Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Hal tentang Pendaki Australia Termuda yang Menaklukan Gunung Everest
Instagram.com/bianca_adler1
  • Bianca Adler, remaja 18 tahun asal Melbourne, mencetak sejarah sebagai pendaki Australia termuda yang berhasil mencapai puncak Gunung Everest pada Mei 2026 setelah persiapan panjang dan latihan intensif.
  • Sebelum sukses, Bianca sempat gagal mendaki tahun sebelumnya akibat cuaca ekstrem, namun ia kembali dengan persiapan fisik lebih matang dan pengalaman dari berbagai pendakian gunung tinggi lainnya.
  • Pendakiannya menghadapi tantangan berat seperti Khumbu Icefall, zona maut di atas 8.000 meter, suhu membeku, serta angin kencang hingga rambutnya membeku saat perjalanan turun dari puncak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mendaki gunung tinggi saja sudah bukan hal mudah, apalagi jika harus menaklukkan puncak tertinggi di dunia. Namun, hal itulah yang berhasil dilakukan Bianca Adler, remaja asal Melbourne, Australia, di usia yang masih 18 tahun.

Bianca baru saja mencetak sejarah setelah berhasil mencapai puncak Gunung Everest dan menjadi orang Australia termuda yang berhasil melakukannya. Perjalanannya pun tidak instan karena sempat gagal tahun lalu dan harus berjuang menghadapi cuaca ekstrem hingga suhu membeku.

Biar makin kenal dengan sosok inspiratif satu ini, berikut Popmama.com rangkum 5 hal tentang Bianca Adler, pendaki muda yang sukses menaklukkan Everest!

1. Bianca Adler menjadi orang Australia termuda yang mencapai puncak Everest

Instagram.com/bianca_adler1

Mount Everest bukan sekadar gunung biasa. Dengan ketinggian lebih dari 8.800 meter di atas permukaan laut, Everest dikenal sebagai salah satu pendakian paling berat dan berbahaya di dunia.

Di usia 18 tahun, Bianca berhasil mencapai puncaknya dan resmi menjadi pendaki Australia termuda yang menorehkan prestasi tersebut. Ia tiba di puncak pada Mei 2026 setelah perjalanan panjang dan persiapan berbulan-bulan.

Yang bikin kisahnya makin keren, Bianca sebenarnya sudah mencoba mendaki Everest tahun lalu. Sayangnya, saat itu ia harus berhenti hanya sekitar 400 meter sebelum puncak karena cuaca buruk yang terlalu berisiko untuk keselamatan.

Alih-alih menyerah, Bianca justru kembali mencoba tahun ini dengan persiapan yang lebih matang.

2. Tahun lalu sempat gagal, tapi Bianca memilih mencoba lagi

Instagram.com/bianca_adler1

Banyak orang mungkin akan trauma setelah gagal di pendakian ekstrem seperti Everest. Namun, Bianca justru menjadikan pengalaman tahun lalu sebagai pelajaran.

Sebelum akhirnya berhasil, Bianca memperkuat latihan fisik sekaligus adaptasi tubuh terhadap ketinggian. Ia bahkan mendaki beberapa gunung lain dan tidur di area puncak gunung tinggi agar tubuhnya lebih terbiasa dengan kadar oksigen tipis.

Bianca juga mengaku pengalaman adalah modal terbesarnya.

Meski usianya masih muda, ia ternyata sudah punya jam terbang tinggi di dunia pendakian. Sebelumnya, Bianca bahkan telah mencetak rekor sebagai perempuan termuda yang mencapai puncak gunung tinggi lain seperti Ama Dablam dan Manaslu.

3. Pendakian Everest bukan cuma soal capai puncak, tapi juga bertahan hidup

Instagram.com/bianca_adler1

Mungkin kamu berpikir tantangan terbesar Everest adalah sampai ke atas. Padahal, bagian tersulit justru sering terjadi selama perjalanan.

Bianca harus melewati jalur es berbahaya bernama Khumbu Icefall, area penuh bongkahan es raksasa yang bisa bergeser sewaktu-waktu. Jalur ini bahkan sering disebut sebagai salah satu bagian paling berisiko di Everest.

Selain itu, Bianca juga harus melewati “death zone” atau zona maut di atas 8.000 meter. Di area ini, tubuh manusia mulai kesulitan mendapatkan oksigen yang cukup dan risiko hipotermia, radang dingin, hingga kelelahan ekstrem meningkat drastis.

Karena alasan keamanan, para pendaki biasanya hanya bisa berada di area tersebut selama beberapa jam saja sebelum harus turun kembali.

4. Bianca mendaki di tengah suhu ekstrem dan angin yang sangat kuat

Instagram.com/bianca_adler1

Menurut cerita keluarganya, Bianca mencapai puncak Everest saat kondisi masih gelap demi alasan keselamatan. Dengan begitu, ia bisa bergerak lebih cepat tanpa harus terjebak antrean panjang para pendaki lain.

Sesampainya di puncak, Bianca mengaku tubuhnya sangat lelah. Cuacanya juga ekstrem dingin dengan angin yang kencang.

Meski begitu, ia tetap menyempatkan diri mengambil foto sebelum segera turun karena perjalanan turun gunung justru sering dianggap lebih berbahaya dibanding perjalanan naik.

Ibunya bahkan sempat mengingatkan bahwa mencapai puncak bukan akhir perjuangan. Tantangan sesungguhnya adalah kembali turun dengan selamat.

5. Setelah mencapai puncak, tantangan berikutnya justru turun dengan selamat

Di video yang dibagikan Bianca setelah pendakian, terlihat bagaimana kerasnya perjuangan turun dari Everest. Rambut Bianca tampak ikut membeku karena suhu yang sangat dingin di pegunungan tinggi.

Ia juga terlihat terengah-engah saat bergerak dan berbicara karena tipisnya oksigen di ketinggian ekstrem.

Meski sangat melelahkan, Bianca sempat menunjukkan momen menenangkan saat istirahat dalam perjalanan turun. Dari atas gunung, ia disuguhi pemandangan matahari terbit yang perlahan hilang di balik pegunungan Himalaya dan jadi salah satu momen indah setelah perjuangan panjangnya.

Nah, itu dia 5 hal tentang Bianca Adler, remaja 18 tahun yang berhasil membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk mengejar mimpi besar. Meski sempat gagal di percobaan pertama, Bianca memilih bangkit dan mencoba lagi sampai akhirnya berhasil mencapai puncak tertinggi dunia. Siapa tahu, kisah Bianca juga bisa jadi penyemangat buat kamu untuk nggak gampang menyerah saat mengejar tujuanmu, ya!

Editorial Team

Related Article