Ajarkan 5 Hal Ini Sebelum Anak Masuk SMP, Ajak Berani Beda Pendapat

Masuk jenjang SMP bukan cuma soal ganti seragam dan lingkungan sekolah baru, tapi juga babak baru dalam perkembangan emosional anak.
"Kata temanku..." kalimat ini mungkin bakal sering Mama dengar begitu anak menginjak bangku SMP. Rasanya wajar kalau ada kekhawatiran saat posisi Mama seolah "tergeser" oleh teman sebayanya.
Di fase ini, dorongan diterima oleh kelompok teman sebaya akan meningkat drastis. Supaya anak tidak gampang terbawa arus negatif dalam pertemanan, peran orangtua bukan lagi mengontrol 24 jam, melainkan menjadi tempat aman untuk berdiskusi.
Sebelum terlambat, pastikan Mama sudah membekali anak dengan 5 hal ini sebelum ia masuk SMP. Berikut sudah Popmama.com rangkum informasinya.
Table of Content
1. Berani beda pendapat

Magnific/magnific Keinginan untuk disukai dan diterima oleh temannya di jenjang SMP sering kali membuat anak merasa cemas jika memiliki pemikiran yang berbeda. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengedukasi anak bahwa memiliki selera atau pandangan yang berbeda dengan teman adalah hal yang sangat wajar.
Biasakan anak untuk menyuarakan pendapatnya saat berdiskusi di rumah. Misalnya, mulai dari memilih kegiatan akhir pekan. Kebiasaan ini akan melatih rasa percaya diri anak sehingga ia memiliki pendirian yang teguh dan tidak gampang sekadar mengekor teman.
2. Terbiasa bercerita tanpa dihakimi

Pexels/RDNE Stock project Sejalan dengan panduan positive parenting dari UNICEF, membangun hubungan yang hangat dan penuh rasa percaya adalah kunci pengasuhan anak remaja mama.
Ciptakan ruang aman di mana anak merasa didengar tanpa takut disalahkan atau dihakimi saat melakukan kesalahan. Ketika orangtua merespon cerita anak dengan empati dan diskusi yang tenang, anak akan merasa diterima secara utuh.
Sebaliknya, jika cerita anak selalu disambut amarah, anak tidak akan berhenti berteman. Melainkan berhenti bercerita kepada orang tuanya dan menutup diri dari rumah.
3. Tegas dalam aturan rumah

Popmama.com/Syiva Amalia/AI Di usia SMP, larangan perintah seperti "pokoknya tidak boleh" sudah tidak efektif lagi, Ma. Malah justru memicu rasa penasaran anak untuk melanggar.
Orangtua perlu menerapkan komunikasi terbuka dengan menjelaskan alasan rasional di balik setiap aturan yang dibuat. Misalnya adanya batasan jam pulang atau penggunaan gawai.
Ketika anak memahami konsekuensi logis di balik sebuah batasan, mereka akan mematuhinya atas dasar kesadaran diri.
Hal ini penting bukan sekadar takut dimarahi. Pemahaman ini menjadi modal penting bagi anak untuk tetap bisa menjaga dirinya sendiri saat berada di luar pengawasan orangtua.
4. Orangtua lebih kenal teman dekat anak

Pexels/Nicole Michalou Memasuki usia SMP, anak akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama kelompok pertemanannya, Ma.
Dalam hal ini orangtua perlu aktif mengenal siapa saja teman dekat dan apa yang sedang menjadi tren di dunia remaja. Langkah ini bukan untuk memata-matai secara berlebihan, melainkan bentuk kepedulian.
Cobalah sesekali menyambut teman-temannya saat bermain ke rumah atau mengobrol santai tentang aktivitas mereka. Ketika orangtua menunjukkan ketertarikan pada dunianya, anak akan merasa dihargai.
Komunikasi pun akan mengalir lebih hangat, sehingga Mama bisa lebih mudah memantau dan mendeteksi jika ada pengaruh yang kurang baik.
5. Ajarkan anak bisa bilang "nggak"

Popmama.com/Syiva Amalia/AI Memasuki dunia SMP, tekanan dari teman sebaya akan makin terasa. Dilansir dari Mind Matters Clinic, penting bagi orangtua melatih komunikasi asertif, yaitu keberanian anak menyampaikan batasan dan berkata "tidak" secara jujur tanpa bersikap agresif.
Mama bisa melatih anak remaja dimulai dari hal-hal kecil, seperti membiarkan anak memilih preferensinya sendiri. Ketika anak terbiasa membela dirinya dengan percaya diri, ia tidak akan mudah terbawa arus negatif.
Melalui pembelajaran ini, anak remaja mama tidak akan kehilangan harga diri, atau sekadar melanggar aturan keluarga demi diterima dan diakui dalam kelompok pertemanannya di sekolah.
Itulah 5 hal yang harus diajarkan oleh orangtua sebelum anak masuk SMP. Perubahan sikap anak yang lebih mendengarkan temannya adalah proses perkembangan yang alami.
Kuncinya bukan memperketat kekangan, melainkan memperkuat komunikasi asertif dan menjadikan rumah sebagai tempat paling aman untuk ia pulang. Semoga artikel ini bermanfaat.





















