Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

7 Alasan Tidak Memberikan Handphone ke Anak di Bawah 13 Tahun

Anak bermain game
Freepik/stockking
Intinya sih...
  • Otak anak di bawah 13 tahun belum siap kelola konten digital dengan baik

  • Handphone berdampak pada fungsi kognitif dan kemampuan berpikir kritis

  • Handphone mengganggu tidur, kesehatan fisik, prestasi akademik, dan membuat anak melewati banyak waktu bermain

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semakin banyak anak-anak yang sudah memiliki handphone pribadi. Mama merasa ini waktu yang tepat. Anak sudah "cukup besar", mulai butuh komunikasi mandiri, atau sekadar tidak ingin anak mama merasa tertinggal dari teman-temannya.

Tapi jarang disadari, satu keputusan kecil ini bisa mengubah cara anak berpikir, belajar, dan bersosialisasi dalam jangka panjang.

Data dari Bank Digital KPAI menunjukkan bahwa sebagian besar anak diizinkan menggunakan handphone selain untuk belajar (79%) dan anak memiliki handphone sendiri (71,3%).

Usia di bawah 13 tahun adalah fase krusial dalam perkembangan anak, baik secara fisik, kognitif, maupun emosional. Mereka belum sepenuhnya mampu menyaring informasi, mengendalikan emosi, dan membedakan mana yang aman atau berbahaya. Saat handphone masuk terlalu cepat, risikonya bukan hanya soal screen time yang berlebihan.

Berikut Popmama.com jelaskan 7 alasan tidak memberikan handphone ke anak di bawah 13 tahun.

Table of Content

1. Otak masih berkembang, belum siap kelola digital

1. Otak masih berkembang, belum siap kelola digital

Anak memegang buku
Freepik

Otak anak, terutama bagian yang berperan dalam pengambilan keputusan dan kontrol diri, belum berkembang secara optimal pada anak di bawah 13 tahun. Kondisi ini membuat anak belum mampu mengatur sendiri waktu layar, menyaring konten yang sesuai, atau menahan dorongan untuk terus mengecek handphone.

Penggunaan handphone yang terlalu sering tanpa didampingi orangtua dapat memengaruhi fungsi kognitif anak. Laman American Optometric Association mencatat beberapa konsekuensi serius, perhatian, pengambilan keputusan, dan kontrol kognitif berkurang; gangguan psikiatris; serta penipisan prematur korteks otak berdasarkan pemindaian otak.

Dampaknya terlihat jelas, yaitu penurunan konsentrasi belajar, kesulitan menyelesaikan tugas, dan gangguan dalam kemampuan berpikir kritis anak.

2. Sangat rentan terhadap tekanan pertemanan dan cyberbullying

Cyberbullying
Freepik/rawpixel.com

Di usia menjelang remaja, anak mulai sangat peduli akan tanggapan dari teman sebaya. Dan media sosial menjadi arena perbandingan yang toxic, siapa yang paling banyak likes, siapa yang paling populer, siapa yang terlihat paling sempurna.

Data Bank Digital KPAI menunjukkan bahwa "anak menggunakan gadget paling sering untuk chatting dengan teman 52%, nonton Youtube 52%, mencari informasi 50%, bersosial media 42% dan lainnya."

Anak di fase ini masih sangat bergantung pada respons sosial untuk membentuk rasa percaya diri. Interaksi sehari-hari seperti komentar dari teman, reaksi terhadap pendapat mereka, hingga diterima atau tidaknya dalam sebuah kelompok dapat memberi tekanan emosional yang belum sepenuhnya mampu mereka kelola sendiri.

Ketika interaksi tersebut berpindah ke ruang digital, risikonya bisa meningkat menjadi cyberbullying.

Di media sosial, komentar negatif, pengucilan dari grup, atau penyebaran foto tanpa izin dapat berdampak lebih luas dan meninggalkan luka emosional serta trauma jangka panjang pada anak mama.

3. Mengganggu tidur dan prestasi akademik

Anak mengantuk saat belajar
Freepik

Anak membutuhkan 9–12 jam tidur berkualitas untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Handphone di kamar tidur sering kali menjadi musuh utama kualitas tidur. Notifikasi yang terus berdatangan, paparan blue light yang mengganggu produksi melatonin, serta FOMO (fear of missing out) membuat anak sulit benar-benar beristirahat.

Kurang tidur tidak hanya berdampak pada performa sekolah, tetapi juga pada kesehatan fisik anak. Pola tidur yang berantakan dapat mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, sehingga meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan obesitas pada anak.

Di sisi akademik, penggunaan handphone yang berlebihan dapat membuat anak sulit fokus di kelas, menurunkan kemampuan mengingat pelajaran, dan berdampak pada hasil belajar. Mama tentu tidak ingin kualitas tidur, kesehatan, dan prestasi anak terganggu hanya karena handphone, bukan?

4. Melewati fase bermain yang tak tergantikan

Anak berinteraksi dengan teman sebaya
Freepik

Ini adalah masa terakhir anak benar-benar "menjadi anak-anak", berlari, bermain petak umpet, membuat kreasi dari barang bekas, berimajinasi tanpa batas. Ketika handphone masuk, semua aktivitas fisik dan kreatif ini tergantikan oleh scrolling, gaming, atau menonton video.

American Optometric Association mencatat bahwa gaya hidup tidak aktif akibat screen time memiliki konsekuensi perkembangan yang signifikan, seperti:

  • anak-anak cenderung tidak memiliki keterampilan

  • Kosakata terbatas

  • Keterampilan komunikasi kurang berkembang

  • Kontak mata berkurang

  • Keterlambatan perkembangan tercatat seiring meningkatnya penggunaan perangkat

  • Kreativitas terganggu karena screen time menghambat pemecahan masalah

Fase ini, jika dilewati, tidak bisa dikejar kembali di usia remaja atau dewasa.

5. Belum mampu menghadapi bahaya di internet

Anak menutup diri
Freepik

Rasa ingin tahu anak sangat tinggi, sementara kemampuan menilai bahaya masih lemah. Akibatnya, anak mudah terpapar konten yang tidak sesuai usia, seperti kekerasan, pornografi, atau informasi menyesatkan, tanpa memahami dampaknya.

Lebih berbahaya lagi, anak-anak menjadi target empuk predator online karena mereka belum bisa mengidentifikasi manipulasi, grooming, atau penipuan. Bahkan dengan parental control sekalipun, tidak ada sistem yang 100% efektif melindungi anak dari bahaya digital.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa anak sampai usia 10 tahun memerlukan pengawasan dan pemantauan untuk memastikan mereka tidak terpapar pada materi yang tidak sesuai. Orangtua sebaiknya menggunakan perangkat yang bisa membatasi akses terhadap isi, situs, dan aktivitas di dunia maya, serta secara aktif terlibat saat anak menggunakan internet.

6. Mudah kecanduan dan sulit lepas

Anak bermain handphone malam hari
Freepik

Yohana dari KPAI menyarankan agar setiap orangtua berperan aktif dalam mendampingi anak jika bermain handphone karena orangtua mempunyai tanggungjawab besar dalam mendampingi anak.

Selain itu, harus ada pengawasan yang ketat dari orangtua terhadap anak agar tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap proses tumbuh kembangnya.

Kasus nyata terjadi di Pangandaran pada September 2025, seorang siswi SD bernama Dela absen sekolah selama dua minggu karena kecanduan bermain game di handphone. Dela memiliki tiga unit handphone dengan spesifikasi tinggi dan lebih memilih mengurung diri di kamar.

Pola kecanduan yang terbentuk di usia ini cenderung terbawa hingga dewasa. Semakin muda anak terpapar, semakin dalam kecanduannya, dan semakin sulit proses rehabilitasinya kelak.

Kasus seperti Dela bukan lagi hal langka, semakin banyak anak yang kehilangan kontrol atas penggunaan handphone mereka.

7. Kehilangan keterampilan sosial tatap muka

Anak tidak berbaur dengan teman sebaya
Freepik

Berkomunikasi melalui chat atau emoji sangat berbeda dengan berbicara langsung, membaca ekspresi wajah, atau memahami bahasa tubuh. Anak yang terlalu banyak berinteraksi lewat layar kehilangan kesempatan mengembangkan empati dan keterampilan sosial yang sebenarnya.

American Optometric Association mencatat bahwa waktu layar yang berlebihan menyebabkan keterampilan motorik halus, kosakata, keterampilan komunikasi, dan kontak mata berkurang. Kemampuan ini sangat krusial untuk kehidupan masa depan anak, bekerja dalam tim, membangun hubungan sehat, menyelesaikan konflik secara konstruktif. Semua ini dipelajari melalui interaksi langsung di masa kanak-kanak, bukan melalui layar.

Jika kesehatan, emosi, prestasi, dan keterampilan sosial anak dipertaruhkan, apakah memberi handphone ke anak di bawah 13 tahun menjadi pilihan terbaik?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More

Kisah Inspiratif Afnan, Siswa 5 SD di Kalimantan Tembus Lari 5KM dengan Pace 3

07 Jan 2026, 15:53 WIBBig Kid