Table of Content
Bolehkah Bayi Makan Nugget?

Bolehkah bayi mengonsumsi nugget sebenarnya tergantung pada jenis nugget yang diberikan. Jika yang dimaksud adalah nugget kemasan yang dijual di pasaran atau frozen food, maka tidak diperbolehkan untuk bayi, terutama pada masa MPASI.
Hal ini karena nugget kemasan termasuk dalam kategori makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF), yaitu makanan yang sudah melalui banyak tahap pengolahan di pabrik dan ditambahkan berbagai bahan tambahan.
Makanan jenis ini biasanya mengandung perasa, pewarna, pemanis, dan pengawet agar rasanya lebih enak, aromanya lebih menarik, serta lebih tahan lama. Karena itu, makanan ultra-proses sering terasa lebih “nagih” dan membuat si Kecil ingin terus mengonsumsinya.
Nugget Kemasan Bisa Mempengaruhi Perkembangan Otak Anak

Konsumsi nugget kemasan yang termasuk makanan ultra-proses, jika terlalu sering dan dijadikan menu harian MPASI si Kecil, dapat berdampak pada perkembangan otak anak. Hal ini merujuk pada sebuah studi ilmiah berjudul “Early-life cumulative intake of ultraprocessed foods and subcortical brain volume at age 6 y: a prospective cohort study” yang dipublikasikan pada 2 Juni 2026.
Penelitian yang dipimpin oleh Jonatan Ottino-González bersama tim dari Children’s Hospital Los Angeles (CHLA) dan University of Southern California (USC) menemukan bahwa tingginya konsumsi makanan ultra-proses berkaitan dengan perubahan pada beberapa area otak subkortikal anak.
Beberapa bagian otak yang disebut dalam penelitian ini antara lain nucleus accumbens (pengatur sistem penghargaan dan motivasi), amigdala kiri (pengatur emosi dan respons rasa takut), serta pallidum (berperan dalam gerakan dan motivasi). Selain itu, terdapat juga putamen kiri yang berkaitan dengan pembentukan kebiasaan dan pembelajaran motorik, serta talamus yang berfungsi sebagai pusat penghubung informasi sensorik ke otak.
Dampak Nugget Kemasan bagi Kesehatan si Kecil

Nugget kemasan termasuk dalam kategori daging olahan yang diproses melalui berbagai tahap seperti pengawetan dan penambahan bahan tertentu.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jenis makanan ini masuk dalam kelompok karsinogen grup 1, yaitu zat yang dapat meningkatkan risiko kanker pada manusia.
Jika dikonsumsi terlalu sering, terutama pada anak, makanan ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti berikut:
Kanker kolorektal (usus besar): Dipicu oleh kandungan nitrit dalam daging olahan.
Kanker lambung: Berkaitan dengan kadar garam tinggi dan senyawa hasil pemanasan tinggi.
Sembelit: Karena rendah serat dan tinggi lemak sehingga mengganggu pencernaan.
Obesitas: Akibat tingginya kalori dan lemak yang berlebih.
Gangguan kardiovaskular: Asupan natrium tinggi dapat memengaruhi tekanan darah dan kesehatan jantung.
Ganti Nugget Kemasan dengan Nugget Homemade di Rumah

Namun, berbeda halnya jika nugget yang diberikan adalah nugget rumahan atau homemade. Nugget jenis ini pada dasarnya boleh diberikan kepada bayi, asalkan dibuat dari bahan-bahan segar dan disesuaikan dengan usia serta kemampuan makan si Kecil.
Mama bisa membuat nugget homemade dari sumber protein seperti ayam, ikan, tahu, atau tempe, lalu menambahkan sayuran seperti wortel, brokoli, atau bayam agar kandungan gizinya lebih beragam. Dibandingkan nugget kemasan, nugget rumahan cenderung lebih aman karena Mama bisa mengontrol sendiri bahan yang digunakan, mulai dari kadar garam, gula, minyak, hingga tanpa tambahan pengawet, pewarna, atau penyedap berlebihan.
Meski begitu, nugget homemade tetap sebaiknya tidak dijadikan menu utama setiap hari. MPASI idealnya tetap mengutamakan makanan utuh (whole food) dengan gizi seimbang, seperti karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan lemak sehat. Nugget rumahan bisa dijadikan variasi menu sesekali agar si Kecil tidak bosan, terutama jika sedang belajar makan finger food.
Resep Nugget Homemade yang Aman untuk MPASI

Bahan-bahan:
3 sdm nasi
20 gram ayam
1 butir telur
3 kuntum kembang kol
Beberapa helai daun bayam
Secukupnya daun bawang
Sejumput lada dan garam
1 siung bawang putih
Cara membuat:
Cuci bersih ayam, lalu rebus bersama kembang kol, bayam, daun bawang, dan bawang putih hingga matang.
Setelah matang, masukkan ayam dan sayuran ke dalam chopper. Tambahkan nasi dan telur, lalu haluskan hingga lembut.
Bumbui dengan sedikit garam dan lada, kemudian koreksi rasa.
Siapkan wadah tahan panas yang sudah diolesi sedikit minyak, lalu tuang adonan ke dalamnya.
Kukus selama sekitar 20 menit dengan api sedang hingga matang.
Setelah dingin, potong sesuai ukuran kecil. nugget bisa langsung disajikan atau dipanaskan kembali dengan cara dipanggang atau digoreng sebentar.
Nah, itu penjelasan terkait bolehkah bayi makan nugget. Semoga informasi ini membantu Mama dalam memilih makanan yang lebih aman dan sehat untuk si Kecil.


















