Fimosis pada Bayi, Ini Gejala dan Cara Mengatasinya

Mama juga harus mulai mengetahui gejala dan cara menangani fimosis

9 Juni 2021

Fimosis Bayi, Ini Gejala Cara Mengatasinya
Unsplash/Picsea

Sudah pernah mendengar tentang fimosis belum nih, Ma? Untuk Mama yang memiliki anak laki-laki, informasi mengenai fimosis mungkin tidak terlalu dipahami.

Fimosis adalah kelainan pada alat kelamin bayi laki-laki. Adanya perlekatan antara bagian kulit kulup dengan kepala penis, sehingga lubang penis menjadi tertutup. Penyempitan pada ujung kulit depan penis ini tentunya akan menyiksa dan mengganggu kesehatan si Kecil.

Agar semakin memahami, berikut Popmama.com rangkum gejala dan cara mengatasi fimosis pada bayi:

Yuk Ma, simak hingga tuntas ya!

Fimosis Bisa Terjadi pada Bayi 

Fimosis Bisa Terjadi Bayi 
Unsplash/Michal Bar Haim

Fimosis bisa terjadi pada laki-laki dengan segala jenis usia. Bahkan setiap bayi laki-laki yang dilahirkan punya kecenderungan untuk mengalami fimosis. 

Kondisi fimosis yang terjadi pada bayi dikarenakan kelainan bawaan sejak lahir. Namun, bisa juga terjadi akibat kebersihan penis yang tidak terjaga dengan baik. Fimosis akan menjadi gangguan serius karena akan timbul gejala kemerahan, peradangan pada kepala penis, hingga demam akibat masalah saluran kemih. 

Umumnya fimosis pada bayi akan kembali normal saat usianya sudah dua tahun. Namun, jika kulup si Kecil saat sudah berusia dua tahun belum kembali normal sebaiknya Mama segera memeriksakan ke dokter anak. 

Gejala Fimosis yang Harus Diperhatikan Orangtua

Gejala Fimosis Harus Diperhatikan Orangtua
Unsplash/Kelly Sikkema

Setiap penyakit tentu ada gejala atau tanda-tanda yang bisa terlihat, begitupun dengan fimosis. Tanda-tanda fimosis pada usia bayi juga bisa terlihat, asalkan Mama peka. Beberapa tanda dari fimosis yang harus Mama kenali dan tidak boleh diabaikan begitu saja, seperti: 

  • Kulup tidak bisa ditarik ke bagian belakang, sehingga kepala penis tidak terlihat. Jika ini terlihat oleh Mama saat memandikan si Kecil, ada kemungkinan dirinya mengalami fimosis. Ujung penis si Kecil juga terlihat menyempit, perlu Mama ingat kalau kulup seharusnya bersifat elastis. 
  • Saat si Kecil ingin pipis, kepala penis akan menggelembung karena urine tertahan di kulit. Saat gelembungnya sudah cukup tinggi, maka urine akan keluar. Pada kondisi ini, Mama bisa melihat ada bocoran air dari kulit penis. Urine pun kurang lancar keluar. 
  • Biasanya urine akan tersisa di balik kulit penis. Perhatikan selalu kebersihan dan kondisi kulit penis si Kecil ya, Ma. Jika urine terus tersisa, lama-kelamaan sisa urine dan kotoran lainnya akan tertimbun dan memicu pertumbuhan bakteri pada penis. 
  • Penis si Kecil mengalami bengkak. Pembengkakan penis yang terjadi ini pasti akan disertai dengan rasa nyeri dan mengalami peradangan (balanitis).
  • Si Kecil akan mulai mengalami demam. Hal ini dikarenakan terjadinya infeksi pada saluran kemih akibat pertumbuhan bakteri. Infeksi terjadi pada sekitar kulit, bagian kepala penis, hingga saluran kemih. Inilah yang menyebabkan si Kecil mengalami demam.
  • Tidak ada nafsu makan atau minum susu. Efek dari demam yang terjadi pada si Kecil ini berdampak pada kondisi nafsu makan dan menurunkan konsumsi minum susu. Ini terjadi karena ia merasa kurang nyaman ditambah lagi dengan kondisi tubuh yang demam.  

Bentuk Penanganan Fimosis pada Bayi

Bentuk Penanganan Fimosis Bayi
Pixabay/regina_zulauf

Banyak yang beranggapan jika fimosis pada bayi tidak perlu dikhawatirkan. Namun, Mama tidak boleh menyepelekan kondisi ini karena bisa membahayakan. 

Jika dibiarkan dan tidak ditangani dengan baik, kondisi fimosis akan menetap hingga bertambahnya usia si Kecil. Dalam pertumbuhannya, hal ini bisa menimbulkan beberapa gangguan misalnya kesulitan untuk buang air kecil. 

Tak hanya itu, fimosis yang berkepanjangan dapat memicu berbagai risiko lain. Si Kecil akan mengalami rasa nyeri, iritasi, bahkan akan sulit berhubungan seksual saat dirinya dewasa. Maka dari itu, fimosis yang terjadi saat usia bayi harus diatasi sejak dini sebelum semuanya terlambat. 

Saat menangani fimosis, hindari menarik secara paksa pelekatan antara kulup dengan kepala penis. Tindakan seperti ini akan berisiko menyebabkan luka pada kulit kulup si Kecil. Dalam merawat dan menangani fimosis, Mama perlu melakukan beberapa cara mengatasi fimosis pada bayi berikut ini:

Editors' Picks

1. Tidak terlalu sering menggunakan diapers

1. Tidak terlalu sering menggunakan diapers
Freepik

Pemakaian diapers yang terlalu lama, apalagi hingga seharian akan memicu si Kecil terkena infeksi pada kulit kelamin. Kebiasaan ini tentu meningkatkan risiko bayi mengalami fimosis. Mama sebaiknya bisa memberikan jeda tanpa menggunakan diapers setidaknya 15 menit per hari. Ini berguna agar kulit si Kecil bisa bernapas. 

2. Menjaga kebersihan area genital bayi

2. Menjaga kebersihan area genital bayi
Freepik

Perlu Mama ingat kalau kebersihan tentu akan meminimalkan risiko terkena penyakit, begitu pun dengan fimosis. Mama perlu membersihkan penis si Kecil setiap hari dengan air hangat saat sedang mandi. Saat bayi buang air kecil, Mama perlu menggunakan kasa untuk mengusap kotoran atau urine hingga bersih. Kemudian bilas dengan air hangat untuk strerilisasi. Bersihkan juga secara keseluruhan dari area penis hingga selangkangan, lalu keringkan hingga benar-benar kering sebelum si Kecil menggunakan popok.  

3. Memberi krim kortikosteroid

3. Memberi krim kortikosteroid
Popmama.com/Rianti
This article supported by vivo as Official Journalist Smartphone Partner IDN Media

Atas anjuran dokter dan sudah berkonsultasi, Mama bisa mengoleskan krim kortikosteroid pada ujung kulit kulup pada kepala penis. Lakukan ini tiga kali sehari selama kurun waktu satu bulan karena ini berguna dalam membantu mengendurkan kulit kulup. 

4. Melakukan sunat (sirkumsisi)

4. Melakukan sunat (sirkumsisi)
Unsplash/Jafar Ahmed

Sirkumsisi atau yang lebih dikenal dengan istilah sunat menjadi salah satu cara paling dianjurkan untuk mengatasi fimosis. Saat disunat, kulit kulup yang menutupi kepala penis akan dipotong sehingga saluran kencing bisa kembali terbuka. Namun, Mama perlu melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Dari konsultasi, Mama tentu akan mendapatkan saran dan penanganan yang tepat. 

5. Hindari menggunakan bedak dan sabun yang mengandung pewangi

5. Hindari menggunakan bedak sabun mengandung pewangi
Freepik

Mama harus kembali memerhatikan setiap produk yang akan digunakan oleh si Kecil. Jangan sampai produk yang digunakan justru semakin memperparah kondisi fimosis. Penggunaan bedak atau sabun yang mengandung pewangi bisa menyebabkan iritasi. 

Nah, itulah informasi mengenai gejala dan cara mengatasi fimosis pada bayi. Semoga informasi dari Popmama.com mengenai fimosis pada bayi bisa berguna ya, Ma. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.