7 Tips Memberikan Plester Luka pada Bayi

Mungkin terlihat sepele, tapi yakinkah Mama si Kecil tidak akan berusaha mencopot plesternya?

4 Mei 2019

7 Tips Memberikan Plester Luka Bayi
Pixabay/ElasticComputeFarm

Si Kecil yang atif bergerak dan sibuk mengeksplorasi dan bereksperimen dengan sekitarnya tentu tak lepas dari risiko terluka. Luka gores, kulit terkelupas, luka memar, luka lecet, adalah beberapa luka yang bisa saja dialami si Kecil.

Untuk mempercepat penyembuhan luka di kulit, tentu plester atau perban kecil berperekat menjadi pilihan Mama saat hendak menutup lukanya.

Namun, yakinkah Mama, si Kecil akan dengan begitu saja menerima pelindung luka yang Mama tempelkan di kulitnya? Ini beberapa tips dalam memudahkan Mama memasang plester atau perban pada si Kecil, sehingga lukanya cepat sembuh, setelah diberi perawatan atau dibersihkan tentunya.

1. Keringkan kulit bayi sebelum memasang plester

1. Keringkan kulit bayi sebelum memasang plester
Pixabay/PublicDomainPictures

Plester untuk menutup luka tentu saja menggunakan perekat. Jika perekat ini tidak menempel dengan kuat pada kulit bayi, tentu ia akan dengan mudah mencopotnya. Apalagi jika si Bayi kesal atau penasaran karena ada benda asing di kulitnya.

Agar plester luka itu tidak dengan mudah copot oleh si Kecil, bersihkan dan keringkan kulit terlebih dahulu sebelum menempelkan plester pada luka. Kulit yang kotor dan basah akan membuat plester cepat lepas apalagi jika diraih si Kecil.

2. Ganti plester dengan liquid gel atau spray bandage

2. Ganti plester liquid gel atau spray bandage
Wikimedia Commons/Olli Niemitalo

Si Bayi benar-benar menolak plester dan selalu mengorek dan melepaskannya? Jangan khawatir Ma. Mama bisa jadi mempertimbangkan cara lain untuk menutup luka.

Seperti yang direkomendasikan dalam buku What To Expect the First Year karya Heidi Murkoff, liquid gel atau spray bandage bisa menjadi pilihan Mama. Keduanya  bekerja dengan mengoleskan gel atau menyemprotkan cairan ini ke atas luka yang telah dirawat, sehingga si Kecil tak merasa menggunakan plester.

Keduanya bisa didapatkan di toko online dan memang agak mahal. Namun, ini salah satu cara efektif untuk menutup luka kecil. Telusuri lebih dalam fungsinya dan jangan lupa baca aturan pakainya sebelum membeli ya Ma.

3. Jangan sentuh perbannya agar tidak infeksi

3. Jangan sentuh perban agar tidak infeksi
Pixabay/HeungSoon

Jika si Kecil mengalami luka terbuka, Mama perlu ingat, setelah dirawat, hanya gunakan perban yang steril ya Ma. Ini artinya perban yang belum pernah sama sekali dibuka. Selain itu, jangan sama sekali menyentuh permukaan perban dengan jari. Khususnya permukaan yang akan diletakkan di atas luka yang telah diobati.

Hal ini harus dilakukan untuk menghindari melekatnya kotoran dan mencegah infeksi.

4. Gunakan salep antibiotik agar luka tidak lekat di perban

4. Gunakan salep antibiotik agar luka tidak lekat perban
Wikimedia Commons/KingaNBM

Setelah merawatnya, jangan lupa mengoleskan salep antibiotik di atas luka. Hal ini dilakukan agar permukaan kulit yang terluka tidak menempel langsung ke perban.

Namun, jika Mama sudah mengoleskannya dan perban tetap menempel, tak usah khawatir, Ma. Basahi dulu perban dengan air minum hangat yang matang. Setelah itu baru Mama bisa melepaskannya secara perlahan.

Editors' Picks

5. Pastikan udara tetap mengalir di lukanya

5. Pastikan udara tetap mengalir lukanya
Pixabay/msumuh

Pada luka dalam akibat benda tajam, Mama harus benar-benar merapatkan luka tersebut dengan plester setelah diobati. Hal ini berguna agar luka cepat rapat dan sembuh.

Namun, untuk luka gores atau gesek, penanganannya berbeda. Jangan tekan rapat-rapat saat meletakkan plester di atas luka si Kecil yang telah dirawat. Letakkan dengan longgar, agar udara masih bisa mengalir di atas lukanya. Hal ini akan mempercepat penyembuhannya.

6. Jangan terlalu kencang membalut luka

6. Jangan terlalu kencang membalut luka
Pixabay/Robert-Owen-Wahl

Luka di telapak jari memang menyakitkan, bahkan jika hanya tergores tepian kertas, misalnya. Luka seperti ini tidak berbahaya, namun rasa sakitnya terasa berlebihan karena telapak tangan kita dipenuhi oleh sensor peraba.

Walupun demikian, Mama harus ingat. Jangan karena beranggapan terasa amat perih lalu Mama malah melilitkan plester rapat-rapat di jari si Kecil. Hal ini justru dapat menganggu aliran darah di jari. Biarkan plester menempel secara agak longgar ya Ma.

7. Cek dan ganti plester setiap hari

7. Cek ganti plester setiap hari
Pixabay/StockSnap

Jangan lupa untuk mengganti plester setiap hari, Ma. Menurut Heidi Murkoff, hal ini bisa dilakukan terutama saat mandi atau sehabis mandi. Mengapa dilakukan pada saat tersebut? Karena saat plester basahlah daya rekatnya paling tidak sempurna. Jadi, Mama akan dapat dengan mudah melepasnya.

Jika luka terlihat masih terbuka atau belum sembuh, tutup kembali luka tersebut. Namun jika tampak sudah jauh membaik dan Mama yakin si Kecil tak akan membuat lukanya terbuka kembali dengan gerakan yang ia lakukan, luka tersebut tak perlu ditutup kembali. Jangan lupa ganti jika perban kotor atau basah karena terkena air saat bermain ya Ma.

Baca juga: Ini Daftar Perlengkapan P3K yang Harus Selalu Siap di Tas Mama

7 Tips Memberikan Plester Luka Bayi
Pixabay/Dariusz Sankowski

Walaupun lukanya kecil, jangan ragu untuk mencari tahu lebih lanjut jenis liquid gel, spray bandage, atau salep dan obat apa yang bisa digunakan untuk mengobati luka si Kecil ya Ma. Konsultasikan kepada dokter jika perlu, apalagi jika sang dokter bisa dihubungi melalui pesan singkat. Yang paling penting, jangan lupa membersihkan luka terlebih dahulu sebelum memberinya plester.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!