Mengapa Bayi Suka Membenturkan Kepala? Simak Penyebabnya di Sini

Meski normal, Mama harus mewaspadai beberapa gejala lain yang menyertainya

7 Desember 2020

Mengapa Bayi Suka Membenturkan Kepala Simak Penyebab Sini
Freepik/phduet

Sebagai orangtua, setiap mama akan selalu memastikan  keamanan si Kecil. Salah satunya dengan menyediakan mainan yang aman dan mengurangi risiko kecelakaan di rumah.

Namun, meski semua tindakan pencegahan sudah dilakukan, terkadang ada beberapa hal yang tidak dapat dihindari. Misalnya bayi mulai mengembangkan kebiasaan membenturkan kepala ke tembok atau mainan.

Meski ini membuat Mama khawatir, cobalah untuk tidak terlalu panik. Ini merupakan perilaku normal, meski ada beberapa hal yang perlu diwaspadai.

Untuk membantu Mama mengatasinya, Popmama.com mengulas penyebab bayi suka membenturkan kepala dan cara mengatasinya. Yuk, simak ulasan berikut ini, Ma!

Apakah Perilaku Membenturkan Kepala Normal?

Apakah Perilaku Membenturkan Kepala Normal
Freepik/Yanalya
Bayi tertawa

Meski terlihat aneh, membenturkan kepala pada bayi dan balita sebenarnya adalah perilaku yang normal. Beberapa bayi melakukan ini menjelang waktu tidur, ini merupakan teknik menenangkan diri.

Namun, meski menjadi kebiasaan umum, Mama mungkin akan khawatir atau cemas jika bayi terluka. Ini mungkin membuat Mama bertanya-tanya bagaimana jika kebiasaan ini menyebabkan kerusakan otak. Atau apakah bayi sedang marah?

Membenturkan kepala dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Beberapa bayi hanya membenturkan kepala saat berbaring telungkup di tempat tidur, lalu berulang kali membenturkan kepala ke bantal atau kasur.

Namun, di lain waktu, bayi membenturkan kepala saat dalam posisi tegak. Dalam kasus ini, mereka mungkin membenturkan kepala ke dinding, pagar tempat tidur, atau bagian belakang kursi.

Beberapa bayi mengayunkan tubuhnya sambil membenturkan kepala dan yang lainnya mengerang atau mengeluarkan suara lain.

Namun, hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa perilaku ini biasanya tidak perlu dikhawatirkan, terutama jika hanya terjadi saat menjelang tidur.

Kebiasaan ini dimulai sekitar bayi berusia enam hingga sembilan bulan dan berlangsung selama 15 menit atau lebih lama.

Editors' Picks

Penyebab Bayi Membenturkan Kepala

Penyebab Bayi Membenturkan Kepala
Unsplash/Jonathan Borba

Memahami mengapa bayi membenturkan kepalanya dapat membantu menghilangkan rasa khawatir. Berikut beberapa penyebab umum:

1. Gangguan gerakan ritmik yang berkaitan dengan tidur

Menariknya, kebiasaan ini sering terjadi tepat sebelum bayi tertidur. Ini mungkin terlihat menyakitkan, tetapi kenyataannya, membenturkan kepala adalah cara beberapa bayi menenangkan diri.

Ini mirip dengan cara sebagian bayi mengayunkan kaki saat tidur atau diayun untuk tidur. Sederhananya, membenturkan kepala adalah bentuk kenyamanan diri, yang paling sering mengarah pada tidur. Dan untuk alasan ini, tidak jarang beberapa bayi melakukannya untuk kembali tertidur setelah bangun di tengah malam.

Tentu saja, suara benturan yang tiba-tiba di malam hari mungkin akan mengejutkan Mama. Tapi tahan keinginan untuk segera menggendong si Kecil. Selama tidak ada risiko cedera, biarkan si Kecil kembali tidur. Ini hanya akan berlangsung beberapa menit sampai ia kembali tidur.

2. Penyimpangan dan gangguan perkembangan

Kadang-kadang, membenturkan kepala adalah tanda dari kondisi perkembangan seperti autisme atau mungkin menunjukkan masalah psikologis dan neurologis.

Untuk membedakan gangguan gerakan ritmis dari masalah perkembangan, amati kapan terjadi dan frekuensinya.

Sebagai pedoman umum, jika bayi sehat dan tidak menunjukkan tanda-tanda perkembangan, psikologis, atau kondisi neurologis dan benturan hanya terjadi sebelum tidur,  kemungkinan besar itu adalah gangguan gerakan ritme yang sangat khas.

Di sisi lain, jika gejala lain menyertai benturan kepala, seperti keterlambatan bicara, ledakan emosi, atau interaksi sosial yang buruk, mungkin ada masalah lain. Temui dokter agar dilakukan pengamatan lebih lanjut.

Bagaimana Menanggapi Perilaku ini?

Bagaimana Menanggapi Perilaku ini
Pixabay/erikawittlieb

Meskipun normal, tetapi sebagai orangtua, melihat bayi membenturkan kepala tentu menakutkan . Daripada merasa frustrasi, berikut beberapa cara untuk mengatasinya:

1. Abaikan

Memang, ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Ketahuilah bahwa jika Mama merespons dengan panik dan langsung menggendong bayi, mereka mungkin akan menggunakan perilaku tersebut sebagai alat untuk mencari perhatian. Namun, jika Mama mengabaikannya, perilaku tersebut mungkin hanya berlangsung beberapa menit.

Abaikan saja perilaku tersebut jika tidak ada risiko bahaya.

2. Posisikan kembali tempat tidur bayi

Meskipun tidak berisiko, benturan kepala bisa menjadi makin keras dan mengganggu anggota keluarga lainnya. Salah satu pilihan adalah menjauhkan tempat tidur dari dinding. Dengan cara ini, kepala tempat tidur atau tempat tidur bayi tidak membentur dinding.

3. Mencegah cedera

Jika Mama khawatir bayi akan melukai dirinya sendiri, letakkan bantal di sepanjang kepala tempat tidur. Namun perlu diperhatikan ketika meletakkan bantal, karena ini dapat menimbulkan risiko sindrom kematian bayi mendadak.

American Academy of Pediatrics menyatakan saat bayi masih tidur di boks bayi, hindari bantal yang terlalu banyak, selimut, dan alas tidur empuk untuk mengurangi risiko sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).

Kapan Waktunya ke Dokter?

Kapan Waktu ke Dokter
Freepik/wavebreakmedia

Amati saat terjadi benturan kepala dan temui dokter jika Mama mencurigai adanya masalah perkembangan atau masalah lain. Ini lebih mungkin terjadi saat perilaku terjadi sepanjang hari atau saat bayi tidak mengantuk.

Mama juga harus menemui dokter jika melihat gejala lain seperti keterlambatan bicara, kontrol kepala yang buruk, atau kecanggungan untuk menyingkirkan kejang. Dokter dapat mengevaluasi bayi dan membuat diagnosis.

Nah, itulah informasi seputar penyebab bayi membenturkan kepala dan cara mengatasinya. Semoga informasi ini bermanfaat, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.