Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kapan Kepribadian Bayi Mulai Terbentuk? Ini Penjelasan Ahli
Magnific/freepik
  • Kepribadian bayi mulai terlihat sejak lahir melalui temperamen, namun berkembang seiring waktu dipengaruhi lingkungan dan pengalaman saat anak tumbuh.
  • Temperamen adalah sifat bawaan, sedangkan kepribadian terbentuk dari interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pola asuh, budaya, serta hubungan sosial.
  • Respons orangtua yang peka terhadap sinyal anak berperan penting membentuk jalur otak dan membantu perkembangan kepribadian optimal melalui pendekatan ‘serve and return’.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap bayi lahir dengan kepribadian yang berbeda-beda. Ada bayi yang tampak tenang dan mudah beradaptasi, sementara ada juga yang lebih sensitif terhadap perubahan di sekitarnya. 

Tak heran jika banyak orangtua bertanya-tanya, kapan sebenarnya kepribadian bayi mulai terbentuk? Menurut para ahli, kepribadian anak akan semakin lebih terlihat seiring bertambahnya usia. 

Berikut Popmama.com siap membahas informasi lebih lanjut mengenai kapan kepribadian bayi mulai terbentuk, melansir The Bump.

1. Kapan kepribadian bayi mulai terbentuk?

Pexels/RDNE Stock project

Pada dasarnya, orangtua biasanya sudah bisa melihat gambaran anak temperamen sejak bayi baru lahir. Di sisi lain, kepribadian anak akan terbentuk dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, mengikuti tempat lingkungan di mana dia tumbuh. 

“Orangtua akan memiliki gambaran tentang temperamen seorang anak sejak lahir,” kata Vanessa Lapointe, PhD, seorang psikolog sekaligus penulis buku Parenting Right from the Start: Laying a Healthy Foundation in the Baby and Toddler Years.

Jika bayi memiliki tempramen yang lebih sensitif, mereka cenderung lebih sering menangis, mengalami kesulitan tidur, serta memiliki refleks kaget yang lebih sering muncul. 

Sebaliknya, bayi dengan tempramen santai biasanya lebih mudah tidur, menyusu dengan baik, dan beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim tanpa banyak kesulitan. Mereka terlihat nyaman menghadapi berbagai pengalaman baru sejak awal. 

Meski demikian, kepribadian anak biasanya akan semakin terlihat jelas ketika mereka mulai merangkak, berjalan, dan mampu menunjukkan preferensi mereka sendiri. 

Orangtua dapat mulai melihat lingkungan seperti apa yang disukai anak, hingga siapa saja orang yang membuat si Kecil merasa nyaman. Rasa mandiri yang lebih kuat umumnya mulai berkembang saat anak memasuki usia dua tahun. 

Pada usia ini, anak yang memiliki karakter sensitif akan terlihat lebih mudah menghindar, marah, atau bereaksi ketika ada orang yang mendekatinya.

2. Temperamen dan kepribadian ternyata berbeda

Unsplash/Minnie Zhou

Banyak orang menganggap temperamen dan kepribadian adalah hal yang sama. Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda.

Natasha Beck, MPH, PsyD, seorang psikolog klinis dari Los Angeles dan pendiri Dr. Organic Mommy, menjelaskan bahwa temperamen merupakan sifat bawaan yang diwariskan, sedangkan kepribadian berkembang seiring waktu dan dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan.

Temperamen berkaitan dengan bagaimana seseorang merespons berbagai situasi yang dihadapi. Hal ini mencakup tingkat frustrasi yang dirasakan, cara mengolah emosi, hingga kemampuan menenangkan diri ketika menghadapi tantangan. 

“Temperamen hanyalah salah satu bagian dari kepribadian. Kepribadian anak juga dibentuk oleh lingkungan, termasuk pola pengasuhan orangtua, hubungan dengan saudara kandung, teman sebaya, budaya, stimulasi yang diterima, bahkan pola makan,” kata Natasha Beck. 

Peneliti Alexander Thomas dan Stella Chess mengelompokkan temperamen anak menjadi tiga tipe utama, yaitu:

  • Easy (mudah beradaptasi)
    Anak dengan tipe ini cenderung fleksibel, mudah menyesuaikan diri, dan memiliki karakter yang positif.

  • Difficult (sulit atau penuh semangat)
    Anak lebih mudah menunjukkan kemarahan atau tantrum ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih sabar.

  • Slow to Warm Up (butuh waktu untuk beradaptasi)
    Anak biasanya lebih berhati-hati terhadap situasi baru, cenderung pemalu, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan orang baru.

3. Lima dimensi kepribadian

Pexels/Danik Prihodko

Lapointe juga menyoroti konsep yang diperkenalkan oleh pakar kesehatan anak Tom Boyce, yaitu teori Orchid dan Dandelion. Anak tipe Orchid umumnya lebih sensitif dan intens, sehingga membutuhkan lingkungan yang tepat untuk berkembang optimal. 

Sementara itu, anak tipe Dandelion cenderung lebih mudah beradaptasi dalam berbagai situasi.Sementara dari sisi kepribadian, terdapat lima dimensi utama yang dikenal dalam teori Five-Factor Model, yaitu:

  • Extraversion: menggambarkan apakah anak cenderung ekstrover atau introver.

  • Neuroticism: menunjukkan seberapa mudah anak merasa kesal atau mengalami perubahan suasana hati.

  • Openness: berkaitan dengan rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap pengalaman baru.

  • Agreeableness: mencerminkan tingkat empati, kebaikan hati, dan kemampuan bekerja sama.

  • Conscientiousness: menggambarkan tanggung jawab serta kemampuan anak untuk bertindak dengan penuh pertimbangan.

4. Cara orangtua membantu perkembangan kepribadian anak

Pexels/RDNE Stock project

Perdebatan mengenai pengaruh faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dalam pembentukan kepribadian anak sudah berlangsung lama. Namun, para ahli sepakat bahwa keduanya memiliki peran yang sama pentingnya.

Lapointe menjelaskan bahwa faktor bawaan memang memiliki pengaruh yang kuat. Akan tetapi, penelitian tentang perkembangan anak juga menunjukkan bahwa lingkungan dan pola pengasuhan memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan kepribadian.

Hal ini berkaitan dengan konsep neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan di sekitarnya. Kemampuan ini sangat aktif pada masa kanak-kanak, sehingga respons orangtua terhadap kebutuhan anak dapat memengaruhi perkembangan jalur-jalur di otak dan cara temperamen bawaan anak diekspresikan.

Karena itu, hal terpenting yang dapat dilakukan orangtua adalah menjadi responsif terhadap sinyal yang diberikan anak. Orangtua perlu memperhatikan kebutuhan anak dan memberikan respons yang sesuai.

Sebagai contoh, jika anak memiliki karakter yang sensitif dan mudah kewalahan, orangtua perlu mengenali tanda-tanda ketika anak mulai mengalami overstimulasi atau kelelahan secara emosional.

Dengan begitu, orangtua dapat segera membantu menenangkannya Pendekatan ini dikenal dengan istilah ‘serve and return’, yaitu ketika anak memberikan sinyal atau kebutuhan tertentu, lalu orangtua merespons dengan empati, perhatian, dan dukungan yang tepat. 

Hubungan timbal balik seperti inilah membantu anak tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sesuai dengan potensi yang dimiliki. Jadi, meskipun tanda-tanda temperamen bayi sudah bisa terlihat sejak lahir, kepribadian anak akan terus berkembang sepanjang masa pertumbuhannya. 

Dukungan dan respons yang konsisten dari orangtua menjadi fondasi penting untuk membantu kepribadian anak berkembang secara optimal. Semoga informasinya membantu, ya, Ma.

Editorial Team

Related Article