Pexels/RDNE Stock project
Perdebatan mengenai pengaruh faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dalam pembentukan kepribadian anak sudah berlangsung lama. Namun, para ahli sepakat bahwa keduanya memiliki peran yang sama pentingnya.
Lapointe menjelaskan bahwa faktor bawaan memang memiliki pengaruh yang kuat. Akan tetapi, penelitian tentang perkembangan anak juga menunjukkan bahwa lingkungan dan pola pengasuhan memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan kepribadian.
Hal ini berkaitan dengan konsep neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan di sekitarnya. Kemampuan ini sangat aktif pada masa kanak-kanak, sehingga respons orangtua terhadap kebutuhan anak dapat memengaruhi perkembangan jalur-jalur di otak dan cara temperamen bawaan anak diekspresikan.
Karena itu, hal terpenting yang dapat dilakukan orangtua adalah menjadi responsif terhadap sinyal yang diberikan anak. Orangtua perlu memperhatikan kebutuhan anak dan memberikan respons yang sesuai.
Sebagai contoh, jika anak memiliki karakter yang sensitif dan mudah kewalahan, orangtua perlu mengenali tanda-tanda ketika anak mulai mengalami overstimulasi atau kelelahan secara emosional.
Dengan begitu, orangtua dapat segera membantu menenangkannya Pendekatan ini dikenal dengan istilah ‘serve and return’, yaitu ketika anak memberikan sinyal atau kebutuhan tertentu, lalu orangtua merespons dengan empati, perhatian, dan dukungan yang tepat.
Hubungan timbal balik seperti inilah membantu anak tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sesuai dengan potensi yang dimiliki. Jadi, meskipun tanda-tanda temperamen bayi sudah bisa terlihat sejak lahir, kepribadian anak akan terus berkembang sepanjang masa pertumbuhannya.
Dukungan dan respons yang konsisten dari orangtua menjadi fondasi penting untuk membantu kepribadian anak berkembang secara optimal. Semoga informasinya membantu, ya, Ma.