Zat besi adalah mineral yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Pada bayi, kebutuhan zat besi mulai meningkat sejak usia 4 bulan. Namun, tubuh tidak dapat memproduksi zat besi sendiri sehingga kebutuhan mineral ini harus dipenuhi dari luar.
Waspada! Kekurangan Zat Besi Bisa Pengaruhi Kecerdasan Anak

Zat besi penting untuk pembentukan hemoglobin dan perkembangan otak bayi, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan agar kecerdasan dan fungsi kognitif anak berkembang optimal.
Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia defisiensi yang menurunkan kemampuan belajar, konsentrasi, serta pertumbuhan anak, terutama pada bayi prematur atau yang tidak mendapat MPASI kaya zat besi.
IDAI merekomendasikan suplementasi zat besi sesuai usia.
Kebutuhan zat besi dapat dipenuhi melalui suplemen sesuai anjuran dokter atau dari makanan pendamping ASI (MPASI) yang kaya zat besi setelah bayi berusia 6 bulan. Meski hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil, zat besi berperan dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kekurangan zat besi dapat mengganggu fungsi otak yang berpengaruh pada kecerdasan anak di kemudian hari.
Berikut Popmama.com siapkan penjelasan tentang kekurangan zat besi bisa pengaruhi kecerdasan anak. Yuk, simak, Ma!
Table of Content
Kekurangan Zat Besi Bisa Pengaruhi Kecerdasan Anak

Dokter Spesialis Anak sekaligus Konselor Laktasi, dr. Aisya Fikritama, Sp.A., melalui akun Instagram @dr.aisyafik menjelaskan bahwa zat besi tidak hanya berperan menjaga kesehatan darah, tetapi juga mendukung kecerdasan anak. Zat besi merupakan komponen utama hemoglobin dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke otak.
Zat besi juga dibutuhkan untuk membentuk selubung saraf (mielin), membantu proses penghantaran sinyal antarsel saraf (neurotransmiter), serta mendukung kemampuan berpikir, belajar, dan daya ingat. Kekurangan zat besi pada 1.000 hari pertama kehidupan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan otak sehingga berdampak pada kecerdasan, konsentrasi, kemampuan belajar, dan memori anak dimasa depan.
Anak yang Kekurangan Zat Besi Memiliki Kemampuan Kognitif Lebih Rendah

dr. Aisya juga mengungkap bahwa dalam sejumlah penelitian menunjukkan, anak yang mengalami anemia akibat kekurangan zat besi memiliki skor kemampuan kognitif lebih rendah dibandingkan anak yang tidak mengalami anemia.
Namun, Mama perlu memahami bahwa zat besi bukan obat ajaib yang dapat membuat anak menjadi jenius dalam waktu singkat.
Kekurangan Zat Besi Membuat Anak Lebih Rentan Mengalami Anemia

Anemia defisiensi zat besi terjadi ketika asupan zat besi tidak mencukupi kebutuhan tubuh.
Pada usia sekitar 6 bulan, anak lebih rentan mengalami kondisi ini karena kebutuhan zat besi meningkat pesat seiring pertumbuhan. Kondisi ini ditandai dengan kulit pucat, tubuh lemas, mudah rewel, nafsu makan menurun, gangguan tidur, serta keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan.
Selain itu, anak dapat mengalami gangguan tidur dan penurunan kemampuan konsentrasi maupun psikomotor. Pada beberapa kasus, anak juga menunjukkan perilaku makan benda yang bukan makanan, seperti es batu atau tanah, yang dikenal sebagai pica.
Adapun kondisi bayi yang lebih berisiko mengalami kondisi ini antara lain:
Bayi yang mendapat ASI tanpa MPASI setelah usia 6 bulan
Pada usia 6 bulan, kebutuhan zat besi bayi meningkat drastis, sementara cadangan zat besi dari lahir mulai menurun. Jika bayi hanya mendapatkan ASI tanpa MPASI yang kaya zat besi, maka asupan zat besi tidak mencukupi kebutuhan tubuh.Bayi yang mengonsumsi susu sapi sebelum usia 12 bulan
Susu sapi memiliki kadar zat besi yang rendah dan dapat mengganggu penyerapan zat besi di usus. Selain itu, konsumsi susu sapi terlalu dini juga bisa menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan yang berisiko menimbulkan perdarahan mikro, sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya kekurangan zat besi.Bayi dengan riwayat lahir prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR)
Bayi prematur atau BBLR umumnya tidak memiliki cadangan zat besi yang cukup karena sebagian besar transfer zat besi dari ibu terjadi pada trimester akhir kehamilan. Akibatnya, kebutuhan zat besi mereka lebih tinggi dibanding bayi cukup bulan, sehingga lebih rentan mengalami anemia jika tidak mendapatkan asupan zat besi yang adekuat.
Rekomendasi Suplementasi Besi pada Anak

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian suplementasi besi sebagai upaya pencegahan anemia defisiensi besi pada anak. Suplementasi ini diberikan kepada seluruh anak dengan prioritas utama pada kelompok usia balita, terutama usia 0–2 tahun.
Berikut dosis dan lama pemberian suplementasi besi:
Bayi BBLR (<2.500 gram)
Dosis: 3 mg/kgBB/hari
Lama pemberian: usia 1 bulan sampai 2 tahun
Keterangan: dosis maksimum 15 mg/hari (dosis tunggal)Bayi cukup bulan
Dosis: 2 mg/kgBB/hari
Lama pemberian: usia 4 bulan sampai 2 tahunAnak usia 2–5 tahun (balita)
Dosis: 1 mg/kgBB/hari
Lama pemberian: 2 kali per minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahunAnak usia 5–12 tahun (usia sekolah)
Dosis: 1 mg/kgBB/hari
Lama pemberian: 2 kali per minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahunRemaja usia 12–18 tahun
Dosis: 1 mg/kgBB/hari
Lama pemberian: 2 kali per minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun
Keterangan: khusus remaja perempuan ditambah 400 µg asam folat
Makanan Tinggi Zat Besi untuk Menu MPASI

Bayi yang sudah memasuki masa MPASI dapat Mama bantu optimalkan kebutuhan zat besi serta nutrisi penting lainnya melalui menu makanan sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi Mama untuk mengetahui makanan apa saja yang bisa menjadi sumber zat besi untuk si Kecil.
Berikut beberapa makanan tinggi zat besi:
Daging sapi
Daging sapi merupakan sumber zat besi heme yang mudah diserap tubuh. Selain itu, daging sapi juga mengandung protein, zinc, dan vitamin B12 yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak bayi.Kacang-kacangan
Kacang merah, kacang hijau, kacang polong, dan lentil termasuk sumber zat besi non-heme. Kandungan protein nabati, serat, dan vitamin B di dalamnya juga membantu kesehatan pencernaan serta pertumbuhan bayi.Telur
Kuning telur mengandung zat besi, protein, lemak sehat, serta vitamin A, D, E, dan B12. Teksturnya yang lembut membuatnya mudah dicerna dan cocok sebagai salah satu makanan awal MPASI.Ikan salmon
Salmon kaya zat besi heme serta omega-3 (DHA dan EPA) yang mendukung perkembangan otak dan penglihatan bayi. Selain itu, juga mengandung protein, vitamin D, dan selenium.Tuna
Tuna merupakan sumber zat besi heme, protein, dan omega-3 yang penting untuk perkembangan otak serta kesehatan tubuh bayi. Kandungan vitamin D dan mineralnya juga membantu daya tahan tubuh.Tahu
Tahu mengandung zat besi non-heme, protein nabati, dan kalsium. Teksturnya lembut sehingga mudah diolah dan cocok untuk MPASI awal.Tempe
Tempe kaya zat besi, protein, serat, serta probiotik alami dari proses fermentasi. Kandungan ini baik untuk pencernaan dan sistem imun bayi.Sayuran hijau (bayam, kangkung, daun katuk)
Sayuran hijau merupakan sumber zat besi non-heme, vitamin A, vitamin C, dan serat. Vitamin C di dalamnya membantu meningkatkan penyerapan zat besi, terutama jika dikombinasikan dengan sumber protein hewani.Hati ayam dan hati sapi
Hati merupakan sumber zat besi heme yang sangat tinggi dan mudah diserap tubuh. Selain itu, juga mengandung vitamin A, B kompleks, folat, dan zinc yang penting untuk perkembangan otak serta imunitas bayi.
Nah, itu dia penjelasan terkait kekurangan zat besi bisa pengaruhi kecerdasan anak. Yuk, beri asupan nutrisi yang cukup untuk si Kecil, Ma!




















