Anak 11 Tahun Belajar Servis HP, Cuan dari Jual Beli HP Second

- Seorang anak 11 tahun bernama Ryuji belajar servis HP secara otodidak dari YouTube dan memulai bisnis jual beli HP bekas setelah sering ditolak permintaannya oleh orangtua.
- Orangtua Ryuji tetap mendampingi setiap transaksi bisnisnya untuk menjaga keamanan, terutama setelah ia pernah mengalami penipuan saat membeli HP second secara online.
- Meskipun sempat gagal dan tertipu, Ryuji terus belajar hingga kini di usia 14 tahun masih menjalankan bisnisnya, menunjukkan kemandirian dan ketekunan sejak dini.
Berawal dari sering ditolak oleh Mamanya saat mau membeli sesuatu, seorang anak usia 11 tahun yang duduk di bangku kelas 6 SD justru punya hobi dan keahlian tak biasa yang membuatnya raih keuntungan.
Dalam akun Instagram @wibearwibear yang dibagikan sang Mama, diceritakan anak laki-lakinya yang akrab dipanggil Koko Ryuji ini menggeluti proses perbaikan HP yang dia lihat hanya dari tutorial di YouTube.
Alih-alih minta terus-menerus pada orangtua, ia justru memilih belajar otodidak dari YouTube, merangkai bisnis jual beli HP second atau bekas, hingga kini raih keuntungan sendiri, Ma.
Kisahnya yang dibagikan oleh sang Mama pun viral dan menuai pujian dari netizen. Yang menarik, semua langkah anak ini lahir dari inisiatif pribadi, bukan arahan orangtua, lho.
Bisa jadi inspirasi untuk anak remaja di rumah, berikut Popmama.com rangkumkan ulasn selengkapnya.
1. Memilih cuan sendiri karena sering ditolak permintaannya oleh orangtua

Cerita bermula dari keseharian yang mungkin familiar bagi banyak orangtua. Sang anak kerap meminta dibelikan ini-itu, tapi Mamanya lebih sering menolak.
"Minta beli ini itu ga bole sama emak, akhirnya ini yang dilakukan si anak," tulis Mama dari sang anak dalam unggahan yang dibagikannya.
Alih-alih ngambek atau diam saja, anak yang saat itu masih duduk di kelas 6 SD ini mengambil inisiatif tak terduga untuk mencari keuntungan dengan cara sendiri.
Tanpa disuruh, ia belajar memperbaiki HP secara otodidak dari tutorial YouTube. Setelah bisa servis, ia mulai merambah jual beli HP second dengan keliling mencari HP bekas, berani nego dengan penjual hingga deal, lalu membawanya pulang untuk diservis.
Setelah proses penggantian sparepart yang rusak, serta pengecekan kondisi yang dirasa sudah kembali bagus untuk dijual kembali, sang anak pun mulai memasarkannya di media sosial hingga akhirnya mendapat cuan sendiri.
2. Orangtua terus dampingi anak saat belajar bisnis

Meski anak ini sudah cukup lihai, ia bahkan posting jualan sendiri di Facebook hingga 60 grup dan bergabung di hampir 200 grup, tapi orangtua Ryuji tetap berperan aktif sebagai pendamping, bukan pengambil alih.
Saat ada transaksi COD (cash on delivery) dengan calon pembeli, Mama atau Papanya selalu menemani. Baik saat harus COD di rumah, atau di luar rumah.
Tujuannya jelas, Ma, untuk menghindari penipuan. Sebab sebelumnya, sang Mama bercerita bahwa putranya ini pernah mengalami pengalaman pahit.
Ia pernah ditipu saat beli HP second secara online, yang mana saat itu uang sudah ditransfer, tapi barang tidak pernah dikirim dan nomornya diblokir oleh penjual.
Tak sampai di situ, ia juga pernah mendapatkan barang zonk. Namun, hal ini tidak lantas membuatnya berhanti berbisnis sejak dini, Ma.
Orangtua nya justru hadir sebagai jaring pengaman, sehingga anak tetap merasa didukung namun tetap menjadi aktor utama dalam usahanya.
3. Biarkan anak belajar dari kegagalan
Salah satu hal paling berharga dari cerita ini adalah bagaimana anak tersebut tidak menyerah meski pernah gagal. Kena tipu? Dapat barang zonk? Ia jadikan pengalaman berharga, bukan alasan untuk berhenti.
Inilah yang bisa diteladani orangtua, jangan terburu-buru ingin menyelamatkan anak dari setiap kegagalan. Yang terpenting, kita terus ada mendampingi mereka.
Selain itu, apa yang dilakukan Ryuji untuk inisiatif berbisnis sejak dini juga patut diacungi jempol nih, Ma. Alih-alih terus merengek meminta dibelikan ini itu, ia justru mencari cara untuk bisa menghasilkan uang sendiri agar bisa membeli barang yang diinginkan.
Seperti Ryuji yang tidak pernah diarahkan orangtuanya, bahkan sang Mama dalam ceritanya mengaku tidak tahu dari mana ia mendapat ilham untuk cari uang sendiri.
Yang jelas, dari kegagalan demi kegagalan, ia terus belajar, beradaptasi, dan kini di usia 14 tahun kelas 2 SMP, bisnis jual beli HP bekasnya masih berjalan, lho.
Dari cerita ini, bisa kita pelajari bahwa menolak permintaan anak tidak selalu berakhir buruk, justru bisa menjadi pemicu tumbuhnya kemandirian.
Tugas orangtua bukanlah memenuhi semua keinginan anak, melainkan mendampingi saat anak mulai berani mengambil langkahnya sendiri, termasuk saat ia jatuh bangun membangun usahanya sejak dini.


















