Pexels/Golden Ratio Captures
Dari sisi medis, rekomendasinya cukup tegas. Melansir Healthy Children, AAP secara resmi menyerukan larangan produksi dan penjualan baby walker beroda karena dianggap tidak punya manfaat sama sekali dan justru berbahaya.
Melansir Wonder Baby, dikutip dari studi tahun 2017 yang menemukan bahwa bayi pengguna walker dan alat bantu serupa cenderung mencapai tonggak perkembangan seperti berdiri dan berjalan lebih lambat dibandingkan dengan bayi yang tidak memakainya.
Kalau tetap ingin memakai alat bantu jalan, push walker menjadi pilihan yang lebih disarankan oleh tenaga medis dibandingkan dengan baby walker beroda. Meski begitu, sumber yang sama tetap mengingatkan bahwa pengawasan orang tua tidak boleh lengah sedetik pun.
Jadi, kalau harus memilih di antara push walker dan baby walker, jawabannya cukup jelas. Push walker menawarkan cara belajar jalan yang lebih alami dan minim risiko, sementara baby walker lebih banyak menyimpan bahaya ketimbang manfaat.
Meski begitu, tidak ada alat yang bisa menggantikan pengawasan langsung dari Mama. Apa pun pilihannya, pastikan area bermain bebas dari tangga, benda tajam, dan barang berbahaya lain, supaya si Kecil bisa belajar melangkah dengan aman.
Nah, itulah pembahasan mengenai 5 perbedaan push walker dan baby walker untuk membantu bayi mama belajar berjalan. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!