Indonesia dilaporkan menjadi negara dengan jumlah kasus campak tertinggi kedua di dunia dalam beberapa waktu terakhir. Situasi ini menjadi perhatian serius, terutama setelah pemerintah Australia melaporkan dua warganya terinfeksi campak setelah melakukan perjalanan dari Indonesia.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat sekaligus anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Anggraini Alam, menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2025 Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam jumlah kasus campak, berada di bawah Yaman. Pada tahun tersebut tercatat 11.094 kasus campak terkonfirmasi, dengan lebih dari 63.769 kasus suspek.
Memasuki awal 2026, penyebaran campak juga belum menunjukkan penurunan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 23 Februari 2026, terdapat 8.224 kasus suspek campak dan empat kasus kematian. Selain itu, tercatat 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak di 17 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi, dengan jumlah kasus terbanyak ditemukan di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru bagi orangtua, terutama yang memiliki bayi di bawah usia 12 bulan yang belum mendapatkan vaksin campak. Lalu, saat wabah campak meningkat, apakah vaksinasi dini aman untuk bayi? Berikut Popmama.com rangkum penjelasnya.
