Ini 5 Tanda Bahaya Perkembangan Motorik Kasar yang Perlu Diwaspadai

Apabila si Kecil belum mampu melakukan hal ini, artinya ia mengalami keterlambatan tumbuh kembangnya

13 September 2021

Ini 5 Tanda Bahaya Perkembangan Motorik Kasar Perlu Diwaspadai
Pexels/pixabay

Setiap anak akan berkembang dan tumbuh sesuai dengan usianya, meskipun tingkat percepatan tiap anak berbeda-beda.

Perkembangan dan pertumbuhan pada anak menjadi hal penting yang harus diperhatikan orangtua. Karena, apabila terdapat dua atau tiga hal dalam masa tumbuh kembangnya terlambat atau tidak sesuai usianya, Mama perlu membawanya ke dokter untuk dievaluasi.

Keterlambatan perkembangan anak secara umum disebabkan oleh gangguan genetik atau kromosom seperti down syndrome atau gangguan infeksi susunan saraf.

Untuk mengetahui apakah perkembangan si Kecil sudah berjalan dengan baik atau tidak, maka diperlukan pemantauan. Akan tetapi, sebaiknya Mama kenali terlebih dahulu tanda bahaya atau red flag dalam perkembangan anak. 

Red flag atau tanda bahaya dalam tumbuh kembang si Kecil merupakan hal yang sangat krusial. Namun, semakin cepat red flag itu terdeteksi, akan semakin cepat pula dokter melakukan penanganan.

Perkembangan anak terdiri atas motorik kasar, motorik halus, bahasa atau bicara, dan kemampuan sosial.

Ada beberapa red flags yang perlu diwaspadai dalam tumbuh kembang si Kecil.

Nah, berikut ini 5 red flags perkembangan motorik kasar yang perlu diwaspadai oleh Mama yang telah Popmama.comrangkum. Yuk, disimak!

1. Usia 5 bulan belum bisa berguling

1. Usia 5 bulan belum bisa berguling
Pexels/wildlittlethingsphoto

Untuk bisa berguling dari posisi telentang ke posisi tengkurap, umumnya bayi melakukannya di sekitar usia 5-6 bulan. Akan tetapi, setiap bayi membutuhkan kecepatan waktu yang berbeda-beda.

Ada beberapa hal yang menyebabkan kemampuan berguling si Kecil menjadi terganggu, antara lain karena lahir prematur, kelainan otot, kelainan penglihatan, dan penyakit tulang belakang.

Agar si Kecil dapat berguling, Mama bisa melatihnya dengan cara:

  • Mama bisa tengkurapkan bayi selama beberapa menit dalam beberapa kali sehari.
  • Kemudian, bantu si Kecil berguling ke posisi tengkurap.
  • Mama juga bisa melatihnya dengan membantu si Kecil tengkurap dengan mainan.
  • Pastikan Mama menempatkan si Kecil pada tempat yang empuk seperti kasur dan selalu mengawasinya, ya.
  • Hindari pula terlalu sering menggendong, Ma.

Apabila si Kecil masih belum bisa berguling meskipun sudah dilatih, ada baiknya Mama segera konsultasikan ke dokter.

Editors' Picks

2. Usia 6-7 bulan belum bisa mengontrol kepala

2. Usia 6-7 bulan belum bisa mengontrol kepala
Pexels/catalina-carvajal-herrera-3408906

Saat usia 5-6 bulan, umumnya bayi sudah bisa menunjukkan otot lehernya yang semakin menguat, sehingga ketika berusia 6-7 bulan bayi sudah dapat menahan kepalanya dengan tegak dan mampu mengendalikan gerak kepala. Akan tetapi, dalam beberapa kasus hal ini bisa terjadi keterlambatan dibandingkan dengan bayi pada umumnya.

Hal tersebut disebabkan oleh pola gerak si Kecil yang mungkin cenderung kurang aktif atau adanya gangguan dari tumbuh kembang bayi.

Untuk itu, Mama cobalah melatih gerak si Kecil. Letakkan benda-benda yang menarik perhatian si Kecil untuk menstimulasi agar si kecil mau mencoba meraih benda tersebut.

Selain itu, Mama juga bisa melatih si Kecil untuk meraih tangan Mama, lalu saat si Kecil sudah memegang tangan Mama, tarik secara perlahan hingga si Kecil terduduk.

Apabila si Kecil tampak tidak kuat, jangan dipaksakan ya, Ma. Hindari pula menegakkan kepala terlalu lama karena si Kecil akan kelelahan.

3. Usia 10-12 bulan belum bisa duduk tegak selama 5-10 menit

3. Usia 10-12 bulan belum bisa duduk tegak selama 5-10 menit
Pexels/wildlittlethingsphoto

Duduk merupakan tahapan penting dalam tumbuh kembang si Kecil. Karena, apabila si Kecil  sudah bisa duduk, umumnya ia akan belajar merangkak dan kemudian berjalan.

Namun, bagaimana jika si Kecil belum bisa duduk tegak saat berusia 10-12 bulan?

Tumbuh kembang anak selain berbeda-beda, juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, kematangan fisik, dan kecukupan gizi. Biasanya, rata-rata bayi sudah dapat duduk pada usia 8-10 bulan selama maksimal 10 menit. Jika si Kecil pada usia tersebut belum bisa duduk duduk tegak, kemungkinan si Kecil mengalami kelainan tulang.

Beberapa bayi ada yang terlahir dengan kelainan tulang tertentu yang bisa mempengaruhi tumbuh kembangnya. Selain itu, ada pula bayi yang memang tidak mau duduk dan lebih menyukai aktivitas eksplorasi lingkungan dengan cara dititah, Ma.

Akan tetapi, Mama bisa mencoba stimulasi si Kecil agar dapat duduk tegak, seperti mendudukkan si Kecil pada kursi dengan sandaran agar tidak jatuh ke belakang. Saat si Kecil sudah di posisi duduk, beri mainan di tangannya, kemudian pegang badannya.

Tidak hanya itu, Mama juga bisa menggendong si Kecil dalam posisi tegak dengan tetap menyangga tubuhnya. Lakukan latihan stimulasi setiap harinya ya, Ma.

4. Usia 12-13 bulan belum bisa merangkak, mengesot, dan ditarik ke posisi berdiri

4. Usia 12-13 bulan belum bisa merangkak, mengesot, ditarik ke posisi berdiri
Pexels/bingotheme

Umumnya, bayi sudah mulai merangkak, mengesot, dan ditarik ke posisi berdiri pada usia 8-12 bulan. Bahkan, sebagian dari mereka justru melewatkan tahap merangkak, lebih menyukai duduk dan mengesot dan bahkan berdiri lalu berjalan dengan bantuan.

Meski begitu, sangat penting bagi bayi untuk belajar merangkak dan mengesot terlebih dahulu sebelum bisa berdiri dan berjalan. Karena, otot-otot tubuh bayi akan terlatih menjadi lebih kuat dalam menopang tubuhnya sendiri saat ia berdiri dan berjalan.

Apabila Mama khawatir di usia si Kecil yang menginjak 12-13 bulan, tetapi belum bisa merangkak, mengesot, ataupun ditarik ke posisi berdiri, Mama bisa membantunya menstimulasi agar bayi siap bergerak.

Mama perlu merangsang si Kecil dengan cara meletakkan mainan yang cukup jauh dari jangkauannya agar ia bisa menghampirinya dengan cara merangkak atau mengesot. Atau mungkin, Mama juga bisa ikut tengkurap di hadapan si Kecil, kemudian panggil si Kecil agar ia menghampiri.

Selain itu, Mama juga harus mengurangi intensitas menggendong si Kecil, lebih sering membuat rangsangan motorik yang membuat si Kecil bergerak merangkak, mengesot, atau bahkan berusaha berdiri sendiri dengan bantuan, dan jangan lupa untuk sering-sering mengajak si Kecil berkomunikasi secara verbal dan motorik ya, Ma.

5. Usia 18-21 bulan belum bisa berjalan atau dititah

5. Usia 18-21 bulan belum bisa berjalan atau dititah
Pexels/pixabay

Saat usia 8-18 bulan, umumnya anak akan berjalan dengan merambat dan sudah bisa berdiri sendiri, kemudian melakukan langkah pertamanya.

Akan tetapi, apabila si Kecil di usia 18-21 bulan belum bisa berjalan, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan keterlambatan tersebut. Misalnya, Mama mengalami infeksi saat hamil, terlalu sering menggendong si Kecil, gangguan keseimbangan dan sensoris, kebiasaan menggunakan baby walker, menderita penyakit berat, ada kelainan fisik bawaan, dan tingkat kematangan sistem motorik yang memang terlambat atau saraf-saraf di pusat belum mencapai kematangan.

Untuk mengatasinya, Mama bisa mencoba mengajak si Kecil berjalan dengan cara menuntunnya perlahan; meletakkan mainan di posisi yang cukup jauh, sehingga memicu anak berjalan untuk menghampiri; hentikan penggunaan baby walker dan batasi durasi menggendong anak.

Itulah 5 red flags perkembangan motorik kasar yang perlu diwaspadai oleh Mama. Bila red flag tersebut masih belum teratasi, alangkah baiknya periksakan si Kecil ke dokter untuk mengetahui kondisi fisik dan mencari tahu penyebab serta tindakan yang tepat untuk mengatasinya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.